
"Zee..." Sapa wanita itu dibalik pintu.
Nazeera masih mempertahankan sifat dinginnya. Ekspresi wajahnya semakin tak tertebak. Dia sedikit melirik di perut buncit wanita itu. Hatinya semakin panas.
"Beri saya jalan." Ketus Nazeera. Dia ingin melewati mereka.
"Kenapa ka_" Nazeera menoleh pada suara bariton yang sangat dia kenal.
Pandangan mata mereka berdua bertemu. Di mata pria itu, ada sejuta rasa rindu yang ingin dia ucapkan. Namun tidak dengan Nazeera, dia hanya malas. Tak seperti dulu saat pertama kali mengetahui pernikahan mantannya itu.
"Mas!" Panggil Maya.
Ya. Mereka adalah Maya dan Akhyar. Lamunan Akhyar ambyar. Pria itu menggeser dan memberi Nazeera ruang untuk lewat.
Tanpa sepatah katapun, Nazeera melenggang pergi. Namun, ada yang mengganjal di pikirannya saat melihat perut Maya.
"Sepertinya ada yang aneh. Bukannya pernikahan mereka baru beberapa bulan yah? tapi kenapa perutnya sudah besar sekali." Gumam Nazeera.
Maya dan Akhyar menjenguk Ayu. Saat Maya mengetahui kabar sang sahabat, dia sangat nekat untuk menjenguk, melihat keadaan Ayu.
Maya langsung masuk dengan kekecewaan karena Nazeera melaluinya begitu saja. Akhyar hanya menatap sendu punggung mantan kekasihnya itu. Ada rasa sedih yang dia rasakan melihat Nazeera acuh begitu saja.
Apakah kamu sudah tak ada rasa cinta untuk ku?
"Mas..." Panggil Maya dikala dia menoleh ke arah pintu tetapi Akhyar masih berada di sana. Rasa kecewa adalah makanan sehari-harinya.
***
Di sisi lain, Tamar merasa sangat bersalah.
Hatinya selalu berkata, "apakah ini karma?" Oleh karena itu, dia menyuruh Alber untuk menjemput Ayu.
Kehilangan buah hatinya yang pertama, adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
"Arggggggghhhhh." Tamar menghancurkan semua barang-barang yang berada di dalam ruang kerjanya.
Alber yang terkejut langsung masuk ke dalam ruangan sang bos.
hikz hikz hikz
"Anak gue... Anak gue gak ada." Gumam Tamar frustasi dibalik meja kebesarannya.
"Tuan." Alber memapah sang tuan untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Gue ayah yang kejam. Karmanya ke anak gue. Anak gue gak ada."
hikz hikz hikz
"Gue bahagia, sebentar lagi gue akan jadi ayah. Tapi kebahagiaan itu hilang disaat gue dengar istri gue keguguran. Gue benci diri gue sendiri."
hikz hikz hikz
"Tuan, silahkan di minum dulu." Alber menyodorkan segelas air.
(Kok gue baper sendiri yah. gue nangis dengar Mitha keguguran)
Tamar tak bergeming, pandangnya lurus ke depan. Alber merasa iba terhadap tuannya. Dia sendri tahu, bahwa Tamar seperti ini karena keegoisannya. Tidak ingin terbuka dan mengungkapkan perasaannya terhadap Mitha, istrinya sendiri.
"Maaf..." Dokter keluar dari ruangan ICU. "Kita harus segera melakukan tindakan. Jika tidak, maka kita akan kehilangan dua nyawa, yaitu sang ibu dan janinnya. Saya akan segera mengeluarkan janin yang dikandung oleh saudara Mitha."
Deg
Bagai disambar petir, kabar yang tak pernah Tamar bayangkan sebelumnya. Dia langsung membeku. Tanpa sepatah kata dia lontarkan.
Melihat itu, Muse bergegas mengambil tindakan. Sedangkan Nazeera menangis sejadi-jadinya di pelukan sang bunda.
Banyak para dokter untuk mendorong Mitha menuju ruang operasi. Tak banyak yang bisa Muse katakan saat ini. Dia juga turut berduka atas kehilangan calon cucunya.
Dia merenungi rasa bersalahnya. Hingga tanpa sepatah kata dan orang lain sadari, dia pergi dari rumah sakit menuju kantor.
Alber menatap iba tuannya, dia menepuk pundak Tamar. Dia terpaksa memberikan pil obat tidur ke dalam minuman itu.
huft
Alber menarik nafas panjang setelah Tamar tertidur. Dia melihat sekelilingnya sudah hancur berantakan. Setelah melihat keadaan, dia sudah mengerti bahwa semalam Tamar berada di kantor. Alber mengambil ponselnya dan menghubungi dokter.
***
"Mit... Gue mohon, maafin gue..." Nazeera merasa bersalah. Tamar Masih belum kelihatan atau sekedar bertanya kabar Mitha. Nazeera sendiri takut untuk menatap Tamar.
Tik tik tik
Untuk kedua kalinya, Mitha dirawat di rumah sakit.
hikz hikz hikz
Nazeera mengingat kenangan bersama sang ipar. "Loe udah dua kali di rawat di rumah sakit, yang pertama karena loe nolongin gue. Dan sekarang loe seperti ini karena syok atas kebenaran tentang suami gue."
__ADS_1
Nazeera menggenggam tangan Mitha. "Gue tau, Loe wanita kuat. Gue mohon, sadarlah."
Tok tok tok
"Permisi."
Buru-buru Nazeera menghapus air matanya.
"Iya..."
"Saya akan memeriksa keadaan pasien."
Nazeera menanggapinya dengan anggukan. Suaranya serak untuk bersuara. Kemudian dia menuju toilet.
Bang, maafin Zee. Gue gak tau, sakit yang mana, kehilangan calon anak atau kehilangan suami. Bahkan merasakan pengantin baru tak aku rasakan bang. Jaya ninggalin aku.
Tiba-tiba Nazeera menghentikan tangisnya. Dia teringat akan sosok pria yang mirip dengan Jaya, yaitu Aldebaran.
"Enggak. Dia pasti masih hidup. Suami ku masih hidup." Nazeera membersihkan wajahnya.
"Loh, Zee. Kamu ada di sini, Nak?" Sapa Raha saat Nazeera keluar dari toilet.
"Hah?" Wanita itu tersentak kaget.
"Bunda! Bunda kapan datang?"
"Baru aja. Tadi ada yang memeriksa Mitha, katanya sebentar lagi Mitha akan sadar. Ini semua masih dalam pengaruh bius."
Nazeera mengangguk. "Bun. Zee pamit dulu yah. Ada yang Nazeera harus kerjakan."
Raha mengangguk. Kemudian dia mencium putrinya. "Take care, nak."
***
Diperjalanan menuju parkiran, tiba-tiba Nazeera ditarik oleh seseorang.
"Hey!!! Apa yang kau lakukan?!" Nazeera membentak pria yang menyeretnya. Banyak perawat melihat mereka, tapi pria itu abaikan begitu saja.
"Lepasin!" Nazeera berusaha melepaskan genggaman pria itu.
"Apa yang kau lakukan Mas?" Pria itu tetap saja kekeh membawa Nazeera menuju parkiran dimana mobilnya berada. "Mas! Ini salah! Apa yang ingin kau lakukan?"
Dibalik kejadian itu, Maya juga melihat apa yang suaminya lakukan. "Maafkan aku mas! Aku merusak semua kehidupan mu." Maya mengusap perutnya yang buncit.
__ADS_1