Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Begadang


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


Halo pembaca setia 'Ditinggal Nikah'. Moga aja judulnya ngak senasib dengan kalian yahπŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜…. Yang baik-baik menghampiri kalian.


#Aamiin


SELAMAT MEMBACA!!!


Ketika kamu menyakiti orang lain, baik sadar atau tidak, itu akan membawamu pada penyesalan. Tidak ada orang yang mau tenggelam dalamΒ rasa penyesalan. Menyesali perbuatan yang sudah terjadi, bisa membuatmu menyalahkan diri sendiri.


.


.


.


***


Ketika Nazeera keluar dari cafe, dia menuju parkiran. Di saat itu juga dia menabrak seseorang. Entah apa yang dia pikirkan sehingga jalan saja dia tidak fokus.


"Maaf." Ucapnya menunduk melihat adakah yang terluka tanpa memperhatikan siapa yang di tabrakannya.


Dia meraba tangan laki-laki itu, laki-laki itu senang atas perlakuan Nazeera. "Tidak apa-apa." Ucapnya tersenyum.


Nazeera mendongak, suaranya seperti familiar. Di tatapnya mata laki-laki itu, dia menjadi senang bahagia, sedih, bersyukur atau marah. Perasaannya bercampur aduk.


Nazeera mendorong lengan laki-laki itu kemudian berlalu pergi. Rasa khawatirnya hilang begitu saja di wajahnya.


"Zee, mengapa kamu sangat tidak bertanggung jawab. Begini juga adalah luka." Ucapnya memperlihatkan telapak tangannya.


Wanita itu berbalik, dia hanya memperhatikan lengan lelaki itu. Ternyata benar, di tangannya tampak memar dan juga terdapat goresan. "Maaf jika jalan ku teledor, untuk kali ini aku hanya bisa membantu dengan doa."


"Tapi ini sakit loh, Zee. Lihat nih darahnya." Ucapnya memelas menunjuk darah pada lengannya sendiri.


Bahkan luka yang kau ciptakan tak berdarah, Akhyar. Tapi sakitnya mempengaruhi diriku sendiri. Harus galau, menyebalkan. Batin Nazeera.


Nazeera hanya memeriksa tasnya. Dia mengambil isolasi kecil yang bening. Pria itu bingung saat Nazeera mengeluarkan isolasi itu.


Wanita itu diam tak bersuara, hanya menampilkan wajah datar. Dia mencari ujung dari isolasi tersebut. Setelah mendapatkannya, dia menempelkan pada luka pria itu.


Akhyar hanya tersenyum. Nazeera mengambil potong kuku di dalam tasnya. Kemudian dia gunakan untuk memotong isolasi tersebut.


Setelah selesai, dia kembali menyimpan benda tersebut ke dalam tasnya.


"Sudah selesai apalagi yang kamu inginkan. Sebaiknya kamu pergi!" Serunya kemudian melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


Akhyar menatap punggung Nazeera, dalam hati dia merasa bahagia atas apa yang menimpanya dan juga merasa sangat sedih.


Maafkan aku, Zee. Hanya itu yang bisa aku ucapkan.


Di parkiran, Nazeera mulai menaiki motor kesayangan. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Dasar menyebalkan. Aduhh Zee. Kamu harus kuat. Harus kuat." Ucapnya menyemangati dirinya.


Setelah Nazeera pergi, Akhyar masuk ke dalam cafe.


***


Setelah beberapa menit, Nazeera telah tiba di butik miliknya.


"Yaa ampun, Asyah!!! Apa yang telah kamu lakukan?" Ucapnya saat melihat desain yang hampir selesai terapi rusak terkena tumpahan minuman.


"Maaf Mba. Hehehe. Tadi ngak sengaja." Cengirnya agar tak kena marah.


Nazeera menghembuskan nafas panjang, wajahnya memerah karena menahan amarah. Terpaksa dia harus memulai lagi dari awal.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu persiapkan semuanya, biar aku yang kerjakan. Aku sholat dulu."


"Mba yakin mau mengerjakan semuanya? Sekarang sudah jam sepuluh, Mba."


Nazeera menyimpan tasnya di sofa, dengan tatapan datar.


"Mba, maap yah." Asyah memohon.


"Sya, hati ku lagi ngak mood. Sebaiknya kamu siapkan apa yang aku maksud." Balasnya lalu menuju mushollah.


Asyah mendengar ucapan Nazeera jadi takut. Tiba-tiba berubah lagi menjadi orang lain setelah dari luar.


Aduh, kenapa juga jadi begini. Kan aku ngak sengaja. Atau mungkin gegara ini yah hingga moodnya berubah lagi.


Asyah mulai membereskan desain yang sudah tidak terpakai lagi. Dia menyiapkan segala permintaan dari Nazeera.


Sudah sejam dia menunggu tetapi Nazeera belum juga muncul. Para karyawan juga sudah pulang dari beberapa jam yang lalu.


Asyah berinisiatif untuk mencari Nazeera. Dia berjalan menuju mushollah.


"Yaa Allah, di tungguin di dalam malah enak-enakan tidur di sini. Emang enak yah jadi bos." Gerutunya melihat Nazeera tertidur dengan pulas.


Asyah mendekati Nazeera, di pipinya tampak genangan air mata. Matanya yang kian membengkak.


Mba, aku tau banyak luka yang kamu simpan dalam hati mu. Maafkan aku hanya bisa mendoakan mu.


Asyah keluarga dari mushollah. Dia kembali masuk ke dalam ruangan Nazeera untuk mengganti desain yang rusak tadi.


Sepertinya kamu sangat lelah, Mba. Hingga tertidur di atas sajadah.


Dengan keadaan loyo, lesuh, lemas, Asyah kembali memulai desain yang baru.


"Mulai dari awal lagi. Semangaattt, Aca. Semangat. Ayo semangat, semangat 48 jam." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


***


Seorang paruh baya datang merangkul lengannya.


"Nak, sini aku peluk. Kamu ngak kangen bunda yah?"


"Kangen bunda. Kangen banget malah." Ucap Nazeera senang dengan pelukan ibunya.


"Nak, kamu harus tau. Apa yang terjadi di dunia nyata adalah kebenaran. Tapi jangan mencoba untuk berhenti bermimpi." Ucap Bunda Nazeera mengusap kepalanya.


Nazeera diam tak bergeming, dia hanya merasa nyaman saat dalam keadaan seperti ini.


"Kamu sudah punya rumah sendiri, tapi untuk menjenguk bunda pun kamu tak punya waktu." Imbuhnya.


"Hehehe. Maaf bunda. Zee terlalu fokus dengan karier."


"Kamu tuh yah, kalau lagi kuliah, katanya kuliah disaat libur panjang malah bilangnya sibuk kejar karier." Ucapnya menarik hidung mancung Nazeera.


"Iihh, bunda sakit tau." Rengek Nazeera mengusap hidungnya.


Bunda Nazeera mencium pucuk kepala anaknya dengan sayang.


"Berbahagialah, Nak." Ucapnya lalu melangkah jauh.


"Bunda, bunda mau kemana?" Tanya Nazeera.


Langkah demi langkah sebuah cahaya datang menghampirinya. Lama kelamaan dia menghilang.


"Bunda!!!"


Nazeera terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Mba, ada apa?" Tanya Asyah melihat Nazeera bercucuran keringat.


Yaa Allah, untung cuma mimpi. Huuufffttttttt, ingat Nazeera, mimpi hanyalah bunga tidur. Tidak akan ada yang terjadi.


"Mbaaa. Aku datang bangunin kamu Mba." Tegurnya kembali saat Nazeera masih diam.


"Ohh, ngak apa-apa. Sudah berapa lama aku tertidur di sini?"


Belum sempat menjawab, Nazeera malah melepaskan mukenanya lalu kabur menuju kamar mandi.


Kenapa juga tiap kali mimpi buruk bawaannya mules. Batin Nazeera memegang perutnya.


"Yaaahhh, Mba Na aku di kacangin. Padahal ngak jual kacang." Gerutunya menatap punggung Nazeera.


"Aku sudah berjuang mengerjakan target 48 jam. Aku bakal di berikan hadiah apa yah." Ucapnya bahagia membayangkan sebuah hadiah dari Nazeera.


***


"Ini sudah jadi loh mba, sekarang sudah hampir jam satu pagi."


"Masih ada yang kurang Syah."


"Sebaiknya kamu tidur saja dulu."


Nazeera menyelesaikan pekerjaannya. Dia selalu terbayang tentang mimpinya.


Itu hanya bunga tidur. Oke.


Nazeera meliha ke arah Asyah yang sudah tertidur di sofa.


"Sebaiknya aku telepon bang Tamar. Pasti dia belum tidur."


Nazeera mencari ponselnya di dalam tas, tetapi hasilnya nihil.


Setelah beberapa lama mencari, Dia menepuk jidatnya, "Astagaaa. Ponsel ku Sepertinya ada di Ayu. Aduh gimana yah."


"Sebaiknya aku selesaikan ini dulu. Tinggal beberapa lagi." Ucap Nazeera menatap kerjaannya.


"Mengerjakan gaunmu saja sakit, apalagi jika aku hadir yah. Aduuuhhh apa sih yang aku pikirkan." Nazeera mengetuk kepalanya sendiri.


Tring Tring Tring


Dering telepon berbunyi. Nazeera mengangkat telepon tersebut.


"APA!!!"


Bersambung...


.


.


.


Jan lupa komen dumk😣😣😣


Jan lupa subscribe, ehhh salah yah hehehe Vote.


Jan lupa untuk titip Jempol.


Bagi yang blom memberi bintang, ayo angkat kaki, ehhh salah maksudnya angkat jempol. Teros tancep gas. Nyosor deh.


😌😌😌😣😣😣


Author lagi ngomong asal😣😣😣

__ADS_1


SELAMAT MENANTI!!!


__ADS_2