Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ditinggal Nikah (DN)


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal keberangkatan Nazeera dan juga Dedi ke negara X.


"Ded, menurut mu apakah aku menetap di sana?" Tanya Nazeera sambil melangkah memasuki helikopter yang sudah di siapkan oleh Dedi.


"Tanyakan saja kepada tuan Tamar, Nona. Sepertinya dia jauh lebih tahu sesuatu."


"Sudah ku duga kau akan berkata demikian." Balas Ketus Nazeera.


"Maafkan saya Nona. Saya hanya menjalani perintah!" Dedi menunduk setelah mempersilahkan Nazeera duduk.


"Sebaiknya kau diam saja. Aku tak ingin mendengar celotrhan mu lagi." Ujarnya mendudukkan dirinya kasar.


Apakah benar aku akan menjadi ahli waris dari suami ku?


Nazeera melamun memikirkan masa-masa daat bersama dengan suaminya.


Tuhan? Nyawa pun tak bisa untuk di beli. Andai kau memilihkan antara harta Jaya dengan hidupnya, maka aku akan tetap memilihnya. Aku merindukannya.


Dedi melambaikan tangan di depan wajah Nazeera.


"Nona? Hellow. Apa anda baik-baik saja?"


Pertanyaan itu dihiraukan oleh sang pemilik tubuh. Dengan segumpal keberanian, Dedi memegang tangan Nazeera.


"Jaya..." Ucapnya spontan saat merasakan sentuhan.


Blush


Perasaan Dedi langsung gusar merasa bersalah.


"Maafkan saya Nona!" Sesal Dedi.


Nazeera menatapa laki-laki di depannya.


Aku dangat merindukan mu Jay.


Nazeera tersenyum getir di hadapan Dedi.


"Istrahatlah!" Serunya malas.


***


"Nona? Apakah anda baik-baik saja?"


Dedi khawatir atas sikap wanita itu selama di negara X.


Nazeera duduk dengan anggungnya di meja Ceo sekaligus kursi direktur, pemilik perusahaan raksasa sedunia.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang akan aku lakukan setelah ini?" Ketus Nazeera merasa lelah dengan pekerjaan yang dia hadapi.


"Anda hanya perlu mengecek kembali berkas yang ada di sini!" Tunjuk Dedi. "Setelah itu berikan tandatangan di sini."


Nazeera dengan patuh menuruti perintah Dedi.


"Sebaiknya kau saja yang jadi bos." Gumam Nazeera merasa bosan dengan berkas di hadapannya.


Gumamnya tak terdengar oleh Dedi.


Dring dring dring


"Ya, halo. Baiklah." Jawab Nazeera.


"Ded..." Panggil wanita itu setelah mematikan panggilan.


Dedi mengusap tekuk lehernya, "Nona, bisakah saya meminta sesuatu?"


Nazeera mengerutkan kening, "Apa? Kau mau cuti? Bukan kah Bang Tamar meminta untuk..."


"Bukan itu nona." Dedi langsung gusar. "Maksud saya, boleh kah nona berhenti memanggilku dengan singkatan Ded?" Pinta Dedi merasa tak enak.


"Kenapa?" Tukas ketus Nazeera.


"Kalau memanggil dengan singkatan seperti itu saya terasa dipanggil Ayah (Daddy-Dad)."


"Ha... Haha..." Dedi tersenyum kikuk saat melihat tatapan kesal wanita itu.


"Maaf nona. Sekali lagi maafkan saya." Ujar Dedi mulai takut.


"Pergilah!" Seru wanita itu melambaikan tangan, "Oia, emm... Gak jadi."


Dedi mengangkat alisnya sebelah.


Dasar! Bos aneh.


"Jangan mengumpat ku dalam hati." Terang Nazeera sambil fokus ke berkas di hadapannya.


Dedi keluar dari ruangan itu, dengan waktu yang bersamaan, pintu terketuk.


"Masuk...!" Jawab Nazeera.


Dua orang masuk dalam ruangan itu. sebelum berbicara, wanita bertubuh seksi sedikit membungkuk.


"Nona, wanita ini ingin bertemu dengan Anda." Ujar Lika sebagai sekretaris Jaya semasa hidupnya di negara X.


Nazeera menoleh, kemudian diam. Tiba-tiba Dia teringat sesuatu.

__ADS_1


Bukan kah dia wanita yang ada di dalam foto itu.


Batinnya.


Dedi berdehem untuk membuyarkan lamunan nona nya.


"Hem, si-silahkan masuk." Titah Nazeera gugup. Dia takut untuk menghadapi kenyataan yang belum siap untuk dia terima.


Wanita itu masuk setelah mendapat perintah dari sang direktur. Begitupula dengan Lika. Dia pamit setelahnya.


"Saya jugapermisi, nona." Izin Dedi membungkuk.


"Mau kemana? Cepat persiapkan minuman untuknya." Nazeera melampiadkan kegugupannya di hadapan Dedi.


Tuan Jaya... Istri mu sangatlah menggemaskan, sampai-sampai alu ingin mencekiknya agar cepat menyusul pada mu.


Padahal dia sendiri yang menyuruh ku agar keluar dari sini. Bukannya itu adalah tugas OB?


Dengus batin Dedi.


"Apa yang kau lakukan? Kau lupa arah pantry?" Sindir Nazeera seorah mengetahui jalan pikiran Dedi.


Baiklah nona. Kau lah ratunya.


Dedi keluar dari ruangan itu dengan sejumlah rasa takut sekaligus penasaran.


Dug dug dug


Siapa wanita ini? Kenapa dengan jantung ku?


Hening...


Tak ada yang memulai percakapan diantara mereka. Wanita yang ada di hadapan Nazeera tampak memperhatikan secara intens orang yang ada di hadapannya.


Bersambung...


.


.


.


Sabar yah sabar... ini ujian..


jan lupa tinggalkan jejak berupa komentar dan like yah..


komentar komentar komentar guys... biar makin semangat up nya.

__ADS_1


mohon maaf jika ada typo yah...


__ADS_2