
Kedua pasagan halal ini sudah menuju kamar dan istrahat setelah makan malam usai. Jaya tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Nazeera.
Diperlakukan seperti itu bila sudah ada cinta, merasa menjadi wanita yang paling beruntung.
Berbeda saat dulu, dipegang pasti ada unsur paksaan di dalamnya. Wanita ini flashback. Dimana, saat ada Jaya, suasana hatinya langsung berubah kesal dan tak karuan.
Mengingat semua itu, senyum indah terukir di wajah Nazeera hingga tiba di dalam kamar.
"Yank... Besok kita nikah yah?" Jaya memelas di hadapan istri.
Bukannya apa. Dia tidak tahan jika hanya bisa melihat, menyentuh tanpa bisa merasakan sesuatu yang indah.
Nazeera tersadar oleh suara bariton.
"Dari negara X kamu bawa pertanyaan itu sampai tiba di sini?" Nazeera dibuat geleng kepala atas perbuatan suaminya sendiri.
Wanita itu tertawa sambil membuka pintu kamar.
Ceklek
Mereka masuk ke dalam kamar. Lalu menutup pintu kamarnya kembali.
__ADS_1
"Yaa makanya jawab aku yank. Kamu kan belum menjawab. Makanya pertanyaan ini masih nyangkut ke tanah air."
"Hahaha... Kamu tuh ada-ada aja yah jawabannya."
"Besok yah?" Jaya berusaha bernegosiasi. Dia bertanya sambil menaikkan alisnya menunggu persetujuan.
Bukannya dulu Jaya orangnya suka semaunya? Kenapa sekarang mesti menuggu jawaban?
Nazeera heran sendiri atas perbuatan Jaya yang menurutnya sangat langka ini. Apakah ini efek dari amnesia?
Melihat Jaya begitu mengharap, Nazeera menarik nafas pelan. Dia hanya takut terhadap tuhannya. Dia juga wanita yang masih awam akan ilmu agama.
"Jay, aku capek. Kamu gak capek yah? Dari tdi ngajakin nikah terus." Nazeera ketus hanya karena takut dan gugup. Untuk pertama kalinya mereka tidur di mansion dengan status suami istri.
"Aku kan sudah jelaskan, aku ingin kita menikah ulang, kita menikah ulang bukan karena kamu pernah mentalak aku. Bukan. Tapi aku hanya takut, karena kita telah berpisah beberapa bulan tanpa ada kabar apapun. Aku tidak tau, dengan kembalinya dirimu, apakah kita masih sah atau tidak." Nazeera menjelaskan dengan deraian air mata. Dia memeluk erat Jaya erat.
Dengan berat hati, Jaya lagi-lagi harus bersabar.
Punya istri tapi sikecil masih puasa. Sabar yah sikecil.
Jaya merutuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku harap kamu setuju jika nikah ulang kita akan dilaksanakan besok."
Nazeera sangat malas untuk berdebat. Toh, semakin cepat juga lebih baik.
"I love you." Ungkap Jaya.
"I love you to." Balas Nazeera tersenyum.
Jaya berusaha tenang melihat senyum Nazeera begitu menggoda. Tangannya dia gunakan untuk menghapus sisa-sisa air mata wanitanya. "Will you mary me?" Ujar Jaya memegang kedua tangan Nazeera.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Nazeera mengangguk setuju. Dia jadi ingat saat pria di depannya mengajak menikah sewaktu di rumah sakit. Dia menerimanya karena Jaya sudah melihat tubuhnya, walau hanya separuh. Tapi itu bagi Nazeera, itu adalah aib.
Dan sekarang, Jaya kembali melamar Nazeera. Wanita itu sangat bahagia. Terasa ada beribu kupu-kupu yang beterbangan di dalam dada.
Melihat sang wanita mengangguk, Jaya langsung menggendong Nazeera kemudian berputar.
"Yesssssssss...." Ujar Jaya bahagia.
Jaya heran sendiri dengan dirinya, mengapa cintanya terhadap bcah kecil di hadapannya ini begitu besar. Malahan yang ada, semakin hari semakin bertambah pula cintanya. Dia tak ingin lagi meninggalkan istrinya.
Sekarang pria itu sudah mengingat sepenuhnya tentang masa lalunya sendiri. Dia mengingat perihal dirinya yang menikah atas dasar aib, bukan karena Nazeera mencintainya. Namun dia bersyukur telah menghilang beberapa bulan lamanya, hingga Nazeera dapat melihat sendiri bawa dia mencintai Jaya, Jaya Alfredo.
__ADS_1
Jaya tersenyum sendiri mengingat pernikahannya yang dulu, tanpa ada resepsi. Keburu insiden kecelakaan itu terjadi.
Sekarang, momen lamaran kembali terulang.