Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Penyesalan dan Kekesalan


__ADS_3

Setelah Nazeera selesai diperiksa, "Nona Nazeera hanya terbentur dengan ringan di bagian kepala. Namun, kami juga harus melakukan Scan untuk memastikan bahwa Nona baik-baik saja. Termasuk di bagian dada. Kami ingin memeriksa melalui scan, karena benturan yang terjadi akan berakibat fatal jika tidak segera di tangani." Tutur dokter menjelaskan.


Jaya berulangkali menyesali dirinya, Maafkan aku sayang, aku yang membuat kamu seperti ini. Batin Jaya mulai menatap sedih.


"Namun anda jangan khawatir, Tuan. Ini hanya baru dugaan. Sebelum hasil scan keluar, baru kita akan mengetahui hasilnya." Lanjut dokter itu saat melihat Jaya bersedih.


Jaya mengangguk, "Silahkan."


Maafkan aku Nazeera, gara-gara kebodohan ku kamu jadi seperti ini. Semoga kamu baik-baik saja, sayang. Aku janji tidak akan menghiraukan mu lagi. Aku menyesal.


Sesal batin Jaya.


Jaya hanya sibuk memikirkan keadaan Nazeera tanpa bertanya sekali pun tentang Mitha.


Setelah 20 menit kemudian, Nazeera sudah kembali ke tempatnya. Hasil pemeriksaan yang dilakukan baik-baik saja, tidak ada yang perlu diperhatikan.


"Jika ada keluhan, mohon hubungi kami segera." Dokter itu pamit keluar meninggalkan Jaya dan Juga Nazeera.


Jaya mengangguk mengerti, dia kembali menatap sendu wajah Nazeera yang lebam. "Sakit?" Tanyanya lembut. Tangannya mengusap lembut wajah Nazeera.


Alat-alat yang terpasang sudah dilepas karena Nazeera sudah jauh lebih baik.


Nazeera mengangguk, "Apa bunda tahu?" Tanya Nazeera pelan. Rahangnya terasa sakit.


Jaya menggeleng, "Aku tidak memberitahunya. Aku belum memberikan kabar."


Nazeera kembali mengingat sang bunda saat pagi hari sebelum keluar rumah, Seharusnya aku tak bersikap seperti itu terhadap bunda. Mungkin ini balasan terhadap ku.


Nazeera menangis.


Jaya panik, "Apa masih ada yang sakit? Ku mohon janganlah menangis." Jaya merasa bersalah.


Nazeera menggeleng pelan, bagian leher terasa sakit. Mungkin saja pengaruh saat terdorong. "Mitha?! Bagaimana keadaan Mitha sekarang?" Tanya Nazeera dengan suara hampir tak terdengar.


Jaya tersenyum, "Dia baik-baik saja." Jawabnya. Padahal dia sendiri belum mengetahui bagaimana keadaannya.


Jaya meraih tangan Nazeera lalu menaruhnya di dagunya, "Kumohon, jangan tinggalkan aku." Jaya merasa takut terhadap kondisi Nazeera.


Tok tok tok


Jaya menoleh ke sumber suara, seorang perawat datang membawakan makanan. "Permisi, Tuan, Nona. Ini makan malamnya."


Jaya memeriksa jam tangannya, ternyata betul sudah malam. "Terimakasih."


Setelah menutup pintu, Jaya kembali ke dekat Nazeera. "Sayang. Makan dulu yah?"


"Telepon bunda. Dia pasti khawatir." Nazeera tidak menjawab pertanyaan Jaya.


Bagaimana ini, kalau dia tahu kalau anaknya kecelakaan gara-gara gue, pasti bunda bakalan marah lagi. Apa gue telepon Tamar yah?!

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Nazeera saat Jaya tak merespon.


"Hustt, aku pasti akan menghubungi mereka." Ujarnya padahal dia sendiri takut untuk mengatakannya.


"Sekarang kamu makan dulu." Jaya mengarahkan sesendok bubur di hadapan Nazeera.


Nazeera membuka mulutnya, entah mengapa bergerak sedikit saja sangat kesusahan. Badannya terasa sakit semua.


"Bagaimana acara Akhyar?"


Jaya diam, mengapa selalu Akhyar Akhyar dan Akhyar? Kapan kah namanya juga akan dia tanyakan?!


"Aku belum ke sana. Aku tidak ingin meninggalkan mu. Acaranya malam ini. Mungkin sekarang sedang berlangsung." Jaya berusaha tenang agar tak cemburu.


Hening, Nazeera telah slsai makan. Meskipun menelannya dengan susah payah.


"Sekarang kamu istirahat yah?"


Nazeera memejamkan matanya, terdapat buliran air mata di sana.


Mungkinkah Nazeera menangisi lukanya?! Atau menangisi Akhyar yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya?!


Jaya menuju balkon rumah sakit. Dia memenangkan pikirannya di sana. Berharap Nazeera melihat ada banyak cinta di mata Jaya.


Jaya menyembulkan asap rokoknya, entah sudah berapa batang rokok yang sudah habis. Namun pikirannya masih menerawang dan juga suara Nazeera pada malam itu masih saja tergiang di telinganya.


Bagaimana kamu mau menikah dengan ku?! Sedangkan aku di sini sudah lama, namun kamu tak melihat cinta ku dengan tulus.


Tok tok tok


Jaya membuka pintu, ternyata Dedi yang datang. Tetapi tidak sendiri, melainkan dengan Tamar.


Brugh


"Loe itu, ngejaga aja ngak becus."


Jaya dengan senang hati menerima pukulan itu. Menurutnya, pukulan itu emang pantas didapatkan dari orang sepertinya.


Karena pengaruh obat, Nazeera tak bergerak saat ada kekacauan. Tamar menatap sedih adiknya, "Loe itu datang ke sini bukan mengurangi bebannya, malah membuatnya semakin terluka tau ngak." Ujar Tamar malas.


Tamar merasa prihatin terhadap nasib adiknya itu. Mengapa kebahagiaan belum juga dia dapatkan?!


Setelah puas memandangi nasib adiknya, dia ikut bergabung dengan Dedi dan juga Jaya di sofa.


"Kenapa loe bisa bersama dia?" Tanya Jaya pada Dedi.


"Dia telepon gue, nyari Nazeera. Yasudah, gue bilang aja terus terang." Ucapannya tanpa dosa dan berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Jaya membuat nyali Dedi menciut.


"Ekhem." Dedi berdehem menetralkan rasa takutnya.

__ADS_1


"Emang kenapa kalau gue tau? Gue lebih berhak daripada kalian." Tamar duduk menyilangkan kakinya.


Tamar sangat kesal terhadap Jaya, karena ulahnya dia berhasil membuat Nazeera masuk ke dalam rumah sakit ini.


"Ceritakan!" Ujar Tamar serius.


Dedi dan Jaya saling memandang, kemudian beralih ke Tamar. Sekarang Dedi jadi juru bicaranya Jaya. Dia menceritakan semuanya mulai dari parkiran hingga dibawa ke rumah sakit tanpa ada yang terlewatkan.


"Jadi anak itu kenapa sekarang? Gue harus berterima kasih kepadanya." Tamar menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat tangannya.


Dedi dan Jaya kembali beradu pandang, Jaya sama sekali tidak peduli dan mengetahui keadaan Mitha. Sekarang malah ditanya seperti ini membuatnya diam lagi.


"Gue baru datang, bos. Seharusnya loe yang jawab." Kesal Dedi pada Jaya.


Dedi juga belum mengetahui sama sekali keadaan Mitha. Menurutnya sudah ada Jaya, tetapi dugaannya salah, Mitha sama sekali tak dihiraukannya.


Tamar menghembuskan nafas kasar, "Bawa gue ke ruangannya." Tamar berdiri.


Jaya sama sekali tak ingin meninggalkan Nazeera dalam keadaan apapun.


Dasar bucin. Gerutu Dedi malas menatap Jaya.


Jaya menatap tajam ke arah Dedi, tetapi Dedi malah berjalan tanpa takut sedikitpun.


Tamar sudah berjalan lebih dulu, "Ded, loe masih berhutang penjelasan. Gimana tadi? Buktinya loe sudah dapat?" Tanya Jaya serius.


Dedi tampak berfikir, kemudian mengeluarkan ponselnya, "Ngapain loe mampir lagi?" Pekik Tamar sedikit berteriak.


"Bos, loe simpan dulu yah pertanyaan loe, ntar gue balik lagi. Pasti gue akan jawab semuanya."


Jaya melempar bantal sofa ke arah Dedi.


Bersambung...


.


.


.


Assalamu'alaikum...


Halo gaes, Jan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian yahπŸ’• like like like, 😣 yang baca banyak tapi yang like cumn beberapa apalg yg komen.. huwaaaaAAAAAAAAAAAAAAA, semngat ku berkurang.


Bagi yang mendukung Nazeera, Jan lupa mampir juga ke senior dan Bu guru yahπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ€—πŸ€—


Yang bosan, silahkan minggat ke novel ku yg lain🀣🀣🀣


AKU PADAMU. TERIMAKASIH

__ADS_1


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2