Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Golongan Darah


__ADS_3

"Ded? Bagian mana dia sekarang?"


"Tadi sih sebelum gue pergi masih di ruang operasi."


Tamar langsung menuju ruang operasi. Dari jauh mereka melihat lampu operasi masih menyala. Seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"Maaf. Anda keluarganya pasien ini?" Tanya dokter itu pada Dedi saat sudah dekat.


"Saya..." Ucapan Dedi terpotong oleh Tamar.


"Iya, Dok. Ada apa dengannya?"


"Pasien membutuhkan darah. Stok darah yang kami sediakan sudah habis. Kami membutuhkan darah, tapi golongan darahnya sangat langkah."


Dedi dan Tamar saking memandang, "Golongan darah saya O." Ucap Dedi.


"Golongan darah yang dibutuhkan pasien adalah Golden Blood atau Rhnull Blood. Apakah diantara kalian ada yang memilikinya?"


Tamar dan Dedi kembali saling pandang, "Apakah loe punya golongan darah yang sama?" Tanya Dedi.


Tamar menggeleng. "Sebaiknya Anda harus usahakan, karena operasi saat ini masih berlangsung." Tutur dokter itu.


"Ada apa dengan pasien? Kenapa lama sekali?"


Dedi bertanya karena memang sedari tadi belum mengetahui tentang Mitha.


"Pasien mengalami patah tulang di bagian kaki kanannya. Operasi ini memang membutuhkan enam jam atau bahkan lebih."


Dedi sangat kaget, tapi bagaimana lagi, mendengar kabar seperti ini tidak boleh gegabah dan panik.


"Yasudah. Lakukan yang terbaik buat pasien." Tamar pasrah merasa kasihan terhadap pasien yang menolong adiknya.


"Kalian harus segera mendapatkan darahnya. paling lambat dua jam mendatang. Jika tidak, mohon maaf. Kami tidak bisa menjamin keselamatan pasien." Ujar dokter itu kemudian masuk kembali ke dalam ruang operasi.


Tamar dan Dedi menarik nafas dalam-dalam.


"Bagaimana ini?"


Tamar mengangkat bahunya, "Kasihan sekali nasibnya."


"Umumkan diberbagai media, siapa pun yang mendonorkan darahnya akan mendapatkan imbalan 1 milyar."


Dedi membulatkan matanya, "Yang benar saja!" Dedi merasa terkejut.


"Harga satu milyar tidak sebanding dengan nyawa adikku. Jika pendonor ingin menambahnya iyakan saja dan tanyakan berapa maunya asalkan wanita itu selamat. Itu pun belum seberapa atas pertolongannya." Tamar memandang ruang operasi kemudian melangkah pergi meninggalkan Dedi yang masih mencerna ucapannya.


"Uang semilyar sudah maasyaAllah, bagaimana kalau ditambah lagi. Bisa sampai pingsan orang itu menghitung uang. Apalagi kalau uang itu recehan, selesai menghitung langsung drop malah masuk rumah sakit. Eh uang nya digunakan lagi buat biaya obatnya di rumah sakit." Gumam Dedi membayangkan.


Tamar menghadap kebelakang, tidak ada Dedi yang mengikutinya.


"Woi, sudah buruan lakukan. Waktu kita hanya sedikit." Teriak Tamar.


Dedi mengangguk, "Kok gue punya dua bos yah." Gumam Dedi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dedi mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Cari pendonor dengan golongan Golden Blood. Pasang diberbagai media dengan imbalan 1 milyar. Batas waktu yang diberikan oleh dokter dua jam. Darahnya harus ditemukan sekarang!" Titahnya kemudian menutup ponselnya.

__ADS_1


Dedi memasuki ruangan Nazeera. Di sana sudah ada Tamar yang baru saja bergabung dengan Jaya dan Juga Nazeera.


"Bagaimana?" Tanya Tamar saat melihat Dedi.


Dedi menggeleng, "Gue sudah menyuruh orang."


Tamar dan Jaya menarik nafas panjang. Kehidupan ini sungguh membuat frustrasi. Ada rasa syukur saat mengetahui bukan Nazeera yang menjadi korban. Tetapi bagaimana pun juga mereka harus bertanggung jawab terhadap orang yang berkorban.


Nazeera masih tak bergeming, "Acara Akhyar malam ini. Kalian tidak akan ke sana?" Tanya Tamar.


Samar-samar mendengar suara dengan sebutan Akhyar membuat Nazeera membuka matanya, tetapi tak bersuara.


Jaya melihat ke tempat tidur Nazeera. "Gue ngak datang." Ucap Jaya malas.


"Bukannya loe baru saja mendapatkan kerjasama dengannya?"


"Heem."


Tak lama kemudian, ponsel Dedi berbunyi.


"Bos, ada pendonor yang ingin mendonorkan darahnya. Tapi..." Ucap penelpon itu ragu.


"Katakan."


"Tapi dia meminta imbalan nya bertambah bos."


Dedi menarik nafas, dia melihat ke arah Tamar. "Dia meminta 2 milyar sebagai tambahan."


"Yasudah, asalkan pendonor itu segera mendonorkan darahnya sebelum satu jam. Karena waktu kami sisa sejam lagi, suruh ke rumah sakit Citra Mediaka sekarang juga!"


"Bagaimana?" Tanya Tamar.


"Sudah ada pendonor, tapi meminta imbalan 2 milyar."


Tamar merasa bersyukur meskipun meminta imbalan dua milyar.


"Yasudah. Biarkan saja."


"Sekarang dia menuju ke sini."


Ada apa ini? Ada apa dengan Mitha? Apakah?


"Bang?" Nazeera sudah mulai membuka suara.


Ketiga para lelaki terkejut dan mengarahkan pandangannya ke Nazeera.


"Nazeera, kamu tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Tamar berjalan mendekati adiknya.


"Iya bang. Zee ngak apa-apa. Bagaimana keadaan Mitha sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" Suara Nazeera terdengar lemah.


Wajah Tamar langsung berubah, "Kamu tenang saja. Mitha pasti baik-baik saja." Berharap Nazeera akan berhenti bertanya lagi tentang Mitha.


"Abang, Aku mau liat dia. Dimana dia sekarang? Kalau dia baik-baik saja kenapa kalian mencarikan donor darah?" Gusar Nazeera.


Tamar menarik hidung mancung adiknya, "Yang namanya cari donor darah, berarti Mitha kehabisan darah. Sudahlah kamu jangan berpikir macam-macam dia baik-baik saja kok." Tuturnya bercanda.

__ADS_1


"Kalau baik-baik saja? Kenapa mesti memakai batas waktu lagi? Kenapa sisa sejam? Aku punya darah banyak. Saking banyaknya nyamuk pun berlomba menghisap darahku." Nazeera kesal.


Tamar terkekeh, "Kamu, sakit saja sudah cerewet. Apalagi kalau sehat." Tamar mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau Abang menjawab pertanyaan ku. Bagaimana keadaan Mitha sekarang? Dari tadi jawabnya baik-baik saja, tapi kenapa wajah kalian pada tegang begini?" Memperhatikan satu-satu wajah pria yang ada di hadapannya.


"Mitha mengalami patah tulang dan sekarang dia kehabisan darah gara-gara kecelakaan itu, dia kehilangan banyak darah." Jelas Dedi.


Tamar menatap tajam Dedi, begitupula dengan Jaya.


Waduh, dua bos pada sangar. Kabur akh.


"Permisi bos, saya mau menemui orang yang mendonorkan darahnya. Takutnya kesasar, ngak ada maps menuju ke sini." Dedi langsung keluar tanpa menunggu persetujuan diantara keduanya.


"Kalau gue punya dua bos begitu semua, mamp*s lah gue." Gumam Dedi menutup pintu.


Nazeera masih tercengang, seharusnya kecelakaan itu ditujukan padanya. Kenapa malah Mitha yang seperti ini?!


Nazeera merasa bersalah atas apa yang menimpa Mitha. "Seharusnya Nazeera bang yang di dalam ruangan operasi itu, bukan Mitha." Nazeera menangis memukul lengan Tamar.


Jaya hanya bisa melihat, "Ma-maafi gue. Ini semua gara-gara kebodohan gue sendiri." Lirih Jaya.


Tak lama kemudian keadaan Nazeera drop.


Lama menangis membuatnya tak bisa mengatur nafas.


"Nazeera... Nazeera..." Tamar mengguncangkan tubuh adiknya.


"Kamu tenang oke. Mitha baik-baik saja. Ini semua bukan kesalahan mu."


"Jaya!!! Panggil dokter sekarang!!!" Teriak Tamar.


Jaya pun keluar dengan gusar. "Dokter!!! Suster!!! Kalian kemana sialan?!" Teriak Jaya diruangan perawat.


"Nazeera... Ini Abang."


Nazeera masih sesegukan terasa sulit mengeluarkan nafas. Ditariknya nafas dalam-dalam kemudian pingsan.


Bersambung...


.


.


.


Sesuai dengan janji yah di kolom komentar. Hari ini akan crazy up.


Jan lupa dukungannya..Ayo like komen like komen like komenπŸ˜•πŸ˜•πŸ˜•πŸ˜•πŸ˜•πŸ˜£πŸ˜£πŸ˜£πŸ˜£πŸ˜£πŸ˜£ biar otor makin cemumut.


yang ingin VOTE, tabung aja dlu yahπŸ’•πŸ’• Senin ajaπŸ’•πŸ’•


Terimakasih


Aku padamu πŸ’•πŸ’•πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2