Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ditinggal Nikah (DN)


__ADS_3

Wanita itu masuk setelah mendapat perintah. "Ded, persiapkan minuman untuknya." Nazeera berjalan menuju sofa.


Dug dug dug


Siapa wanita ini?  Kenapa dengan jantung ku?


Hening...


Tak ada yang memulai percakapan diantara mereka. Wanita yang ada di hadapan Nazeera tampak memperhatikan secara intens orang yang ada di hadapannya.


Ceklek


Hingga suara pintu membuyarkan lamunan mereka berdua.


"Silahkan!" Tukas Dedi setelah menghidangkan.


"Keluarlah! Saya ingin berbicara dengan nona ini." Tutur lembut tamu wanita itu.


Dedi menoleh pada Nazeera.


"Baiklah."


Siapa orang tadi?  Nona Nazeera baru dua hari di sini. Ada perlu apa wanita itu di sini?


Dedi bergelanyut dengan pikirannya sendiri hingga menabrak seseorang,  "Jalan hati-hati donk. Gak pakai melamun." Ketus Lika.


"Kau yang harusnya hati-hati di sini. Sudah tau  ini adalah jalanan, malah berdiri di sini." Ucap Dedi tak mau kalah.


"Hey tuan..." Seru Lika menunjuk Dedi dari atas hingga ke bawah. "Ini modal tampan dan juga oke, tapi kok otak masih otak udang."


Dedi melotot,  "Apa!" Tukas Lika berani. "Sebelum melotot, lihat dulu ini dimana, baru merasa benar,"


Sial!


Umpat Dedi ketika mengetahui bahwa dia masuk di ruangan yang salah.


"A-aku... Aku... Emm." Dedi bingung merasa malu. "Aku mau minta berkas tahunan." Alasannya.

__ADS_1


"Alasan aja. Itu sudah ada di meja bapak." Ujar Lika ketus.


Sepertinya otak ku harus di ruqyah sebelum ketularan otak bloonnya.


Gumam Lika keluar dari ruangannya sendiri menuju pantry.


"Aduh, kenapa akh jadi bod*h begini." Ujar Dedi menepuk dahi. "Bod*h, bodo*h, bod*h!" Kesalnya keluar dari ruangan Lika.


"Emang siapa yang bod*h, Pak?" Tanya seseorang yang baru keluar dari ruangan Nazeera.


"Kau!" Terang Dedi lantang karena masih kesal.


Setelah melihat lawan bicaranya, dia langsung membungkuk. "Maafkan saya, Nona.  Maksud saya... Kau... Emm, Kaula,  iya... Kaula yang bod*h."


"Lah, itu kan sama saja bahwa Anda mengatakan saya bod*h." Balas wanita itu tak terima. "Jaga sikap anda tuan."


Hah? Kaula. Astaga, pantesana aja,


"Nona, anda salah paham."


Dibalik pintu, seseorang sedang menyaksikan perdebatan tersebut sambil tertawa.


"Astaga... Mimpi apa diri ku semalam hingga menyaksikan drama siaran langsung begini."


"Apa?!" Pekik Dedi saat melihat Lika berdiri sambil tersenyum di depan pintu pantry.


"Gak ada, cuman ketawain nasib orang bod*h." Tawa Lika meledak.


"Kau...?" Geram Dedi merapatkan giginya.


Lika tak peduli, dia langsung berlarienuju ruangannya.


***


Sudah sore hari, tetapi Nazeera masih belum keluar dari ruangannya.


"Saya pulang duluan yah, Pak.  Permisi." Lika pamit.

__ADS_1


"Gak urus."


"Gak usah kegeeran, Pak. Saya sengaja ucapin itu agar bapak peka. Ini udah jam berapa? Waktunya pulang."


"Pulang saja sebelum pulang dilarang."


"Tanpa bapak suruh pun saya akan tetap pulang!" Lika mengambil kasar tas jinjingnya.


Lika menghentakkan kakinya kasar menuju lift. Entahlah, apa yang membuat suasana hatinya begitu buruk jika sudah bertemu dengan Dedi.


"Kenapa nona belum keluar dari ruangannya juga?"


Dedi merasa khawatir, bagaimana tidak?! Karena Tamar sudah menitipkan adiknya pada Dedi. Jika terjadi sesuatu, maka dia lah orang pertama yang akan di cari.


Tok tok tok


Dedi memberanikan diri mengetuk pintu.


Tak ada balasan dari dalam, "Nona?  Apa nda baik-baik saja"


Cekek


"Nona?!" Teriak Dedi.


Bersambung....


.


.


.


Hallo guys,  jan lupa buat masukin di rak dan juga komen like.....


vkte vote votevote komen like nya mana?????? banyak yg baca tapi jarinya kurang kencang buat like, apalagi komen dan vote.......


vote... vote..  mana voge nya..  hilzhikz _#

__ADS_1


__ADS_2