
Sore menjelang, pelayan itu mulai gelisah. Mentap pintu kamar tiada henti-hentinya.
Tok Tok Tok
“Nyonya… Sudah sore. Anda telah melewatkan makan siang.” Khawatir Hena, pelayan di apartemen Nazeera.
Ceklek
Pelayan itu memberanikan diri membuka pintu kamar karena khawatir. Saatmasuk, dia ternganga melihat sang majikan baru saja selesai mandi. Majikannnya telah keluar dari kamar mandi, badan kelihatan segar, tapi jika dilihat dari seutai mata, maka akan dapat ditebak jika dia sudah menangis.
“Nyo-nyonya. Maaf, saya telah lancang.” Ujar Hena sambil menunduk, badannya bergetar karena takut.
Nazeera tidak peduli, hanya memasang wajah datar. Menangis sepanjang waktu tak bisa merubah keadaan, apalagi orang yang sudah mati.
Tidak mendapat respon dari majjikan, dia memberanikan diri untuk mendongak. Dia melihat seorang wanita merias diri di depan cermin. Ditarik nafas dalam-dalam, kemudian berbicara, “Nyonya, anda telah melewatkan makan siang, dan sekarang sudah sore.” Pelayan itu menjeda ucapannya, “Saya akan segera menyiapkan kembali makanannya untuk anda.”
Lagi-lagi tidak ada jawaban darinya. Hena menghembuskan nafas kasar. “Permisi, Nyonya!” Ujarnya membungkuk kemudian melenggang pergi.
***
Di tempat lain, Tamar masih asyik berdiskusi dengan Tamar dan juga Alber. Dedi di suruh ke kantor Tamar, judul mereka maih saja sama tiap hari, yaitu ‘Misteri Kematian’.
Mengenai kasus ini, terlalu banyak kejanggalan yang dirasakan oleh Tamar, namun tak bisa dipecahkan tanpa sebuah bukti. Takut menduga, namun pada akhirnya itu adalah sebuah dugaan.
Dring Dring Dring
Ponsel Dedi berbunyi, dia meraba ponselnya dalam saku celana. Diam
membaca nama yang tertera dalam kontak itu, kemudian wajahnya dipalingkan
mengahadap sang tuan. Tamar yang mengerti akan pandangan tersebut mengangguk
kecil.
Mendapat restu seperti itu, Dedi menggeser warna hijau pada layar benda
pipih tersebut. “Halo!” Seru suara di seberang sana.
“Tuan, nomor telepon yang pernah anda kirim, sudah terlacak. Nama pemilik
__ADS_1
pengguna telah di samarkan. Dan juga lokasi terakhir…” Penelpon itu memberi
jeda.
Dedi kesal karena menggantung ceritanya, “Lanjutkan!” Tandas Dedi.
“Lokasi terakhirnya ada di perusahaan tuan Tamar sendiri.” Dedi yang
mendengar lansung tercekat.
Tut
Dedi mematikan ponselnya sepihak. “Ada apa?” Tanya Tamar penasaran saat
melihat raut wajah Dedi.
“Maaf, tuan. Sepertinya ini adalah sebuah konsprasi.”
Tamar mengernyit bingung, begitu ula denga Alber yang asyik menyimak.
“Nama pengguna yang menghubungi anda dan Nyonya besar saat Nona Nazeera berada
terakhirnya…” Dedi juga mejeda ucapannya untuk memperhatikan raut wajah dari
tuannya.
Tamar melotot karena menanti sambungan dari cerita tersebut. “Lokasi
terakhirnya ada di sini tuan.” Dedi menggigit ujung lidahnya mencoba menahan
hasrat amarah dari tuannya.
Tamar yang mendengar ucapan dari Dedi, otaknya seakan mendidih, tangannya
terkepal hingga buku jarinya menusuk pada kulit. “Kurang ajar!” Hardik Tamar
marah. Menurutnya siapa yang bermain-main dengan keluarga Mise.
Alber dan Dedi sudah siap akan kemarahan tuannya, toh mereka juga hanya
__ADS_1
bawahan.
“Apakah ini pelakunya adalah salah satu karyawan di sini?” Gumam Tamar
menerka-nerka.
“Bagaimana makanan yang ada di sana? Sebelum acara, apakah makanan di
sana di pesan atau Amma yang membuatnya?”
“Kalau soal itu, tuan Jaya yang menyuruh saya memesan makanan. Amma hanya
memasak sedikit khusus makanan untuk Nona Zee. Saya sudah cek dari temat saya
memesan makan, tapi tidak ada kecurigaan dan hasil cctv juga menunjukkan
kebenaran.” Terang Dedi.
Tamar mengusap dagunya sambil berfikir.
“Apakah Amma sudah tahu tentang kejadian di sana?” Alber ikut bertanya.
Dedi menggeleng pelan, "Belum."
Bersambung...
.
.
.
Mohon untuk dukungannya berupa like, vote, and komen. Terimakasih!!!
jangan pernah bosan menunggu yah...
Aku padamu....
SELAMAT MENANTI...!!!
__ADS_1