Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Patah Hati


__ADS_3

"Dad... Hahaha... Gue yakin, loe pasti bersembunyi kan?" Penyakit Al kembali kumat. Dia berlari ke kamar tuan Juventus.


"Dad... Keluar lah, Dad... Jangan bersembunyi lagi. Ngapain Daddy gak pernah nongol lagi di rumah sakit Al? Hahaha." Aldebaran bermonolog sendiri. Banyak yang menatap iba.


"Lanjutkan proses pemakamannya!" Titah Jaya tegas.


Nazeera mengikuti langkah Jaya saat Jaya ingin menyusul Al di kamar tuan Juventus.


"Keluarlah! Ayah akan segera dibawa ke pemakaman!"


Al tak menurut. Dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Kadang sadar, kadang juga tidak. Anggap saja bahwa dia gila. Padahal memang iya.


Jaya memapah Al dengan penuh kesabaran.


Sekarang. Disinilah mereka berada. Di sebuah pemakaman.


"Al..." Panggil Jaya. Semua orang sudah pulang. Nazeera sudah menunggu di mobil atas perintah Jaya.


"Ayo pulang!"


Jaya kembali memapah Al. Orang yang dipapah kembali menangis tersedu-sedu. "Dad..."


Jaya mengusap punggung pria itu layaknya seorang kakak yang memberikan ketenangan untuk sang adik.


Pihak rumah sakit dimana Al dirawat masih setia menunggu di kediaman tuan Juventus.


"Biarkanlah dia di sini dulu!" Titah Jaya pada salah satu anggota dari rumah sakit.


Ini adalah pertemuan pertamanya dengan anak tuan Juventus. Pantesan saja istri tuan Juventus sakit-sakitan memikirkan anaknya. Ternyata penyakit Aldebaran sangat memprihatikan.


Rumahnya mulai sepi. Jaya duduk di ruang tamu. Membiarkan Al berkeliling dirumahnya sendiri. Nazeera sudah berada di dalam kamar.


Anda siapa?


Aku adalah ayahmu. Nama mu Aldebaran, nak.


Senyum hangat dari tuan Juventus kembali terbayang.


"Nak, dia adalah ibu mu." Tuan Juventus memperkenalkan istrinya.

__ADS_1


"Dia sudah sembuh? Beneran Al ku sudah sembuh?" Sang ibu memeluk Jaya erat sambil menangis.


"Semoga kalian tenang di alam sana." Gumam Jaya. Dia menyusul sang istri.


Melihat wajah sang istri, bebannya seakan hilang.


Cup


Mencium dahinya saja seakan tak puas. Jaya membuka sepatunya kemudian menyusul Nazeera ke atas tempat tidur.


Satu tangan menopang kepalanya, dan tangan satunya mengusap wajah istrinya. Sesekali dia mencium wajah itu.


Lama kelamaan, Jaya menyusul sang istri ke alam mimpi. Pelukannya dia eratkan agar perasaan sedih atas kehilangan tak ikut larut dalam mimpinya.


"Mommy... Maafkan Al, mommy." Al berada di ruang pribadi tuan Juventus.


Sudut persudut dia sudah kelilingi. Karena lelah, dia langsung saja tiduran di atas lantai.


Dedi yang kewalahan juga tanpa pikir panjang ikut tidur di dekat Aldebaran.


Hidupnya sangat sedih atas nama cinta. Dia menjadi sosok pendiam setelah merasakan cinta, tak lagi pecicilan. Rasanya dia kehilangan banyak kosakata.


"Ya..."


Mungkin saja image nya setara dengan pelayan. Tiduran di lantai. Dedi tersenyum sinis. Bukannya bawahan emang seperti ini?


"Maaf tuan, kami harus membawa pasien kami."


Dedi mengangguk melihat ke arah Al yang tertidur dengan gaya tengkurap.


"Tunggu sebentar!" Dedi berdiri. Kemudian menuju ke kamar Jaya.


Saat tiba...


Ahhh... Jay... Geli...


Ahhh... Jay...


Nazeera merancau membuat Dedi memegang dadanya spontan. Rasanya sangat sakit. Bagian dalam seakan ada yang retak.

__ADS_1


Tangan yang tadi ingin mengetuk dia urungkan.


Diriku yang salah. Seharusnya aku tak mencintai nona Nazeera karena aku sudah tahu dari dulu bahwa dia istri tuan ku.


(Sabar yah Ded...)


Tak ingin lama-lama di sana, dengan cepat dia meninggalkan kamar tersebut.


"Bawa saja tuan Al."


Beberapa dari mereka membawa Aldebaran hingga naik ke mobil ambulans.


Sedang di dalam kamar...


"Jay, geli..." Suara berat Nazeera.


Bagaimana tidak, sedang Jaya mencicil Nazeera junior.


"Tahan sayang..."


Kulit Nazeera sangat sensitif. Baru juga di sentuh bagian tengkuk, dia sudah merasakan hal aneh dalam dirinya.


Nazeera menjadi was was. Jaya masih saja terus mencium dirinya. Mungkin saja dirinya sudah penuh dengan tanda percintaan di bagian leher.


"Jay... Aku sudah tak tahan..."


"Sudah, nikmati saja." Jaya tak ingin di ganggu.


"Jay... Beneran aku sudah tak tahan. Pengen pipis." Nazeera berusaha mendorong kepala Jaya.


Geeeerrr


Demi apapun, Jaya langsung tumbang seketika. Tidur langsung membelakangi Nazeera yang lari terbirit-birit ke arah kamar mandi menuntaskan hajat.


Bersambung....


Bukan perihal seseorang yang salah dalam mencintai seseorang. Bukan salah siapa-siapa jika kita mencintai. Tanyakan pada hatimu, mengapa kamu mencintainya.


Sakit mencintai tapi tak dicintai. Namun lebih sakit lagi ketika kita saling mencintai tapi tidak saling memiliki.

__ADS_1


salam dari green... lop yu ❤️❤️


__ADS_2