Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ajakan ke Bandara


__ADS_3

"Kenapa gak tahun depan aja bukain pintunya?" Ketus Tamar pada istrinya ketika melihat sang istri membuka pintu yang terkunci rapat dari luar.


Deg


Mitha hanya bisa diam sambil memegang erat kepalan tangannya.


Mengapa setiap di hadapan Mas Tamar keberaian ku hilang begitu saja?


Mitha mengingat saat dulu dia begitu bar bar. Mengapa saat ini keberanian itu hilang saat dihadapan sang suami?


Di meja makan, Mitha berinisiatif memanggil suaminya sendiri. Dia meminta izin untuk memanggil sang suami dikarenakan merasa tidak enak oleh orang-orang yang sudah duduk di meja makan.


Mitha ke kamar. Berjalan menahan sakit di bagian luka. Tapi saat tiba di dalam kamar, Tamar tidak ada. Tak lama kemudian, terdengar telepon genggamnya berbunyi. Panggilan itu tak lain dari Tamar.


"M-maaf Mas." Cicit Mitha.


Tamar langsung keluar. Mitha ditinggal begitu saja.


Tes


Pada akhirnya runtuh juga anak sungai di pelupuk mata wanita itu.


Sabar Mit... Ini adalah ladang pahala. Mas Tamar adalah ujian untuk meraih pahala. Ingat. PA-HA-LA.


Tamar sudah hampir tiba di ruang makan, sedangkan sang istri masih menuruni tangga secara tertatih.


Tanpa menunggu sang istri, Tamar langsung duduk. Dia menatap Jaya tajam. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh masa bodohh dengan tatapan itu. Dia tak merasa bersalah sama sekali.


Mitha yang melihat sang suami sudah duduk di kursi membuat hati kecilnya tersenyum kecil. Rasanya, Tamar tak akan pernah memenuhi keinginan hati kecil Mitha. Walau terbilang sederhana, namun wanita itu meginginkannya.


"Kakak ipar?" Tegur Nazeera melihat Mitha hanya berdiri di dekat pembatas.

__ADS_1


"Ya..." Sahutnya.


"Ayo makan..." Ajaknya tersenyum sumringah.


Mitha mengangguk. Dia berjalan di dekat sang suami duduk.


Melihat Tamar sudah mengambil nasi dan juga lauk. Mitha semakin kecewa. Wanita itu rupanya terlalu berharap dari pernikahannya ini. Dia ingin melayani suaminya, tetapi terlambat.


Mitha menarik nafas pelan. Dia ikut menikmati sarapan yang terbilang terlambat itu.


...****************...


"Zee... Kamu sibuk gak hari ini?" Tanya Raha disela-sela membersihkan meja makan.


"Ada apa bun?"


"Bunda mau ke Jepang bersama ayah hari ini. Kalau kamu tidak ada pekerjaan, bolehkah kamu meluangkan waktu untuk mengantar bunda ke bandara?"


Mitha hanya menjadi penyimak. Rutinitas seperti ini sudah terbiasa bagi para pelayan. Awalnya memang merasa tidak enak, karena itu adalah pekerjaannya. Namun seiring berjalannya waktu, dia sudah terbiasa dengan sikap sang majikan.


"Mitha sayang... Kamu mau kan mengantar bunda ke bandara?"


Mitha yang sibuk, menjadi bahagia. Rupanya sang mertua benar-benar menganggap dirinya anak.


Tanpa banyak bicara, Mitha mengangguk begitu saja. "Tapi bun... Mitha izin dengan Mas Tamar dulu."


Raha mengangguk. Kemudian tatapannya dia alihkan ke Nazeera yang terbengong. "Zee... Kamu bisa kan?"


Orang yang ditanya malah menatap Raha nanar. Ada apa?


"Iya bun... Tapi tumben bunda ingin diantar ke bandara?"

__ADS_1


"Gak apa-apa. Jarang-jarang kan kita mau jalan bareng."


Nazeera memutar bola matanya malas. "Dimana-mana tuh yang namanya jalan bukan ke bandara bun. Tapi ke mall." Nazeera terkekeh.


Raha langsung terdiam. Tak lama dia tersenyum melihat senyum anaknya yang menawan.


"Baiklah bundaku sayang." Nazeera mencium pipi sang bunda. "Aku mau ke kamar." Pamitnya.


Raha mengangguk. "Bunda juga mau ke kamar, mau siap-siap." Raha menoleh ke arah sang menantu.


Bruk


Mitha langsung menghamburkan pelukan ke arah Raha.


Hikz hikz hikz


Raha yang dipeluk menjadi heran sendiri. Ada apa dengan menantunya?


...****************...


Maaf yah. green up sedikit.


Jan lupa readers like komen dan subscribe nya besti


buat pembaca baru welcome . semoga betah yah.


buat pembaca setia green, trmksih


buat pembaca goib, jan lupa like komen dan subscribe .


1 iklan sangat berarti buat otor...

__ADS_1



__ADS_2