
Setelah puas tertawa dan bercanda bersama, Nazeera mengajak Mitha ke suatu tempat. Sekarang terbalik, malah Nazeera yang mengemudikan motor Mitha.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" Rutuknya, karena sedari tadi motor melaju terus.
Mitha wanita tomboi, dia memakai celana panjang jeans, badan bagian atas selalu dia tutupi dengan memakai jaket hingga bisa menutup kepalanya. Pakaian yang dia pakai serba luntur dan kusam. Menurutnya, selagi layak pakai tidak ada salahnya untuk dipakai lagi.
Dia hanya hidup dengan Miko, saudara satu-satunya. Hidupnya terbilang memprihatinkan, memiliki uang pun dia jaga agar tak boros bagaimana pun caranya. Banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa Mitha sangat pelit, tetapi dia tidak peduli dengan ocehan orang.
"Sebenarnya loe mau kemana sih?" Tanya Mitha sekali lagi karena kesal.
Nazeera selalu melamun, "Hey, loe jangan melamun saat berkendara, bahaya!!!" Serunya sedikit mengguncangkan punggung Nazeera.
"Hem, ngak melamun. Cuman berfikir." Sangkal Nazeera.
"Yaelah, apa bedanya comot?!"
Nazeera memarkirkan motornya di sebuah mall terbesar di daerah itu. "Eh - eh kenapa kita masuk ke tempat ini?" Tanya Mitha menengadahkan pandangannya.
"Sudah ngak apa-apa, aku mau traktir kamu hari ini karena sudah mengajak dan menemani ku setengah hari ini." Semangat Nazeera.
Tiba-tiba seorang lelaki memakai pakaian sekuriti menegurnya, "Hey!!! Di sini bukan tempat parkir." Tegur satpam itu.
Nazeera menoleh saat selesai melepaskan helemnya. Bukannya di sini adalah tempat yang biasa aku memarkir. Kenapa bisa jadi seperti ini?!
Mata Nazeera mencari sesuatu, ternyata benar, dia salah parkir saat melihat tanda dengan jelas.
"Hahaha, maaf pak." Ucapnya tersenyum kikuk melihat banyak mobil berjejeran diantara motor buntut milik Mitha.
Aduh, baru kali ini aku bener-bener ngak fokus. Kebiasaan nih parkir mobil di sini. Jadi ikut-ikutan deh sama motor.
Sesal batin Nazeera.
"Makanya loe jangan melamun, gue malu tau." Bisik Mitha.
"Iya iya iya. Maaf deh." Balas Nazeera.
"Ini dimana pak parkirnya?" Tanya Nazeera basa basi menutupi malunya.
Satpam itu hanya menatap penuh selidik, apalagi saat melihat Mitha yang terlihat begitu katro dan juga penampilannya.
Kalau mau ngamen, jangan disini. Nona satu ini cantik dan terlihat terbiasa keluar masuk mol, tapi paling hanya cuci mata doang. Pasti mereka hanya bersandiwara agar dapat masuk ke tempat ini untuk menculik atau mengamen di dalam. Aku sangat mengenal orang-orang seperti kalian gadis-gadis.
Batin sekuriti itu tersenyum remeh.
"Sebaiknya lurus kembali kemudian belok kiri."
Hah?! Bukankah itu jalan keluar? Tanya Nazeera pada batinnya sendiri.
__ADS_1
"Yang benar donk pak."
Sepertinya dia pekerja baru di sini.
"Iya, mana ada orang yang seperti Anda bisa masuk ke sini?" Ucap satpam itu terus terang.
"Owhh, terimakasih yah bapak telah mengingatkan status kami." Nazeera membungkuk sopan dengan menahan emosi. Menurutnya tak perlu satpam itu mempermasalahkan siapa saja yang masuk. Dia cukup memberikan pelayanan yang baik.
"Apa yang kalian tunggu?! Ayo cepat keluar!" Seru satpam itu sedikit keras.
"Santai donk pak, ngak usah ngegas gitu." Timpal Mitha ikut emosi.
"Sudahlah Mit, aku tahu kok seluk-beluk tentang mol ini." Lerai Nazeera.
Satpam itu tak menggubris, menurutnya hanya bagian dari sandiwaranya saja.
"Sudah cepatan keluar!!!" Ucap satpam itu dengan percaya diri. Semoga dengan ini, derajat akan bertambah dan orang-orang menganggapnya dapat diandalkan.
Seorang pria yang baru saja tiba ingin masuk ke mobil menegur mereka, "Permisi, ada apa ini?" Tanya pria itu.
Sang sekuriti itu semakin besar kepala melihat sang pemilik saham terbesar di mol ini ikut berbicara, "Bukan apa-apa, Pak. Nona ini hanya salah masuk." Sangkal sang sekuriti.
Nazeera menatap pria itu dengan tatapan kosong, sedangkan senyum Mitha mengembang. Sebuah ide timbul begitu saja karena kesal dengan satpam yang mengatakan tak sesuai kenyataan.
Pria itu melihat wanita-wanita ini dan juga ucapan dari sang satpam, dia menyimpulkan sendiri jika satpam itu tengah berbohong. Pria itu menatap sang sekretaris, "Ded, loe urus semuanya." Ucap pria itu memakai kacamata hitamnya kemudian melangkah untuk memasuki mobil.
Suara Jaya terdengar begitu dingin, tak ramah ataupun menatap Nazeera seperti biasanya, dia hanya melihat dari ekor matanya saja.
Seharusnya kamu bersyukur dicintai oleh bos seperti Jaya Nona Nazeera. Batin Dedi.
Mendengar pengakuan seperti itu, senyum satpam itu terbit, menurutnya trik ini berhasil dan sedikit lagi pangkatnya akan dinaikkan, hingga dia semakin percaya diri di depan gadis-gadis itu.
"Sayang, kenapa kamu malah diam saja? Dia itu mau mengusirku." Rengek Mitha bergelayut manja di pundak Dedi sambil melirik ekspresi satpam itu. Di dalam hatinya, semoga saja tuan tajir ini menolongnya dan tak mempermalukan dirinya.
Satpam itu langsung gelagapan, kalau emang tuan ini pacar dari nona ini, maka impiannya akan jadi terbalik. Dia kembali menyesal atas perbuatannya sendiri.
Ekspresi Dedi kaget, dia kembali melirik ke arah Nazeera tampak meminta jawaban. Nazeera menganggukan kepalanya lalu berkedip seperti sedang berkata 'Sudah, ikuti saja permainan Mitha.'
Di sisi lain, Dedi berbisik di telinga wanita itu, "imbalan apa yang kau berikan kepada ku?" Ucapnya dengan maksud bercanda.
Mitha tak mengetahui kalau Dedi dan Nazeera saling mengenal. Hingga dia gelagapan sendiri dengan bisikan itu.
Waduh, mati aku. Kalau gue ngak turuti, bisa kena dua M nih, mati dan malu, malu dan mati. Rutuk batin Mitha dengan rahang mengeras.
"Sa-say..."
Ucapan Mitha terpotong karena Dedi, "Kamu, mulai sekarang ambil cuti untuk selamanya." Ujar Dedi dengan aura dingin.
__ADS_1
***
Setelah urusan mereka selesai di parkiran, Nazeera menemui Dedi, "Ded, thanks yah."
"Hem bukan apa-apa, Nona. Ini hanya perintah Tuan Jaya saja." Ucapnya merendah.
Mitha bingung, "Kalian saling kenal?"
Dedi dan Nazeera mengangguk, Aduh, ada rasa syukur dan juga sesal sih. Andai gue tau kalau dari awal dia emang mau nolongin kami, gue juga ngak mau ngorbanin diri untuk mempermalukan satpam itu,
Suntuk Mitha membatin.
"Ded, aku mau ingin berbicara dengan Jaya. Kamu sampaikan pesan ku padanya. Aku tunggu di Caffe mol ini."
Aku harus bicara dengannya, semoga apa yang aku putuskan adalah yang terbaik untuk ku. Akh sudahlah kenapa aku seperti ini yah? Atau aku termakan akan ucapan Mitha yah. Tegur Nazeera pada dirinya.
"Baiklah, Nona. Saya akan menyampaikan pesan Anda." Dedi membungkuk permisi.
"Tadi itu siapa, Na?" Tanya Mitha sambil berjalan menuju tempat yang Nazeera maksud.
"Dia itu sekretaris Jaya." Jawab Nazeera seadanya.
Semoga ini keputusan yang terbaik.
Di Caffe
Nazeera dan Jaya bertemu canggung, sedangkan Mitha dan juga Dedi memilih meja terpisah.
"Jay, aku mau ngomong sama kamu."
"Silahkan, waktu mu hanya 10 menit." Ujar Jaya datar tanpa ekspresi. Dia mengalihkan pandangannya.
(Kira-kira apa keputusan Nazeera yahh?🙄🙄🙄🤔🤔🤔)
Bersambung...
.
.
.
assalamu'alaikum..
halo tman2 kira2 apa yah keputusan nya? Ayo Jan lupa tinggalkan jejak berupa vote like and komen..
mampir ke karya kedua ku yah.
__ADS_1
- Senior, Aku Padamu
SELAMAT MENANTI 💕🤗