
"Permisi, Tuan. Sebaiknya pasien istirahat dulu." Ucap dokter itu ketika selesai memeriksa.
"Siapa di sini keluarga pasien?" Tanya dokter itu.
"Saya." Tamar maju selangkah.
"Silahkan ikut saya ke ruangan."
Jaya masih diam terpaku menyaksikan adegan barusan. Sebesar ini kah kesalahannya? Bolehkah dia saja yang menggantikan dua wanita yang sedang terbaring itu.
Dia merutuki kebodohannya sendiri. Mengapa dia serapuh ini hanya karena seorang wanita. Bukankah keinginannya sendiri buat menjauh dari kehidupan Nazeera lagi?
"Ada apa, Dok? Nazeera baik-baik saja kan?"
"Dia baik-baik saja. Saya hanya ingin menyampaikan agar menjaga emosi nona Nazeera. Saat ini pikirannya masih sangat sensitif dan mudah drop dan mengalami pingsan. Apakah sebelumnya juga pernah mengalami hal yang seperti ini?"
Pertanyaan itu membuat Tamar merenung, "Iya, Dok. Beberapa hari yang lalu sebelum acara ulang tahunnya dia juga sempat pingsan."
"Sebaiknya hindari dari sesuatu yang membuatnya emosi. Menurut perkiraan kami tentang nona Nazeera sedang mengidap penyakit lemah jantung. Jadi setiap kali berfikir akan mememengaruhi emosinya dan beralih ke jantung dan tak rawan juga untuk demam bahkan pingsan seperti sekarang ini."
Tamar merenung, dia berharap ini baik-baik saja.
"Dari kata kunci 'jantung lemah', maka kondisi ini harus dipastikan terlebih dahulu oleh dokter spesialis jantung atau cardiologist dengan melakukan anamnesis atau wawancara terstruktur dan mendalam, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Misalnya electrocardiography, echocardiography, chest radiography atau rontgen dada, pemeriksaan enzim jantung, dan sebagainya." Jelas dokter itu.
Tamar mendengarkan dengan seksama.
"Setelah diagnosis dipastikan, tentunya mudah bagi dokter untuk memberikan pengobatan. Amat kami sarankan untuk secepatnya melakukan general check-up atau pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Sebab kondisi jantung lemah ini belum 100% benar adanya. Hingga kondisi saat ini kami belum berani memastikan tentang keadaan nona Nazeera. Tapi menurut ciri-ciri yang kami lihat seperti itu."
***
Di tempat Dedi, dia sudah bertemu dengan orang yang ingin mendonorkan darahnya. Dia masih belum mengetahui apa yang dialami Nazeera saat ini.
"Silahkan ikut kami." Ujar salah satu perawat.
"Terimakasih karena sudah mau membantu kami, Pak."
"Sama-sama. Anda juga telah menolong saya." Ucap pendonor itu.
Pendonor itu mengikuti langkah perawat itu. Sedangkan Dedi kembali ke ruangan Nazeera. Dari jauh dia melihat Tamar yang sedang berjalan seorang diri.
"Ada apa?" Tanya Dedi memegang pundak Tamar.
"Loe ngagetin gue aja."
"Jawab gue, ada apa? Mukanya kok belum di setrika."
"Ini semua gara-gara loe, kondisi Nazeera sekarang lagi drop. Menurut dokter Nazeera mengidap penyakit lemah jantung. Hingga emosinya akan teralihkan ke jantung dan menyebabkan pingsan." Jawab Tamar membuka pintu kamar Nazeera.
"Hah? Jadi?"
"Iya, gue harap loe jangan buat kesalahan yang sama lagi."
__ADS_1
Dedi merasa bersalah, dia memegang tekuk lehernya. Tamar menutup kembali pintu Nazeera yang sudah mulai tenang karena obat bius dan membiarkan Nazeera beristirahat.
"Bagaimana dengan pendonor itu?" Tanya Tamar.
"Dia sudah ditangani. Namanya Miko."
"Gue ngak nanya." Malas Tamar.
"Yaa, jangan sampai loe mau berterimakasih juga kan." Gumam Dedi merasa ditolak.
"Bos, dimana Jaya?" Tanya Dedi saat menengadahkan pandangannya mencari tuannya.
"Entahlah. Tadi kami di suruh keluar." Tamar mengangkat bahunya.
Dring Dring Dring
Ponsel Dedi berbunyi, "Loe ke cafe rumah sakit sekarang." Ucap seseorang di seberang telepon kemudian mematikan panggilannya.
Tamar mengernyitkan alisnya, "Siapa?"
"Jaya. Dia menyuruhku ke cafe."
"Yasudah, gue ikut"
***
"Ada apa, bos?" Tanya Dedi saat tiba.
"Bagaimana dengan pendonornya?" Tanya Jaya.
Jaya mengangguk kemudian menatap satu persatu orang yang duduk di dekatnya.
"Bagaimana pencarian loe tentang cctv mall dan juga mobil yang sudah terlacak itu?" Tanya Jaya serius karena dari tadi hanya fokus dengan keadaan dua wanita yang menjadi korban tabrak lari.
Hemm, gue belum isi perut, sekarang sudah kena sidang lagi.
Batin Dedi memegang perutnya, tetapi tak terlihat karena ada meja yang menghalanginya.
"Gue serius, Ded."
"Bos, gue lapar. Izinkan gue memberikan nafkah batin buat perut gue sendiri." Kesal Dedi.
Gue pikir ke sini mau ditawari makan. Tau-taunya sidang lagi.
Kruk kruk kruk
Perut Dedi berbunyi, "Hehehe, kan gue juga bilang apa, gue lapar. Loe kan tau sendiri kapan gue makannya." Dedi cengengesan menatap dua pria yang sedang menatapnya malas.
"Yasudah, loe makan dulu. Setelah itu loe berikan penjelasan sedetail mungkin." Ujar Jaya.
Jaya tahu betul bagaimana sifat Dedi, jika perutnya dalam keadaan keroncongan, dia tak akan fokus dan tak akan tenang meminta jatah jika belum makan.
__ADS_1
***
Tak ada yang memulai pembicaraan saat makan hingga selesai.
"Jelaskan!"
Dedi mulai menjelaskan, Tamar dan juga Jaya memasang alat pendengarannya dengan baik.
"Jadi, sewaktu gue ke mall, ternyata betul mobil itu yang menabraknya."
Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto mobil yang dia ambil.
"Ini otomatis tabrak lari yang direncanakan, karena sedari tadi gue liat hanya memarkirkan mobilnya. Tapi sayangnya gue ngak liat orangnya."
Jaya mendengar pernyataan Dedi sambil memeriksa kembali foto dan video singkat masuk cctv itu.
Sedangkan Tamar juga sedang asyik mendengarkan sambil menyeruput minumannya.
"Mobilnya sudah terlacak, tetapi yang menjadi masalah di sini, ternyata mobil itu adalah mobil sewaan. Polisi sudah mendatangi lokasi tersebut. Tetapi menurut para warga di di sana memang benar tempat itu adalah sebuah usaha sewa mobil, jadi otomatis itu adalah murni jasa 'sewa mobil'. Dia memperlihatkan mobil yang baru saja dikembalikan oleh orang itu."
Dedi menyeruput kopinya, "Setelah diperiksa, ternyata mobilnya sama dan juga sudah terdapat beberapa kerusakan di mobil itu. Gue tanya tentang biodata orang itu, tetapi jawaban yang punya mobil itu 'Kami hanya menyimpan KTP sebagai persyaratan sekaligus jaminan dan kami tidak mencopy paste dari KTP itu. KTP itu sudah kami kembalikan setelah mobilnya dikembalikan. Saya juga belum memeriksa mobinya dan saya baru tahu kalau mobil saya sedang rusak begini. Karena pas dikembalikan, saya buru-buru harus menjemput istri saya yang ada di bandara, kebetulan karyawan saya cuma satu dan melayani pelanggan.'" Dedi meniru suara pemilik mobil itu.
"Dia berjenis kelamin laki-laki, gue tanya kembali siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya. Ternyata orang itu memakai masker dan namanya seperti tidak asing."
"Emang siapa namanya?" Tnya Tamar.
"Namanya Robin."
Jaya bergumam menyebut nama Robin mencoba mengingat-ingat siapa pemilik nama itu.
"Orang itu sudah tahu betul bagaimana yang akan terjadi selanjutnya, dia begitu cerdik hingga tak meninggalkan jejak sedikit pun. Sidik jari, ngak ditemukan karena selalu memakai sarung tangan."
Dedi menarik nafas panjang, "Kita juga tidak bisa menuntut pemilik sewa mobil itu yang teledor terhadap pelanggannya." Dedi mengangkat kedua bahunya.
"Yang bisa kita lakukan di sini dengan mengintrogasi sang pemilik sewa mobil itu, yaa meskipun memakai masker tapi kita tetap harus memintai jawabnya. Sekarang dia lagi ada di kantor polisi untuk menyebutkan ciri-ciri pelaku. Polisi akan melukis orang yang sesuai dengan ciri-ciri itu."
Dedi sedang mengingat-ingat, "Saya juga sedang menanyakan cctv nya. Ternyata baru saja rusak dan akan diperbaiki esok hari."
Dedi bersandar di kursi, "Apakah kalian berdua punya musuh? Atau mungkin saja Nazeera yang memiliki musuh?!" Tanya Dedi dan bergumam sendiri diakhir katanya.
Bersambung...
.
.
.
Hayooo,,, meskipun crazy up, tetap simpan jejak donk di part ini🤣🤣
Ayo jempol mana jempol
__ADS_1
ayo komen mana komen
menurut kalian Dedi sudah cocok jadi Intel ngak?🤣🤣 perut Dedi minta cerocos terus. udah makan masih aja menyeruput minumannya.