
Aldebaran melihat Nazeera berlalu begitu saja, sesaat kemudian, dia berhenti dan menghadap ke Nazeera.
"Nona..."
Cussss
Nazeera langsung merubuhkan pelukan di dada Aldebaran. Debaran jantung nya yang tak karuan meyakinkan dirinya. Atau mungkin saja dia tak terima jika itu adalah Aldebaran. Wajahnya hanya mirip saja.
Hikz hikz hikz
"Aku merindukan mu." Ucap Nazeera memeluk erat tubuh Aldebaran. Kerudung yang ia kenakan tak lagi beraturan akibat mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan Aldebaran.
Aldebara diam saja, memasang wajah jijik. Lama kelamaan, diapun mengalami hal yang aneh pada dirinya. Debaran jantung Nazeera dia dapat rasakan juga.
"Jay..." Nazeera semakin memeluknya erat. "Kamu jahat!" Tudingnya.
Hikz hikz hikz
Nazeera mengingat kembali percakapannya saat di depan mall. Jaya berjanji tak akan mengganggunya lagi, sekarang dia sudah bertemu dengan Jaya.
Al memegang pundak Nazeera, kemudian dia menghempaskannya kasar. Hingga tubuh wanita itu terjatuh.
Brug
Nazeera mendongak, dia melihat Al mengibaskan bajunya, seakan merasa jijik atas sentuhan wanita itu.
"Dasar wanita murahan!" Maki Al, "Penampilannya aja muslimah, tapi kelakuannya seperti tak berakhlak. Menjijikan! Chi." Al sangat geram. Tiba-tiba seorang wanita yang baru ditemuinya kemarin langsung main peluka tanpa permisi. Dan membuat dirinya jadi bahan tontonan di antara pengunjung lainnya.
Nazeera memegang dadanya sakit.
__ADS_1
Hikz hikz hikz
"Haaaaaa...." Teriak Nazeera di siang bolong. Teriakannya itu membuatnya menjadi tontonan pula. Banyak pengunjung berbisik-bisik.
"Kalian lihat apa?" Sarkas Al pada para pengunjung.
Dring dring dring
Ponsel Al berdering.
"Ya... Kau jadi cewek tak sabaran sekali! Tunggu saja. Dasar manja!" Tukas Al setengah teriak. Langkanya dia percepat menuju ruang janji temu.
Sedangkan Nazeera ia hiraukan, tak lagi melirik ataupun menoleh.
Seharusnya aku sadar, bahwa dia bukanlah Jaya. Tapi hati ku berkata lain. Dia hanya sekedar mirip saja. Benar kata bang Tamar.
Dring dring dring
"Apa yang kau lakukan, bodohh! Cepat berdiri!" Maki Tamar.
"Aku sudah memperlihatkan diri mu bahwa Jaya sudah MATI! Dan yang ada di depan mu itu bukan lah dia, tapi kenapa kau selalu saja ngotot?" Tamar terus saja berceloteh tanpa memikirkan perasaan sang adik.
"Ke-kenapa abang tau kalau_"
"Itu bukan urusan mu! Cepatlah berdiri, jangan bersimpuh seperti wanita bodohh. Sudah jadi Jader tapi masih saja bodohh!"
"Abang!!!" Nazeera berdiri dengan kasar, ternyata memang benar dia sangat bodohh, membuat dirinya jadi bahan tontonan. Tapi tetap saja dia tidak terima jika dikatain bodoh."
Huff
__ADS_1
Dasar abang durhaka.
"Bang? Apa Dedi yang melapor lagi?" Tebak Nazeera. Dia pikir rencananya hari ini akan berjalan mulus tanpa sepengetahuan Tamar, tau-taunya dia tahu juga.
Kalau bukan Dedi yang tanya, siapa lagi.
Sungut batin Nazeera kesal.
"Itu bukan urusan mu. Aku ingin kau kembali ke tanah air, aku sudah meneloon Dedi agar memesankan mu tiket untuk besok." Tamar langsung mematikan panggilannya.
Nazeera bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi? Kenapa Tamar menyuruhnya untuk kembali?
Pikiran Nazeera kembali ke Dedi.
"Dasar Dedi kurang di hajar!!! Awas kau yah berani melapor!" Tuding Nazeera. Dia berjalan kesal menuju parkiran.
Prak
Supir itu bingung, ada apa dengan nonanya, kenapa dia kembali dengan wajah penuh amarah, tapi ada juga kesedihan di wajahnya.
Ingin bertanya takut di pecat.
"Ke kantor!" Pinta Nazeera dengan nada jengkel.
Setengah jam kemudian, mobil telah tiba. Nazeera memasang wajah dinginnya. Tak ada senyuman, apa lagi lirikan. Dia hanya berjalan menuju lift.
Bersambung...
**Happy reading....
__ADS_1
Jan lupa VOTE LIKE DAN KOMEN...
CRAZY UP 😊😊**