Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Kedatangan Miko


__ADS_3

"Hah?! Jadi dia punya saudara?"


Nazeera mengangguk. Dia menelepon ulang panggilan tak terjawab.


"Jay, ngak ada pulsanya. Sini hp mu."


Jaya langsung mengangkat Nazeera, "Jay, kenapa sih kamu hobi sekali menggendong ku tanpa meminta izin dulu. Kebiasaan buruk mu masih saja ada sampai sekarang. Bahkan sewaktu aku kecil kamu juga sering kek gini." Gerutu Nazeera hingga kembali meletakkan Nazeera ke sofa dekat tempat tidur Mitha.


Jaya tak membalas ucapan Nazeera dia hanya terkekeh. Entah apa yang membuat dia senang selalu menggoda mau pun menggendong Nazeera secara tiba-tiba.


Jaya memajukan wajahnya, dengan cepat Nazeera berpaling. "Apa yang kau lakukan? Bukan kah kau sudah berjanji bahwa tak akan melakukan apapun sebelum menikah?" Ujar Nazeera mengingatkan.


Jaya mendengus kesal, sepertinya dia harus cepat-cepat membuat Nazeera jadi miliknya. Hingga tak ada lagi batasan atau aturan apapun dari wanitanya.


"Cepat!! Mana ponselmu!" Nazeera mengulurkan tangannya.


"Kalau ngak mau, ambilkan ponsel ku." Lagi-lagi Nazeera kesal dengan tingkah Jaya yang menurutnya sangat aneh.


Jaya menyerahkan ponselnya, kemudian mengetik nomor seseorang yang ada di ponsel Mitha.


"Halo."


Bismillah. Semoga saja abangnya tidak marah. Aduh, aku ngak tau harus mulai dari mana ngomongnya.


Gumam batin Nazeera.


Jaya langsung mengambil ponsel di telinga Nazeera saat melihat wanita itu tengah berpikir.


"Halo, selamat siang. Apakah betul ini adalah saudara Mitha?"


"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa?"


"Maaf, Pak. Saudara Anda kecelakaan dan sekarang lagi di rumah sakit Citra Mediaka. Sebaiknya Anda segeralah kemari di kamar VIP."


Jaya langsung mematikan ponselnya setelah itu. Nazeera sendiri tidak percaya apa yang dikatakan oleh Jaya.


Dring dring dring


Ponsel Jaya kembali berbunyi, "Halo."


"Nazeera dimana? Kenapa dia ngak ada di ruangannya?" Pekik seseorang di seberang telepon.


"Hem, di samping ku. Kamu ke ruang sebelahnya saja. Kami ada di sini."


"Dari siapa?" Tanya Nazeera saat mematikan panggilan itu.


"Ayu." Serunya malas.


Ceklek


"Zee...!!! Apa yang telah terjadi pada mu? Kenapa bisa seperti ini?" Ujarnya heboh dan mendapatkan tatapan tajam dari Jaya.


"Ngak usah dekat-dekat, dia lagi sakit." Tegur Jaya.


Nazeera langsung menceritakan semua yang telah terjadi. Di saat itu langsung memberikan tatapan tajam ke arah Jaya.


"Dasar tak tahu diri. Bukannya kamu mau pergi? Yasudah pergi saja. Gara-gara kamu mereka jadi terluka." Ayu marah.


"Siapa kamu!!! Saudara bukan." Ketus Jaya membuat Ayu langsung tak berkutik.


Sudah berapa kali kamu memperlakukanku seperti ini?! Lihat saja kamu akan aku merasakan pembalasan ku.


Batin Ayu kesal.


Jaya sudah keluar dari ruangan itu karena mendapatkan panggilan.

__ADS_1


"Yu, tolong bantu aku ke kamar mandi yah!" Seru Nazeera.


Ayu langsung melihat ke bagian kaki Nazeera. Di sana terdapat luka terbalut perban.


"Yasudah. Sini aku bantu." Ayu mengulurkan tangannya.


***


Ceklek


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Nazeera dan juga Ayu.


Prak


Pria itu langsung menampar Nazeera.


"Apa yang kau lakukan terhadap adikku? Mengapa dia bisa seperti ini?!" Bentak pria itu.


"Mi-miko, biar aku jelaskan dulu." Nazeera sedang memegang pipinya yang lebam ditambah lagi dengan tamparan Miko yang teramat keras.


"Apa yang bisa kau jelaskan setelah adikku seperti ini?" Emosi Miko sudah memuncak melihat adiknya terbaring.


Prak


Ayu menampar Miko. "Apa yang kau tau sebelum ada penjelasan? Hah?!" Bentak Ayu.


"Lalu apa ini semua? Bukan kah kalian semua..."


Brug


"Dasar sialan!!! Apa yang kau lakukan terhadap calon istri ku?"


Brug


Miko tak kuasa menjawab akibat Jaya terus memukul.


Semua mata memandang ke sumber suara. "Mitha..." Ucap Miko.


"Mit, kamu baik-baik saja kan?" Ucap Nazeera khawatir. Dia ingin berjalan menuju tempat tidur Mitha, namun kakinya masih sakit.


"Loe jangan sentuh dia." Larang Miko sambil menunjuk.


"Bang... Gue baik-baik saja." Ujarnya merasa sehat. Padahal dirinya pun kaget saat bangun untuk menggerakkan kakinya namun tak bisa. Badannya terasa sakit untuk digerakkan.


Perawat baru tiba untuk melerai pertengkaran mereka. "Apa yang kalian lakukan?! Sebaiknya kalian keluar karena ini bukan tempat pertunjukan. Biarkan pasien beristirahat!" Ujarnya.


Dokter datang memeriksa keadaan Mitha.


"Ada apa, bos?" Tanya Dedi yang baru saja tiba.


"Loe?" Kaget Miko melihat Dedi.


"Maaf, bukannya kamu yah yang kemarin itu?" Tunjuk Dedi menebak.


"Terimakasih yah." Dedi melihat ke arah Mitha. "Berkat mu, sekarang dia sudah sadar." Lanjutnya.


"Sialan." Pekik Miko.


Miko ingin maju dan menghajar Dedi. "Bang...!" Suara lemah seseorang menghentikan langkahnya.


"Sebaiknya kalian keluar!" Titah dokter.


"Saya tidak bisa memeriksa keadaan pasien jika kalian masih di sini." Ujarnya mengusir.


Nazeera sudah berdiri dengan dipegang oleh Ayu. "Zee, sebaiknya kita keluar saja." Ayu merasa kasihan saat melihat wajah Nazeera yang tampak memar.

__ADS_1


Nazeera mengangguk, wajah Jaya sangat murka. Wajahnya merah padam. Andai bukan di rumah sakit, mungkin dia akan menghantam Miko habis-habisan.


Dedi ikut bersama mereka, dia bertanya-tanya sendiri apa yang telah terjadi. Ada apa Antara Miko dan juga Mitha.


Saat tiba di ruang Nazeera tempat dia dirawat Dedi bertanya, "Bos, Mitha dan Mik-"


"Sebaiknya kalian keluar!" Titahnya dengan suara dingin dan datar. Dia berusaha menahan amarah. Apapun yang terjadi.


Ayu jadi takut sendiri, begitupula dengan Dedi. Mereka keluar secara bersamaan.


"Nona, sebenarnya antara Miko dan juga Mitha itu-"


"Dia saudaranya." Jelas Ayu singkat, padat dan jelas.


"Hah?! Jadi..."


Ayu mengangguk, "Sebaiknya saya pulang lebih awal, Tuan. Sampaikan salam ku pada Nazeera." Ayu menunduk sopan kemudian pergi.


Sedang di kamar Nazeera, "Jay, sebaiknya aku pakai kursi roda saja. Jangan menggendong ku."


"Zee, ku mohon! Kali ini aja kamu nurut dan tidak membantah sedikit pun. Aku tak akan menyakiti mu karena aku sayang sama kamu." Ujarnya pelan namun menekankan setiap kata-katanya.


Sebenarnya Nazeera sangat ingin menangis atas perlakuan Miko, yang tiba-tiba datang langsung menampar tanpa meminta penjelasan lebih dulu.


Jaya menggendong Nazeera, "Ded, loe ambil semua barang-barang Nazeera di dalam." Jaya melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Dedi.


Banyak orang-orang yang cemburu atas perlakuan Jaya pada Nazeera. Mereka juga tampak berangan-angan untuk mendapatkan calon seperti Jaya, yang bersikap romantis.


Nazeera hanya menutup wajahnya malu di dada Jaya. Dia tak ingin melihat orang-orang yang sedang memperhatikannya.


"Jay?" Panggil Nazeera saat tiba di dalam mobil.


"Hem." Ujarnya sambil menutup pintu mobil.


"Apakah kamu tadi marah atas perbuatan Miko?"


"Sebaiknya kamu istirahat." Jaya menarik kepala Nazeera agar bersandar di bahunya.


Tak lama kemudian Dedi sudah tiba di dalam mobil. "Kita ke rumah bunda!" Seru Jaya.


"Aku mau di rumah saja. Jangan di rumah bunda."


"Kalau kamu ingin di rumah mu, maka jangan salahkan aku untuk menemani mu di sana karena tak ada yang menjaga mu."


"Ada Onni kok di sana." Nazeera membela diri.


"Tetap di rumah bunda!" Seru Jaya dengan menaikkan intonasi suaranya.


Dasar keras kepala! Maunya semaunya. Sedang belum ada status saja sudah mengatur, bagaimana kalau sudah nikah?! Rutuk batin Nazeera.


Seharusnya Anda bersyukur Nona, karena dicintai oleh orang seperti Jaya. Meskipun agak sedikit gila.


Batin Dedi.


Bersambung...


.


.


.


Jan lupa Like vote and komen yah💕


Mampir ke karya ku juga yah yang satunya.

__ADS_1


- Senior, Aku Padamu 💕


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2