
"Abang!!!" Teriak Nazeera kesal mengagetkan Tamar.
"Abang kenapa sih sudah empat hari ini gak masuk kantor? Kerjanya cuman uring-uringan. Kasihan tuh Ayah yang ngerjain semua." Dumel wanita itu.
Tamar mengembuskan nafas kasar. "Zee?" Panggil Tamar.
"Ada apa bang?"
"Abang akan menikah."
Menyebut kata nikah, wanita itu langsung bungkam. Mengingat hari pernikahannya bersama Jaya.
Tes Tes Tes.
"Zee..." Panik pria itu memghampiri sang adik. "Maafin abang..." Tamar memeluk, mencium pucuk kepala wanita itu. "Abang janji, setelah menikah, abang akan selalu memberikan perhatian pada mu, tak ada yang berubah." Tuturnya salah menafsirkan.
Hikz hikz hikz
"Bang..." Rengek Nazeera. "Aku merindukan suami ku."
hikz hikz hikz
Tamar semakin merasa bersalah. Hati adiknya lebih sensitif, bahkan sangat. Dia masih menyimpan dan menutup rapat tentang kejadian beberapa hari yang lalu bersama Mitha.
"Kamu bisa memeluk abang kok." Tamar mengencangkan pelukannya. Mengusap pelan kepala Nazeera.
"Jaya meninggalkan ku bang di saat aku mencintainya." Terang Nazeera sesegukan.
__ADS_1
Masih dengan posisi memeluk, hembisan nafas terdengar di telinga Nazeera. Pria itu melonggarkan pelukannya. Kemudian beralih memegang pundak wanita itu.
Nazeera masih menangis. Menghapus air matanya dan membuang virus di tangannya.
Huussstt
Tamar berdecak. Itulah yang tak diinginkan jika seseorang menangis. "Ambil tisu. Kau sangat jorok sekali." Menghapus air mata wanita itu.
Setelah tangisan Nazeera redah. Tamar mulai bercerita. "Abang akan selalu bersama mu. Kasih sayang ku pada mu akan berlipat. Abang janji."
"Abang menikah dengan siapa? Ayu?" Celetuk Nazeera menebak.
Tamar tersenyum, menoel hidung mancung adiknya. "Emang wanita cuman Ayu saja?"
"Lalu dengan siapa bang?"
Tamar tersenyum, "Mitha."
"Jader kepo!" Cetus Tamar meninggalkan Nazeera. Dia harus menyelesaikan sesuatu.
***
Keesikan harinya, Nazeera dan keluarganya menuju di kediaman Miko. Keluarga Nazeera tidak keberatan dengan siapa anaknya kan menikah. Asal mereka bahagia.
"Silahkan masuk, tuan, Nyonya." Seru Miko mempersilahkan.
Raha dan Mise datang membawa buah tangan.
__ADS_1
"Nak? Dimana Mitha?" Tanya Raha menelusuri pandangannya.
"Ada di kamar, Nyonya."
Rumah yang di tempati Miko sudah lebih baik dari sebelumnya. Dua saudara itu memilih sebuah perumahan yang tak jauh dari lokasi perusahaan Mise Grup. Rumah itu terdapat dua kamar, satu kamar mandi umum. Meskipun di rumah itu tidak memiliki kamar mandi di dalam kamar masing-masing.
"Tunggu, saya panggil Mitha dulu." Miko berdiri menuju kamar sang adik.
Tamar masih saja acuh dengan sikap dingin dan cueknya. pria itu hanya fokus pada benda pipih di tangannya. Ini adalah lamarannya, tapi kenapa sikap Tamar seolah-olah bukan dia yang ingin melamar? Pikir Miko saat melewati Tamar.
"Mit? Loe gak apa-apa kan?"
Mitha mengangguk, "Loe ngapa nangis?" Tanyanya saat melihat sisa genangan air mata adiknya. "Kalau loe ngak setuju menikahi dengan brengsek itu, gak usah terima lamarannya." Berang Miko berapi-api.
"Bang... Mulut loe bisa di rem gak sih? Gue nangis bukan karena itu." Desis Mitha menjawab. "Gue nangis karena kangen dengan orangtua kita." Terangnya.
"Jangan nangis, loe jelek." Ucapnya membantu Mitha agar duduk di kursi roda. "Besok kita ke makam ibu dan ayah."
Sebenarnya, Mitha menangis bukan karena itu, melainkan mengingat pertemuan dirinya dan Tamar kemarin.
"Tandatangani ini." Menyodorkan lembaran kertas. "Setidaknya dengan aku menikahi mu maka akan lebih bagus lagi, daripada kau dinilai jelek di mata suami mu nanti." Jelasnya. "Itu adalah surat kontrak nikah. Dan pernikahan kita hanya enam bulan saja."
"Mengenai kemarin, aku minta maaf. Apakah kaki mu masih sakit?" Tanya Tamar tampak ragu dan sekedar basa basi. "Jangan kau gunakan pikiran mu untuk berpikir. Sebaiknya kau tandatangani saja. Aku juga sebentar lagi akan mendapatkan orang yang menjebak kita."
Mitha diam. Diamnya itu bukan mengiyakan, melainkan menolak apa yang Tamar inginkan. Tapi, jika berpikir, ada baiknya dia menandatangani surat ini. Setidaknya dengan status janda akan lebih baik. Dari pada masih gadis tapi sudah tidak perawan lagi.
Dia kembali mengingat kajiannya beberapa lama yang lalu sebelum kecelakaan, bahwa pernikahan itu adalah ibadah. Bercerai adalah halal, tapi sangat dibenci oleh Allah. Sedangkan pria di depannya sudah merencanakan perceraian sebelum pernikahan berlangsung.
__ADS_1
Kuharap aku menikah hanha sekali seumur hidup.
"Mitha..." Bisik Miko membangunkan Mitha dari lamunanya.