Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
BAB 86 DITINGGAL NIKAH


__ADS_3

"Saya masih ragu akan ucapan mu tempo hari." Ucap Nazeera memicingkan mata untuk memancing, apakah orang di depannya jujur atau tidak.


"Hahaha. Kau boleh saja tidak percaya pada ku. Sepertinya kau hanya akan percaya bila ada bukti."


Nazeera menahan tawanya. Sepertinya dia harus mengeluarkan isi berkasnya.


"Sudahlah, berikan saja pada ku hak anakku, maka aku tak akan meneror mu kembali. Secara aku adalah istri pertama dari Jaya." Ucap wanita itu melirik beberapa berkas di hadapan Nazeera.


"Sepertinya kau terlalu percaya diri." Tukas Nazeera melempar berkas di depan Lanri Lunch.


Prak


Lanri menggubrak meja tak terima perlakuan Nazeera.


"Permisi..." Pelayan datang menghentikan mereka.


"Silahkan!" Ucap pelayan kemudian berlalu. Padahal dalam hatinya sedang takut melihat interaksi mereka.


Mata Lanri kemudian menatap tajam Nazeera. "Kenapa kau bersikap seperti ini pada ku?! Bukan kah kau sekolah dengan lulusan sekolah terbaik?! Tapi kenapa sikap mu tak mencerminkan itu." Sarkas Lanri marah.


"Hahaha." Nazeera semakin tak kuasa menahan tawanya.


"Seharusnya kata-kata itu ku kembalikan pada mu." Lanjutnya di sela-sela tawa.

__ADS_1


Lanri mengepalkan tangan, dia menurunkan tingkat emosinya, takut jika apa yang diinginkan selama ini tak terwujud hanya karena amarah.


Dengan hati kesal, wanita itu membuka berkas, tak sabar untuk menandatanganinya. "Apa maksud mu ini?" Lanri langsung berdiri ingin merobek berkas itu.


"Itu adalah kenyataan tentang diri mu. Aku hanya memperlihatkannya kembali pada mu. Aku pikir kamu lupa tentang diri mu. Meskipun suami ku sudah tidak ada, namun aku mempercayai cintanya pada ku. Aku yakin bahwa dia tidak akan menkhianati ku." Uneg-uneg Nazeera sudah keluar, beban di kepalanya yang selama ini dia simpan. Rasanya sangat lega sekali.


"Mengenai anak yang kau maksud, saya akan tetap memberikannya pada mu, tapi..."


Lanri langsung menoleh, "Tapi saat anak itu sudah berusia 18 tahun."


Rencana yang di susun Lanri sia-sia. Dia berpikir bahwa istri Jaya akan menghiraukan kebenaran tentang dirinya. Kemudian akan memberikan apa yang ia minta.


"Pikiran mu sangat sempit." Tutur Nazeera tersenyum remeh. "Seharusnya, kau berhenti saja melawan oranv berkuasa. Bahkan untuk membuat mu hancur saat ini juga bisa aku lakukan." Lanjut Nazeera angkuh.


Sial. Kenapa aku tak memikirkan ini.


Sruuupp


Dia meminum minumannya, "Apakah lutut mu tak sakit? Kau minumlah dulu kemudian lihat kembali kebenaran berkas yang ada di situ."


Lanri mengikuti perkataan Nazeera. "Anak yang kau kandung bukanlah anak dari Jaya. Kau sungguh tak tahu malu. Suami ku hanya datang menolong mu, menemani mu untuk diperiksa karena kau malu bila ditanya mana suami mu, tapi kenapa kebaikan suami ku kau pergunakan dengan salah? Hah?"


Sekarang Nazeera menangis. Tapi nangis karena bahagia cinta Jaya padanya. Sekaligus tersirat kerinduan. Dia ingin melalui hal itu bersamanya, selamanya. Ditemani ke dokter kandungan, melihat hasil usg dari dokter. Jangankan mengandung, malam pertama saja belum dia lakukan.

__ADS_1


Semua iming-iming Nazeera sudah dilalui Lanri, dan dia cemburu kan hal itu.


Hikz hikz hikz


Tangisnya tersedu-sedu. Lanri sendiri bingung, kenapa Nazeera menangis sangat dalam.


Huft


Nafas berat dia hembuskan dengan kasar.


"Aku saja merindukan dia." Gumamnya menatap nanar wanita yang menangis.


"Minumlah dulu!" Ucapnya menyodorkan minuman.


Nazeera menoleh, dia tersadar bahwa dia menangis di depan orang yang salah.


Bersambung...


Semngaaattttt...


Terimakasih bnyak buat yang setia baca DN...


Maaf blm bisa istiqah dalam up... 💕💕💕

__ADS_1


jan lupa VOTE LIKE KOMEN


Salam pagi.... 💕💪


__ADS_2