
"Gue pikir loe sudah mati bro!" Cecar Jaya kesal saat melihat Tamar telah tiba di tempat Jaya menanti.
ck
"Kamu sumpahin gue mati beneran? Kamu aja kali yang sekarang jadi setan gentayangan. Tempat mu bukan di sini, tapi di akhirat." Kekehnya membalas candaan Jaya yang tak kalah frontal.
"SetanN loe."
"Hahaha..." Tamar terbahak-bahak mendengar umpatan adik ipar.
Melihat ekspresi Jaya yang seperti kanebo kering, membuat Tamar semakin kebablasan untuk tertawa.
"Sin*ing loe!" Jaya ingin sekali meninju wajah sahabatnya itu hingga bonyok.
Dasar sahabat lucnut. Mentang-mentang sudah nabung, gigi di pamer mulu.
Ujar batin Jaya melihat Tamar seperti orang kesetanan.
"Zom... Loe inget yah... Gue udah nikah. Ingat sudah NIKAH!" Ucap Tamar ketika mengingat bahwa Jaya masih seperti biasa saat masuk ke dalam kamar secara sukarela.
"Lain kali jangan masuk kamar ku tanpa mengetuk pintu. Gue sudah punya privasi sekarang, bro." Lanjutnya menaikkan alisnya untuk menggoda Jaya.
Tamar memaklumi sikap Jaya yang seperti itu. Karena itu merupakan kebiasaan mereka dulu. Lagian Jaya juga belum terbiasa dan juga tidak hadir saat dirinya menikah. Tamar mengingatkan pria di sebelahnya hanya ingin menjaga Mitha, istrinya. Dia tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi.
Ck.
Lagi-lagi Jaya kesal.
Jaya mengikuti ucapan Tamar tanpa suara. Dia kesal berkali-kali lipat. Pria itu juga memutar bola matanya malas mendengar penuturan Tamar di akhir.
"Sory, lagian gue ke bablasan. Habis kebiasaan sih. Lagian mana ada manusia lihat setan?"
"Jadi kamu ngaku juga jadi hantu nih?" Goda Tamar.
Prak
Jaya melempar bantal sofa.
"Sudah akh..." Jaya bangkit kemudian keluar dari kamar.
"Setan teriak setan!" Gumam Jaya sebelum menutup pintu.
"Hahaha...." Tamar masih mendengar penuturan sahabatnya.
Brak
Tanpa sungkan, Jaya menutup pintu keras. Tak lama kemudian, terdengar suara seperti pintu terkunci.
Tak
Rupanya Jaya mengunci dirinya dari luar. Tamar melihat tidak ada kunci di daun pintu yang terpasang.
"Zombiiiii!!!" Tamar naik pitam.
Dia berlari ke arah pintu.
Tok tok tok
"Bukain setanN!!! Woiii!!!"
Prak prak prak
Tamar memukul pintu dengan keras. Namun itu hal yang sia-sia.
Ck
Tamar mengguyur rambutnya ke belakang kesal. Kali ini, dia mengutuk dan bibirnya komat kamit mengeluarkan sumpah serampah di tempat yang sama, ruang kerja Tamar.
__ADS_1
Prak
Tamar menendang daun pintu keras sebagai pelampiasan.
"Argggg... Ssstt..." Ringisnya kesakitan mengusap bekas tendangannya.
Pria CEO perusahaan Mise Grup menjadi orang bodoh. Tidak ada Tamar yang disegangi oleh orang kaum manusia. Namun Jaya berbeda...
Dia memang setanN berkedok manusia. Siall.
Walau sekeras apapun dia akan mendobrak pintu, itu tidak akan berhasil. Hasilnya nihil. Karena ruangan itu memiliki kedap suara. Ruangan itu seringkali dijafikan membahas sesuatu yang penting, hingga Tamar berinisiatif memasangnya. Tapi saat ini, rasanya dia ingin menghilangkan benda gila itu.
"Astagaa!!! Kenapa aku gak kepikiran buat telpon Mitha?!"
Tamar kembali ke sofa sambil mengotak-atik benda pipih kecil itu.
Tiikkkk
Tamar menelpon sang istri. Tapi nihil.
Pria itu tak patah semangat. Dia kembali menghubungi nomor istrinya hingga panggilan ke 10, dia merasa ingin memaki istrinya saat itu juga.
Tamar menarik nafas pelan. Menambah stok sabar.
____
Diluar ruangan, ada Jaya yang sedang menikmati kemenangannya di dalam kamar sang istri tercinta. Dia melupakan tujuan awalnya untuk bertemu dengan Tamar.
Ck
Kali ini, dia mengharapkan kehadiran Dedi di sisinya. Entah kenapa, Dedi meminta cuti dadakan. Ini cuti Dedi yang pertama setelah sekian lama pria itu bekerja padanya.
"Ah... Masa bodohh..." Jaya tetap kekeh menghubungi Dedi.
Di lain tempat, para wanita sedang sibuk mempersiapkan makanan di dapur.
Mitha semakin tersipu. Dia masih mengingat pikiran kotornya di dapur. Bisa tidak yah pikiran ini dihilangkan dulu.
"E-engak kok... Itu sudah layu belum. Masukin yang ini." Mitha mengalihkan perhatian Nazeera.
Di dapur, Mitha hanya sekedar membantu memotong sesuatu. Tanpa berjalan kesana kemari. Seperti yang dilakukan oleh Nazeera.
Nazeera mengangguk. Kemudian menyerahkan pekerjaannya kepada asisten rumah tangganya. Wanita itu ikut duduk di samping sang ipar.
"Mit... A-aku minta maaf..." Ujarnya merasa bersalah.
Mitha menolah seraya menaikkan alisnya, "Karena?"
"Ya... Karena malam itu..." Nazeera tidak ingin memperjelas malam naaz yang buruk itu.
"Aku gak apa-apa kok... Itu semua sudah ketetapan Allah. Sekuat apapun kita sebagai manusia mempertahankan jika Allah menginginkan. Maka semuanya pasti akan kembali. Karena kita ini milik Allah dan terserah sang penguasa, jika Dia menginginkan miliknya, maka itu mutlak terjadi. Jadi kita sebagai hambanya, hanya bisa bersabar." Mitha berusaha untuk tersenyum.
"Sekali lagi maafin aku. Karena..."
"Husttt... Diamlah." Mitha meletakkan jarinya di bibir sang ipar. "Lanjutkan pekerjaannya. Sudah hampir jam 8 untuk sarapan. Orang-orang pasti sudah terlambat ke kantor.
Nazeera mengangguk. Wanita itu bediri dan memeluk Mitha. Hadiah keponakan sudah tidak ada karena kesalahannya.
"Terimakasih."
Mitha bersyukur hadir di keluarga ini. Semua orang-orang menyayangi dirinya, kecuali sang suami.
"Bang Tamar beruntung memiliki mu." Pujinya. Dia merasa haru terhadap kata-kata iparnya.
Kamu tidak tahu saja sifat abangmu jika sudah bersama ku. Dia seakan ingin memakan ku hidup-hidup. lagian, jika bukan karena insiden itu, tidak mungkin aku menikah dengan pria sempurna seperti Mas Tamar.
Hati Mitha ketar kekir. Harus kah dia cerita perihal rumah tangganya dengan Nazeera?
__ADS_1
Sang asisten rumah tangga juga menyukai dan menyayangkan anak yang dikandung sang majikan. Diam-diam, dia mengusap air matanya.
Semoga tuan Tamar cepat mendapatkan keturunan. Aamiin.
Doa sang asisten.
"Baiklah. Aku menyiapkan piring dulu."
Mitha mengangguk. Wania itu hanya bisa duduk menyaksikan Nazeera.
"Aku ke kamar dulu. Mau memanggil Jaya makan. Mungkin saja dia malu." Ujarnya seraya tertawa.
Mitha mengangguk. Tak lama kemudian, Mise dan juga Raha sudah datang.
"Selamat pagi, ayah, bunda." Sambut Mitha.
Mise hanya mengangguk. Kemudian menarik kursi untuk sang istri duduk.
"Pagi sayang." Balas Raha. "Tidak usah sayang. Ada ayah kok yang bantu." Cegah Raha saat melihat Mitha ingin berdiri.
Mitha sangat menyukai pasangan di hadapannya. apakah pernikahannya juga sama seprti mereka? Atau hanya iming-iming saja dan tetap menjadi figuran?
"Good morning, bunda, ayah." Nazeera langsung mencium pipi kedua orang tuanya.
"Hmm." Balas Mise.
"Morning sayang." Raha hanya terkekeh melihat suaminya sangat kaku.
Ck
Nazeera mencebik. Kapan kebiasaan ayah yang seperti itu menghilang dari wajahnya.
Jaya terkekeh melihat tingkah Nazeera. Pria itu menarik kursi untuk sang istri.
Mitha yang melihat itu ikut baper. Itu adalah hal yang romantis dilakukan oleh pasangan. Dia mengingat; apakah Tamar pernah seperti itu padanya di meja makan?
"Bang Tamar mana?"
Mitha juga menyadari bahwa sisa suaminya yang tidak hadir.
Diam-diam, Jaya mengulum senyum. Pria itu sangat senang.
Mitha mengingat perkara tadi pagi saat ketahuan oleh Jaya. Dia dibuat malu. Apalagi ketika pandang mata mereka bertemu.
Pasti dia pikir kami sedang nganu tadi. Haisshhh...
Batin Mitha komat kamit. Wanita ini ingin menghilang di hadapan Jaya yang tersenyum.
Mitha berpikir bahwa senyum Jaya karena insiden waktu pagi tadi. Namun, bukan itu yang dimaksud oleh pikiran Jaya. Melainkan cara dia mengerjain Tamar.
...****************...
Halo readers...
Jan lupa dukung cerita green...
**Satu iklan sangat berarti buat green... Jan lupa like komen dan subscribe.
Buat pembaca baru green, "Wecome" smg betah dan nyaman berada di kehaluan green yg sangat amburadul ini...
Buat pembaca setia, green ucapkan terimksih...
buat pembaca goib, green ucapkan jan lupa subscribe comen and like**....
...****************...
**1 Tips iklan sangat berarti buat greenππππππ
__ADS_1
Alhamdulillah pembaca smakin meningkat... dan like semakin menurunππ**