
Tanpa tersadar, Nazeera sudah tidur hingga menjelang isya.
"Astagfirullah... Aku ketiduran." Nazeera terbangun buru-buru ke kamar mandi.
"Aduh, datang bulan lagi." Gerutu Nazeera memeriksa laci untuk melihat stok pembalut yang tersedia.
"Sisa satu, setidaknya ada untuk malam ini."
Setelah selesai, Nazeera keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.
"Jaya kemana sih? Pergi tak berkabar." Gumamnya.
Akh mengapa aku sangat peduli.
Keesokan harinya, Nazeera menuju kamar Tamar namun dia tak menemukannya.
"Bi, bang Tamar mana? Kok Ngak ada di kamarnya dan di ruang kerja?"
"Tuan Tamar sudah pergi sewaktu habis subuh tadi." Ucap pelayan itu membungkuk hormat.
Nazeera mengerutkan keningnya, "Tumben bang Tamar pergi subuh." Gumamnya.
"Emang bang Tamar ngak bilang mau kemana?" Tanya Nazeera lagi.
"Tidak, Nyonya."
Nazeera mendesah atas panggilan baru untuknya.
"Aku punya suami, tapi merasa masih sendiri. Huft. Ini semua orang pada kemana sih?!" Kesalnya berjalan dengan gontai ke kamarnya.
Kruk kruk kruk
Nazeera memegang perutnya, "Jangan minta jatah dulu, aku lagi kesel." Gerutunya memegang perut.
Nazeera berinisiatif mandi kemudian menuju butik miliknya. Dia sebenarnya ingin meminta izin pada Jaya sebagai suaminya. Tetapi sekarang dia lagi kesal karena pergi tanpa memberi kabar apapun.
Saat tiba di butiknya, banyak orang yang melongo dengan penampilan barunya. Memakai skinny jeans berwarna biru dipadukan dengan baju blanik laya puffed sleeve mini dress lengan seperempat dan memakai pasmina yang senada dengan celananya. Dia biasanya keluar tanpa memakai kerudung. Namun Nazeera tetap saja berjalan dengan gontai hingga ke ruang kerjanya.
"Ada apa mba? Kok loyo lesuh lemas kek gitu?" Tanya Asyah saat ke ruangan Nazeera memberikan laporan.
Nazeera menggeleng mengangkat bahunya. "Aku hanya merasa kurang istirahat gara-gara kemarin." Nazeera bersandar di kursi kebesarannya.
"Emang kemarin kenapa mba?" Tanya Asyah antusias, kemudian duduk di kursi depan Nazeera.
__ADS_1
"Mba sangat cantik memakai hijab." Puji Asyah.
"Sebaiknya pesankan aku makanan aku sangat lapar." Nazeera tidak menggubris ucapan asistennya.
Asyah sudah keluar, walaupun masih sangat penasaran. Tapi dia melihat bosnya sangat pucat seperti kurang gizi, jadi dia pun pergi dan mengurungkan pertanyaannya.
Nazeera memperhatikan ponselnya, ternyata tidak ada pesan ataupun panggilan dari salah satu keluarganya, termasuk pesan ataupun panggilan dari suaminya.
Dia mengotak-atik ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
Tut Tut Tut
Panggilan terhubung, tetapi tidak ada yang menjawab.
Nazeera meletakkan dagunya di meja, "Aku sangat malas hari ini. Apakah aku sakit?"
Dia sendiri bingung malas karena apa. Apakah pengaruh dari menstruasi atau dari dari keluarganya karena tidak ada yang menghubunginya mesti cuma sekali.
Akh, aku pasti kek gini cuma pengaruh haid. Akh perut ku sakit.
Keluh Nazeera membatin.
Dia menelepon lagi, "Ayah? Bagaimana keadaan mu di sana? Aku sangat rindu."
Hah? Benarkah aku seperti itu? Tapi benar juga sih, aku jarang menelpon mereka.
"Apa kabar dengan bunda, Yah? Bang Tamar pergi dari sini. Ngak telepon Zee walau hanya sekali."
Orang di seberang sana berteriak, "Kamu sudah punya laki, masih aja manja sama kami-kami." Kekeh Tamar.
Masa iya aku harus bilang dengan dia kalau Jaya hilang.
"Oia, Abang menyusul bunda Ayah juga di sana? Kenapa tidak bilang?"
"Kepo. Hahaha."
"ihh, Abang katakan, kenapa menyusul?" Selidik Nazeera.
Tamar gelagapan, "Emm a-anu." Melirik ke ayahnya meminta bantuan. Kemudian melirik ke Raha yang terbaring di rumah sakit.
"Kok ngak dijawab? Abang ada apa-apa yah?" Suara Nazeera mulai meninggi.
"Ekhem, kamu kan pengantin baru, jadi wajar donk gue tinggalin."
__ADS_1
Nazeera mendengus, pengantin baru apanya. Aku sama-sama ditinggal nikah. Hikz, hidup ku gini amat. Ditinggal nikah dan sekarang masih ditinggal setelah nikah. Si om itu mana? Kok Ngak ngasih kabar juga. Aha?! Nazeera terbangun dari meja. Aku hubungi Dedi aja. Batinnya kemudian tersenyum senang.
Mise melotot pada Tamar karena bahasanya yang keceplosan dengan kata 'gue'.
"Hahaha, maaf ayah."
"Excuse me, Sir. Sorry sir, let the patient rest." Tegur perawat di sana sopan.
(Permisi, Pak. Biarkan pasien beristirahat dengan tenang)
Tamar gelagapan, bagaimana kalau misalnya Nazeera dengar. Dia mematikan teleponnya secara sepihak.
Sedangkan Nazeera masih asyik dengan pemikirannya, "Iya, setelah Abang, aku akan telepon dia. Halo, bang? Halo?"
Nazeera melihat layar benda pipih itu, "Yah, jadi selama ini aku bicara sendiri. Yasudah lah, aku telepon Dedi saja." Dia kembali lesuh.
"Aku kan ngak ada nomornya." Nazeera menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar suami!!!" Pekiknya.
"Suami siapa, Mba?"
"Suami tetangga." Ketus Nazeera menerima makanan dari Asyah.
"Ohh, jadi mba loyo lesuh lemas kek gitu karena suami tetangga, to. Emang dia kenapa? Dia nyari masalah ke mba? Atau mba yang ngak bisa move on? Ayo donk mba, come on." Cerocos Asyah karena yang dia tangkap adalah Nazeera memikirkan suami sahabatnya yaitu Akhyar.
Nazeera melotot ke Asyah, "Ambilkan aku jus mangga!" Geram Nazeera.
Dia sudah mulai memakan makanannya. Ponsel kembali berdering. Dia sangat bersemangat, tetapi saat melihat panggilan itu, semangatnya langsung down.
"Kenapa?" Datar Nazeera.
"Yaelah, Zee. Kamu seperti Abang mu saja. Aku cuman mau nanya, Jaya ada ngak di sana?"
Kalau Nazeera jujur, dan Ayu bertanya dia dimana, mungkin dia dikatakan sebagai istri di atas kertas, begitu pikirnya.
"Ada apa? Kok tumben nanyain dia."
"Yaa enggak sih, soalnya tadi aku nonton berita kecelakaan gitu. Namanya sama. Atau mungkin saja namanya aja kali yah yang sama. Yasudah deh, aku tutup dulu yah. Bye, semangat pengantin baru." Usil Ayu.
Deg
Jantung Nazeera berpacu, dia meletakkan sendok itu di piringnya. Kemudian menyalakan tv, makanan yang masih tersisa di mulutnya dia telan secara kasar.
__ADS_1