
Emosi Jaya semakin memuncak.
Sial. Kenapa selalu si brengs*k itu yang dia sebut? Umpat batinnya.
Jaya keluar dari mobil dalam keadaan acak-acakan. Tidak memperdulikan wanita yang berada di mobil.
Hah, kenapa aku sangat emosi seperti ini. Jaya mengacak kepalanya frustrasi, dia memegang pangkal hidungnya yang tampak berkaca.
"Tolong....!!!" Seru Nazeera mengetuk kaca mobil.
Jaya menoleh, "Aku harus bagaimana sekarang?!" Gumam Jaya menghisap rokoknya.
Sedikit lagi aku akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara, tetapi gara-gara nama si breng*ek itu, naluri ku jadi tertahankan. Jaya menyembulkan kembali rokoknya.
Dia meraba saku celananya, kemudian menghubungi seseorang. Di tempat itu sangat sepi, jarang sekali orang-orang akan berhenti sejenak menikmati sejuk alam nan indah. Hingga yang menemani Jaya hanyalah suara angin dan kicauan burung.
Jaya membuka pintu mobil Nazeera, dia menelan salivanya kasar melihat baju Nazeera yang sebagian tidak utuh lagi, seperti tindakan pemerkosa*n. Wanita itu mengetahui ada orang yang membuka pintu, langsung meraba dada lelaki itu. Mata yang tampak memerah karena menahan nafsuh k****** nya.
Ohh God, help me. Bocah ini membuat ku frustrasi saja. Keluh Jaya.
Jaya membuka Jaz nya, sedang Nazeera tangannya masih gencar meraba tubuh pria di dekatnya. Nazeera tampak menggeliat, "Tolong aku..." Ucapnya lirih.
Jaya seakan menutupi tubuhnya, menghiraukan apa yang dikatakan oleh Nazeera. Kemudian dia memasang jaz nya pada tubuh Nazeera, "Jangan...!!! Badanku sangat panas." Ucap Nazeera setengah sadar menahan tangan Jaya.
Nazeera meninggalkan bekas merah di dada putih pria itu, "Berhenti bertingkah gadis bodoh!!! Atau aku akan melakukannya demi nafsuh bej** mu semata?!" Gertak Jaya.
Nazeera tidak menghiraukan ucapannya, membuat Jaya tak habis pikir. Jaya mengangkat tubuh Nazeera ke job belakang. Berharap tak melihat lagi tubuh Nazeera dan memancing bira*inya kembali.
Di luar dugaan, di saat Jaya membaringkan tubuh wanita itu, Nazeera menarik tekuk leher Jaya, mengajaknya untuk bercumbu, sedangkan kedua kaki Nazeera merengkuh tubuh Jaya dengan sangat erat hingga Jaya junior menempel erat di bagian bawah Nazeera. Wanita itu menggesek-gesek tubuhnya untuk memenuhi hasrat.
Aaghhhh ughhh
Lagi-lagi Jaya terbawa arus akan permainan wanitanya, berbagai desahan memenuhi mobil itu. Jika tampak dari kejauhan, banyak orang yang mengira mobil itu sedang dangdutan, bergoyang ke kiri dan ke kanan.
Emosi Jaya lebih besar daripada nafsunya, hingga dia memilih mengehentikan permainan itu yang sebentar lagi akan membobol gawang, karena Nazeera lagi-lagi menyebutkan nama Akhyar.
Dengan kasar, Jaya mengikat tangan dan kaki Nazeera dengan baju dan dasinya. Dasi digunakan untuk mengikat tangan wanitanya, sedangkan kemejanya dia lepas untuk mengikat kaki Nazeera.
"Yar, aku sangat menginginkan mu." Berbagai kicauan dari mulut Nazeera yang membuat Jaya tampak sangat emosi.
Prak
Jaya menutup pintunya kasar saat duduk di kursi sopir, menyembulkan asap untuk pelampiasan dalam amarahnya.
Siapa yang berani-beraninya memasukkan sesuatu ke dalam makanan Nazeera. Akan aku balas semua ini. Dendamnya membatin.
Kini tibalah di rumah milik Jaya, rumah yang sangat besar dihuni oleh berbagai manusia di dalamnya. Saat mereka mengetahui tuannya telah datang, mereka berbaris menyambutnya dengan wajah yang menunduk.
__ADS_1
Jaya mengangkat tubuh wanitanya yang masih saja asyik bermain pada tubuh Jaya. Tangannya sudah diikat, akan tetapi kepalanya yang masih saja dia gesekan di deda Jaya yang tak berbalut pakaian.
"Mana obat yang ku pesan?" Ucapnya sangat kasar. Mungkin saja karena wanita itu.
Pelayan itu gemetar menyerahkan botol kecil, "I-ini Tuan."
"Jangan ada yang menganggu ku." Titahnya melangkah pergi.
Jaya sudah tiba di kamarnya, kemudian menyimpan wanitanya yang masih saja agresif. Suara desahan seringkali membuatnya terpancing, namun nama Akhyar yang sering Nazeera sebut saat di mobil selalu terdengar jelas ditelinganya.
Tak lama kemudian, dia memasukkan obat itu ke dalam mulut Nazeera. Berhasil! Wanita itu tampak lebih tenang dari sebelumnya, kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Dia melepaskan ikatan ditangan dan juga dikakinya. Hingga tidur dengan telentang di tengah tempat tidur king size.
"Cari tahu siapa yang memasukkan obat per*nsang ke dalam minuman ataupun makanan Nazeera!!!" Serunya saat panggilan terhubung. Kemudian mematikan panggilannya tanpa menunggu suara seberang sana.
Jaya kembali melihat ke arah Nazeera, wajahnya kembali memerah karena telinganya masih saja tergiang dengan nama Akhyar.
Bren*sek. Siapa yang berani memasukkan obat itu?! Kurang ajar!!!
Jaya sangat marah, kemudian keluar dari kamarnya tak memperdulikan Nazeera lagi yang tidur tanpa memperbaiki posisi tidurnya.
Di saat membuka pintu, seorang laki-laki yang langsung menghajar nya habis-habisan tanpa ampun. Hingga berangsur mundur memasuki kamar Jaya lagi secara perlahan.
Brug
"Apa yang kau lakukan kepada adik gue sialan?"
Brug
Sial, aku benar-benar sial. Siapa yang memberitahunya?
Batin Jaya merasakan nyeri di bagian wajah dan perut.
Brug
"Gue percaya sama loe untuk menjaga adik gue dari keterpurukannya,"
Brug
"Tapi apa yang loe lakukan sialan?!" Tamar sangat marah. Apalagi melihat Nazeera yang terbaring dengan pakaian yang sebagian terbuka dan meninggalkan jejak merah dengan sangat jelas.
"A-aku. Aaaahhhhh." Jaya ingin menjelaskan, tetapi Tamar masih saja melabraknya habis-habisan. Hingga dia berhenti dengan sendirinya.
Keadaan Jaya sudah dipenuhi berbagai luka, tak lama kemudian orangtua Nazeera juga datang.
"Bunda?!" Gumam Tamar saat melihat orangtuanya.
Prak
__ADS_1
Raha menampar pipi Jaya yang sudah terluka, "Apa yang kau lakukan kepada anak ku? Aku sudah percaya kepadamu. Tetapi kamu juga mengkhianati kepercayaan ku." Ucapnya dengan penuh amarah.
"Akhyar lebih baik dibandingkan kamu."
Dug
Hati Jaya sangat tak terima dengan perbandingan itu, "Akhyar sama sekali tak ada niat menodai anak gadis seseorang karena memiliki keimanan dalam hatinya! Sedangkan kamu..." Raha mencaci-maki Jaya. Jiwa emak-emaknya keluar untuk melindungi sang anak.
Mise yang tetap tenang, tidak seperti Raha dan juga Tamar. "Bunda...!!! Tenanglah dulu." Ucapnya tenang tetapi penuh penekanan.
"Jaya, ikut dengan ku!" Seru Mise tanpa melirik. Seakan sedang kecewa terhadap Jaya.
Jaya mengikuti langkah Mise tanpa memakai pakaian, yang dikenakan hanyalah celananya. Sedangkan ikat pinggangnya sudah sedikit longgar.
Dia berjalan dengan mengusap lupa yang ada di wajahnya.
Sialan, siapa lagi yang melaporkan ini? Gue korban di sini. Aduhh, gimana nih kalau gagal jadi menantu dan memiliki Nazeera. Gue juga belum apa-apain dia. Tapi marahnya hingga ke ubun-ubun hingga membandingkan aku dengan calon menantunya yang gagal. Sial, benar-benar sial.
Batin Jaya
"Ceritakan!" Ucap Mise saat duduk di kursi.
Raha kembali menangisi anaknya. Memperhatikan tubuhnya yang sudah banyak meninggalkan jejak merah di bagian leher, terutama dibagian dada. Tamar mengikuti langkah Ayahnya.
Brengs*k. Umpat batin Tamar.
Kalau loe terbukti bersalah gue ngak akan maafin loe. Batinnya bersumpah.
Bersambung....
.
.
.
Berarti belum berhasil memecahkan gawang yah😂
Ayooo, kira-kira siapa yang menjebak mereka?
Jan lupa komen like and Vote yah readers.
Aku padamu🤗🤗💕💕
Jan lupa juga mampir dalam karya ku yang kedua yah!
- Senior, Aku Padamu
__ADS_1
SELAMAT MENANTI...!!!