Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
BAB 80 DITINGGAL NIKAH


__ADS_3

Maaf jika ada typo.. Aku belum ada waktu buat revisi... 🙏🙏🙏 Berbelit2? Nanti aku revisi juga.🙏🙏💕💕


SELAMAT MEMBACA....


***


"Minum dulu, Nak minumannya. Ini kopi buatan Mitha loh tadi." Seru Amma ramah melirik Mitha tampak malu.


Tamar mengangguk mengiyakan. Dia masih mengamati secara seksama ruangan itu, apakah ada hal yang mencurigakan atau tidak. Itu masih mengenai kejadian tiga bulan yang lalu. Sebelum Nazeera menikah dengan Jaya.


Amma masih canggung untuk berinteraksi dengannya. Hatinya bertanya-tanya, ada apa beliau berkunjuk. Tapi lisannya keluh.


Sruuuppp


Kopi hidangan Amma telah di minum Tamar. Suasana di sana masih canggung. Anak-anak yang lainnya masih sekolah. Sedangkan Apar, masuk sekolah pukul siang.


"Nak, Tamar. Di sini dulu yah cerita bersama Mitha. Amma ke pasar dulu bersama Apar." Izin Amma memberikan mereka berdua ruang. Mungkin hanya itu sebagai pelengkap cerita di suasana canggung itu.


"Sebaiknya bawa Mitha ke kamar saja, Nak!" Seru Amma lembut saat melihat Mitha sudah suntuk di sofa. "Biarkan dia istrahat saja."


Mitha hanya diam, hingga gendongan kedua membuat dia terkejut. Amma sudah berlalu pergi bersama Apar.


"Kau mau jatuh atau aku buang sekalian?" Tamar selalu saja bersikap acuh. Dia mengatakan itu karena Mitha tetap saja kekeh pada pendiriannya, tak ingin berpegangan walau sudah mau terjatuh.


Dengan gugup, Mitha memeluk leher Tamar. Kepalanya di rapatkan di dada Tamar.


Dug dug dug


Itu yang dia dengar, apakah jantung Tamar sama dengan debaran jantungnya?


Apakah jantung ku normal? Gak, jangan sampai aku jatuh cinta.


Brug


Tamar sedikit kasar menyimpan Mitha di tempat tidir.


"Aawwww." Mitha merasa nyeri di bagian kaki dan juga bokongnya.


Tiba-giba Tamar mencekik Mitha. "Apa yang kau campurkan pada minuman itu?" Ucap Tamar kasar, penuh berapi-api.


Rasa dalam dirinya dipenuhi gairah. Dia butuh pelepasan saat itu juga.


Mitha yang tercekik berusaha melepaskan cekalan Tamar di lehernya. Dia ingin meminta tolong, tapi tak mampu.

__ADS_1


Brug


Tamar melepaskan cekalan itu. Dia mendorong Mitha kasar. Hingga wanita itu terbaring.


Uhuk uhuk uhuk


Mitha sudah menangis atas perlakuan kasar pria di depannya. Selama ini dia memang selalu ketus, tapi tak memyakitinya. Ada apa dengannya? Tatapan itu, seakan menginginkan dirinya.


"Kenapa? Apa yang kau campirkan ke dalam minuman itu? Kau sengaja melakukannya kam?" Ucap Tamar masih berteriak. Berusaha melawan hasrat yang ingin segera dituntaskan.


Mitha menggeleng, dia menangis memegang lehernya yang masih sakit.


Hikz hikz hikz


"Untuk apa kau makai kerudung ini?" Tanya Tamar menarik kasar kerudung yang di kenakan oleh Mitha.


"Jangan..."


Mitha menahan kerudungnya yang masih tersemat di kepala. Hikz hikz hikz


"Baiklah, karena kau yang memintanya, maka kau jangan lolos dari ku. Inikah yang kau inginkan." Tamar mwncium kasar bibir Mitha, tapi wanita itu langsung menghindar.


*Hikz hikz hikz


Tuhan, aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Mengapa dia seperti* ini.


"Ini kan yang kau inginkan, dasar ja*lang!" Menyelusuri tubuh Mitha setengah polos dengan lidahnya.


"Komohon, jangan lakukan ini." Pinta Mitha iba menahan kepala Tamar.


Prak


Tamparan mendarat mulus begitu saja, "Kau sendiri yang menginginkannya, kau mencampurkan obat ke dalam minuman ku kan?" Ujarnya mencengkram keras dagu wanita itu. Menarutnya, setelah meminum minuman itu, tubuhnya sudah menyalurkan sensasi aneh. Dia sendiri tau apa itu.


Dengan kasar dia menggigit salah satu dada Mitha.


Aaaaaaaa


Rintih Mitha. Walau bagaimana pun Mitha berteriak, tak akan ada yang mendengarkannya.


Melawan pria di depannya? Bahkan berjalan saja hanya mampu menopang dengan tongkat. Lalu bagaimana caranya dia lolos dari kungkungnan Tamar.


"Tuaaaaann..." Mitha sakit hati atas perlakuan Tamar. Hingga, tubuhnya sudah nampak polos. Luka di kakinya tak lagi dia rasakan, dia hanya bisa menjerit, menangis.

__ADS_1


Tamar kembali mencium bibir Mitha kasar, semua aktivitas yang dilakukan pada saat itu kasar. Tak ada kelembutan, tubuhnya di penuhi dengan hawa nafsuh memburu. Tak da lagi perlawanan pada Mitha. Dia menyerah, andai kakinya masih bisa bertumpu. Mungkin dia bisa berlari saat itu juga. Tapi sayang...


Kini, Tamar tak peduli lagi atas jeritan wanita di depannya, yang terpenting, hasratnya terpenuhi. Toh, ini juga adalah perbuatan Mitha sendiri.


Tamar mengunci lengan Mitha, kemudian menelusuri tiap inci, seperti orang kelaparan saja. Tak ada jeda. Permainan tangan tak lupa dia lakukan hingga kini Mitha sudah tampil polos.


Tamar melupakan bahwa kaki Mitha sedang sakit. Dengan kasar, dia membuka kaki wanita itu dan memasukkannya kasar.


Mitha berusaha menutupinya, lagi-lagi Tamar menatap tajam Mitha dan memberinya tamparan kedua. Otong Tamar tak sabar untuk masuk ke istana. Mitha tak lagi peduli, suaranya mereda. Menyisakan isakan.


Mencoba sekali namun belum berhasil, jeritan Mitha mereda. Tamar tak peduli, sungguh bia*dab.


Serttttt


Dorongan kedua sudah berhasil memasuki istana.


Shit. She is virgin.


Umpat batin Tamar.


Aaaaaarrrrrrgggg


Mitha mencengkram kuat punggung Tamar. "Maaaaaaaa."


Hikz hikz hikz


Tamar tak banyak bicara, melainkan banyak gerak.


Setelah memasuki istana, Tamar langsung berjalan tanpa jeda. Tak memperhatikan wanita di bawahnya bahwa wanita itu sakit atas bawah.


...........................................


Bersambung....


Jan lupa VOTE LIKE DAN KOMEN


agar bsok green up lagi...


love u mak2 ki syang ku cinta ku padanya.


Pada penasaran kan? Masih ada misteri... Ceritanya, Tamar mencari kebenaran, jadi Nazeera aku skip dulu.


Dedi apa kabarnya yah? Jika penasaran, masukin di kolom next yah. Pasti dia pusing atas atasannya yg kabur tuh ke tanah air. xixixixi. wkwkwk

__ADS_1


BYE...


HAPPY READING...


__ADS_2