Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ditinggal Nikah (DN)


__ADS_3

Dedi memberanikan diri mengetuk pintu.


Tak ada balasan dari dalam, "Nona?  Apa nda baik-baik saja"


Cekek


"Nona?!" Teriak Dedi.


Dedi mengedarkan pandangannya setelah melihat meja kosong, begitupula dengan sofa yang ada di sana.


"Apa sih, Ded?" Gerutu wanita itu merasa kesal.


Dedi kaget saat tiba2 seorang wanita muncul begitu saja dari kolom meja.


"Aaawww." Keluh Nazeera saat ingin bangun malah terbentur di meja.


"Apa yang nona lakukan di bawah meja?" Tanya Dedi seraya menyusul wanita itu.


"Sedang makan." Balasnya ketus mengusap kepala.


Emamg ada yah orang makan di bawah kolom meja? Yang saya tahu hanya di kolom jembatan, ngak mungkin juga kan makan di bawah kolam renang!


Batin Dedi mengangkat sebelah alisnya.


"Apa kita perlu ke rumah sakit nona?" Tanya Dedi melihat Nazeera sangat ke sakitan.


"Ngak usah! Otak mu aja yang paranoid." Dumelnya.


"Orang cuman di sini juga, malah teriak seperti tarzan, seperti di hutan saja."


Nona, berhentilah seperti itu. Anda tidak tahu saja, jika tetjadi sesuatu dengan anda di negara ini, maka saya yang akan mendapatkan konsekuensinya.


Dedi hanya diam didekat meja Nazeera ketika mendengar omelan wanita itu.


"Lain kali gak usah pakai teriak-teriak segala!"


Dedi membungkuk.


Nona seperti singa saja.

__ADS_1


"Kau mau tinggal di sini, atau mau pulang?" Sarkasnya naik pitam.


"Pulang, Nona!"


"Yang suruh kau tinggal di sini siapa?" Nazeera menghentakkan kakinya menuju lift. "Argh... Ada apa dengan diri ku?" Lanjutnya bergumam seraya menghapus genangan air matanya.


Dedi masih setia mengikutinya, Sebenarnya siapa wanita tadi?


***


Satu minggu telah berlalu, Nazeera masih tergiang tentang wanita yang pernah mengunjunginya.


Dring Dring Dring


"Halo, Bun..."


"Apa kabar? kenapa ngak pernah menelfon?" Tanya Raha lembut.


"Iya bun. Di sini Zee masih beradaptasi. Nanti aku telepon lagi yah."


Nazeera mematikan panggilannya.


"Ded, apakah masih ada yang lain? Saya ingin pulang."


"Nona... Anda perlu mengadakan rapat sebentar di restoran sekaligus makan siang bersama klien."


Nazeera mengangguk. Dia malas berdebat.


Aku sangat merindukan bang Tamar. Menjadi orang kaya tak seindah yang kubayangkan. Otak ku koslet gegara tumpukan berkas di hadapan ku.


Batin Nazeera memijat kepalanya yang sakit.


Tok tok tok


"Ada pa lagi, Ded?" Tanya Nazeera tanpa membuka matanya.


"Ini minumannya, nona."


Dedi menyodorkan minuman. Nazeera membuka matanya. "Tak salah Jaya memilih mu sebagai Asisten. Ternyata kinerja mu sangat memuaskan." Puji Nazeera.

__ADS_1


Aku merindukan suami ku.


"Terimakasih pujiannya nyonya." Dedi tersipu malu.


Nazeera tersadar bahwa dia memuji Dedi.


Menyebalkan. Kenapa harus keceplosan.


"Aku mau tidur, Ded. Jika ada sesuatu bangunkan diri ku. Kepalaku sangat sakit. Terimakasih untuk minumannya."


Dedi keluar. Dia sudah tahu maksud ucapan dari Nazeera. Memang selama ini wanita itu sudah belajar sangat giat. Walaupun kadang menyakiti hati dan telinganya.


"Kau mengaketkan ku." Ketus Dedi pada Lika.


"Kau sendiri," Menunjuk Dedi kasar. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya memicingkan mata.


"Hey, apa yang anda pikirkan?"


"Kenapa kau bertanya seperti facebook? Apa yang anda pikirkan. Pertanyaan itu hanya milik facebook. Jangan mencopynya. Plagiat namanya. Ingat hanya milik facebook." Lika menekankan kata terakhirnya dan mendorong Dedi agar dia bisa masuk ke dalam ruangan Nazeera.


Bersambung...




Kami turut berduka atas berpulangnya syaikh kita ketempat yang sebenarnya. Dan juga yang menimpa pesawat Sriwijaya. Musibah banjir dan yang lainnya.


Semoga kita semua dalam lindungan ilahi..


Oia...


kita berali ke novel lagi yah..


mampir ke novel ke dua ku yah..



terimakasih....

__ADS_1


Miss U.


salam hangat dari Nazeera.


__ADS_2