
Seorang anak kecil yang sedang berjalan menuju taman belakang sambil memegang sebuah boneka. Rambutnya panjang dan dibiarkan terurai. Anak kecil itu sedikit berlari saat hampir tiba di sepedanya.
"Yaah, kok kempes sih. Rantai nya kok bisa lepas." Wajah yang tadinya tersenyum bahagia langsung murung begitu saja.
"Jaya!!! Apa yang kau lakukan di sini? Aku sudah bilang berhenti menganggu ku!" Anak kecil itu menengadahkan pandangannya mencari sosok pelaku yang merusak sepedanya.
Terdengar suara tawa yang menggema di taman belakang. Anak kecil itu mengikuti asal suara itu. Dia memegang batu kecil dan bersiap untuk di lemparnya sebagai balasan yang setimpal.
Tak
Lemparan anak kecil itu meleset. Tak mengenai siapa-siapa. "Kenapa tiap kali aku ingin melemparkan sesuatu pada mu selalu tidak tepat sasaran." Anak kecil itu menangis sambil mengejar Jaya.
Jaya sangat bahagia sudah berhasil menjaili anak kecil itu. Saat sudah hampir tertangkap, dia memegang pucuk kepala anak kecil itu, dia menahannya hingga anak kecil itu tak bisa melukainya karena tubuhnya yang kecil.
"Aku akan tanya bunda. Siapa yang mengizinkan mu masuk?!" Anak kecil itu menatapnya dengan tajam.
Jaya hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
"Gue cariin loe di dalam, ternyata di sini."
Anak kecil itu sudah berlari dengan keadaan menangis saat abangnya datang.
"Abang, aku sangat membencinya, kenapa masih saja dia dibiarkan masuk sini?" Rengeknya di kaki Tamar.
Tamar berjongkok mengimbangi anak kecil itu, "Zee, dia kan sahabat Abang. Boleh donk dia masuk ke rumah kita." Tamar mengusap air mata adiknya.
"Abang jahat. Sama saja dengan Jaya yang selalu jail." Anak kecil itu kembali menangis.
"Jaya!! Kau keluar saja dari rumah ku." Kesal anak kecil itu.
Jaya semakin tertawa, dia sangat suka melihat jika anak kecil itu yang tak lain adalah Nazeera memasang wajah tak puas dan marah.
"Sayang, dia lebih tua dari kamu loh, sudah berapa kali Abang bilang panggil dia Abang." Nasehat Tamar.
"Lebih baik aku panggil dia om gila daripada harus panggil dia Abang." Pekik Nazeera berlari sambil menangis.
***
Nazeera membuka matanya, dia kembali bermimpi tentang masa lalunya bersama suaminya.
"Jay, maafkan aku. Aku merindukan mu." Lirih Nazeera.
"Zee? Kamu sudah bangun? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Tamar khawatir.
"Zee baik-baik saja bang." Nazeera langsung memeluk Tamar.
"Bang, Zee rindu." Nazeera menutup matanya dengan deraian air mata.
Dia memeluk Tamar dengan kencang sambil mengingat masa kecil nya yang ada di mimpinya.
Aku ingin kembali ke masa lalu. Meskipun Jaya selalu menjaili ku aku mau, asalkan aku tidak mendengar kabar ini. Ini sangat menyakitkan daripada ulah Jaya yang selalu membuat aku menangis setiap saat sewaktu dulu.
Nazeera menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu istirahat. Besok akan kembali melakukan pencarian di jurang itu. Berdoalah saja semoga dia baik-baik saja." Ucapnya. Padahal yang diucapkan jauh berbeda dengan hati kecilnya.
Rasa sesak di dada harus dia tahan, kesedihan kembali harus dia hadapi. Dia tidak sesakit ini di saat Akhyar meninggalkan nya dulu. Atau mungkin karena Akhyar ditinggalkan karena menikah, sedang Jaya ditinggalkan nya dalam keadaan sudah tidak bernyawa?!
"Zee sedih bang. Zee sangat sedih. A-aku..." Ucapan Nazeera bergetar.
"Hust." Tamar meletakkan telunjuknya di bibir Nazeera. "Doakan lah dia. Jangan jadi cengeng seperti ini. Kamu tau kenapa dulu Jaya senang menggoda mu?"
Nazeera menggeleng, "Karena kamu orangnya cengeng dan semakin cantik jika marah." Kekeh Tamar.
"Jadi sekarang kamu jangan nangis lagi. Karena Jaya sedang bersandiwara sekarang, kamu doakan dia. Dia pasti akan baik-baik saja." Tamar memberikan kekuatan.
Huft, keadaan bunda juga sekarang lagi tidak baik, sekarang Jaya mengalami kecelakaan. Aku turut berduka atas mu.
Nazeera sudah terbaring dan kembali menutup matanya. Mungkin saja pengaruh demam hingga dia lebih mudah untuk tertidur.
Tamar bersandar di sofa dan memegang pangkal hidungnya yang terdapat genangan air mata di sana.
Loe jangan bercanda sekarang, bercanda mu sedang tidak asyik. Loe sudah harus bahagiain adik gue, kenapa loe malah main petak umpet. Gue masih belum puas buat liat ulah loe untuk kembali menggoda Nazeera. Ayolah, kamu harus dengar kata hati ku.
Lamunannya terhenti karena Dedi mengejutkannya, "Bos, kabar dari polisi sudah ada." Ucapnya pelan agar tak terdengar oleh Nazeera.
Tamar langsung berdiri kemudian keluar dari ruangan itu. Dia menutup pintu pelan.
"Katakan!" Tamar dengan suara dingin.
Haduh. Dedi kaget akan eskpresi yang dia terima dari Tamar.
"Tadi saya ditelepon oleh pihak kepolisian, katanya telah ditemukan mayat. Tapi..."
"Tapi, mayatnya sudah tidak bisa mengenalinya lagi." Ucapnya pelan.
"Karena hancur." Sambungannya lirih.
Tamar mengusap wajahnya. Dia harus bersikap tegar menerima kabar ini, apapun itu demi adiknya.
Loe kejam. Kenapa loe tinggalin adik gue. Bukan kah loe sangat mencintainya?
Bagaimana pun seorang lelaki jika masih memiliki hati, apalagi ketika merasakan kehilangan akan merasa sakit. Apalagi orang itu orang terdekat kita.
"Suster, saya titip Nazeera dulu. Jika dia bertanya saya kemana, bilang saja saya sedang keluar."
Emang bapak sedang keluar, emang aku anak kecil yah sampai apa yang harus aku bilang mesti dia ucapin. Seperti naskah seberapa saja.
Batin suster itu.
"Sus? Dengar kan?" Dedi menyadarkan suster itu.
"Hah? Iya tuan. Saya akan sampaikan." Suster itu membungkuk sopan.
Tamar sudah berlalu, raganya sudah tak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya, meskipun hanya mayat.
Mayat?! Hah? Hatiku masih belum menerima takdir ini. Ini terlalu cepat untuk dia mati, aku masih ingin taruhan dengannya. Kenapa mesti mati dengan cara seperti ini. Ini terlalu tragis. Seharusnya sebelum dia mati harus melapor dulu hingga aku bisa mencegahnya melakukan hal konyol.
__ADS_1
Pikiran Tamar berkecamuk.
"Bos, kita sudah sampai." Dedi memegang tangan Tamar dengan maksud untuk menyadarkan lamunannya.
Tamar langsung menatap tajam dan menepis tangan Dedi.
Haduh, sepertinya bos gue yang satu ini lebih kejam dari ibu tiri.
Tamar sudah keluar, dia mengamati lokasi kejadian. Memperhatikan setiap senti lokasi itu, hingga dia matanya menangkap sebuah cctv.
Dia mendekati cctv itu, "Permisi, Pak." Tegur salah satu orang berseragam.
Tamar menghentikan langkahnya, "Korban telah berhasil kami angkat dari dalam jurang."
Tamar tak banyak bicara. Dia menjadi bengong saat melihat tubuh seseorang yang sudah hancur. Wajah sudah tak berbentuk, pakaian yang sudah dipenuhi sobekan.
Tamar menjadi ngeri sendiri, membayangkan bagaimana reaksi Nazeera jika mengetahui hal ini.
Tamar menyuruhnya langsung membawanya ke rumah sakit. Kemudian dia menyuruh Dedi untuk mempersiapkan segala proses pemakaman.
Loe emang brengs*k, loe tinggalin keluarga baru loe. Apakah loe sudah merasakan surga dunia?
Batin Tamar tersenyum sarkas namun hatinya pedih.
Bersambung...
.
.
.
Gue aja dag-dig-dug ngetiknya. Haduh, emang bener-bener beda kalau kita ngetik laria2an dan ngetiknya dgn penuh penghayatan ditengah mlm gni. Tak terasa air mata ku menetes, tau2nya menetes Krn mengantuk. Bukan Krn terharu ma nasib Nazeera.
Haduh,, buat yg sedih, moon maap. ini hanya cerita halu yah. maap momennya menyakitkan, aku sedih gegra banyak yg baca, tapi yang komen cuman itu-itu aja, like nya juga cmn itu-itu aja.
Padahal tahukah kalian? Semngat author ada pada kalian sendiri.
Tuh jempol kurang gercep apa coba? Tinggal pencet like, and komen di tiap part ttg emosi kalian saat membaca, yakinlah, author akan semngat, meskipun itu merupakan kritikan.
Dri kritikan pun author akan belajar ttg kekurangannya.
Haduh, sudhlah....
hanya orang2 tertentu yang ngerti apa arti semngat.π
Oia, aku lagi mikir2 nih, rencananya otor akan buat judul baru. Masih cerita Nazeera, cuman judul yang berbeda 'Ditinggal Setelah Nikah'. Terserah kalian juga sihπ π
π€π€ππ kan cerita Nazeera tentang ditinggal nikah udah, sekarang Nazeera lagi ditinggal setelah nikah.
huwaaaaAAAAAAAAAAAAAAA,, sabar lah Nazeera.. Dunia halumu lebih indah drpd dunia nyataππππ π
(Terimakasih buat, Lasma Warni Simbolon, Mami Vanya Kaban, Diana Slamet, Ncee, Yuchi, Dwi Klirong, Mb Lani, Nafisah, Rita Tambunan, Maya Fajriana, Martina Alfarizqi, Nii, Isa Umaroh, Widya Bee, Aku, Lele, Cinta, Lengkuas, Abang Aja, Meistiana Wulandari, Fitri, JQ Ibnu Moreno, Umi Habibah, Ummu Hafizh Rasyid, Samy Abdullah, Bg Rey, Sri Kustiawati, dkkππππ) Haduhh ngabsen deh berasa akuππ€£π€£ Tapi mereka yang senantiasa mendukung, dan semua yang aku tidak sebutkan, moon maap ngk bs diabsenπ€π yg absennya salah moon maap, brrti otor lagi kendorππ Met rehatπ
__ADS_1
SELAMAT MENANTI...!!!