Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Bab 101 Ditinggal Nikah "Kebenaran"


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Nazeera terus menangis. Hatinya hancur mengetahui semua kebenaran yang dia dapatkan sendiri.


Tamar hanya diam. Mereka tiba di rumah pada malam hari.


"Jadi bagaimana? Saya serahkan semua keputusan kepada mu." Ujar Tamar saat Nazeera memegang gagang pintu mobil.


Nazeera hanya diam, wajahnya sembab. Selama perjalanan dia habiskan dengan menangis. Hari ini, Tamar memulangkan Nazeera di rumah miliknya.


"Aku nitip salam aja sama semua orang. Jangan katakan apapun padanya. Aku masih ingin sendiri."


"Baiklah." Tamar mengusap ujung kepala adiknya. "Jangan terlalu lama sedihnya." Lanjutnya menasehati.


***


Baru sehari kedatangannya di Negara tercinta. Tetapi sudah menimbulkan luka mendalam. Pikirannya masih menerawang tentang kejadian tadi.


"Ayu?!" Pekik Nazeera gemetar melihat sahabatnya di rantai. Ayu sudah tidak berdaya lagi. Raganya hidup, tetapi nyawanya seakan mati. Ingin bergerak pun tak ada tenaga. Itu semua karena ulah Tamar.


Nazeera kembali mendekati Tamar meminta penjelasan. "Abang?! Kenapa kau lakukan ini padanya? Dia sahabat ku! Kenapa kau siksa dia seperti ini?" Kekeh Nazeera teriak. Adab dalam lawan bicara terhadap yang tua dia lupa. Dia belum mengetahui yang sebenarnya.


Tamar hanya diam, menatap orang yang dirantai dengan penuh kebencian. Dalam hatinya mengutuk.


"Abang?!" Nazeera mengguncangkan tubuh sang kakak. "Sadarlah, Abang. Apa yang kau lakukan ini adalah salah." Nazeera mengingatkan lagi. Air matanya berhasil lolos. Dia bingung, mengapa Tamar mengurung Ayu? Bukankah dia juga adalah orang yang pernah ia cintai? Mengapa jadi seperti ini.


Tamar masih belum ingin berbicara. Dia bungkam mulutnya sendiri. Dia tak ingin menjelaskan perihal kesalahan sang mantan dengan mulutnya sendiri. Dia ingin, orang yang bersalah itu mengakui kesalahannya.


Hikz hikz hikz


"Bang... Lepasin Ayu, bang." Rengek Nazeera kembali mendekati Ayu. Dia berusaha melepaskan rantai yang ada di tubuh sang sahabat dalam keadaan gemetar.


"Zee... Maafkan aku." Bisik pelan Ayu tepat di daun telinga Nazeera.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Nazeera merinding. Mengapa dia meminta maaf padanya?


"A-apa yang kau katakan?" Ucap Nazeera terbata karena menangis.


"Aku yang telah merencanakan semuanya." Lanjut Ayu sayu. Meskipun terdengar pelan, namun Nazeera masih bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Ayu.


Deg


Nazeera yang awalnya sibuk melepaskan rantai, kini spontan melihat kembali wajah Ayu.


"Apa maksudmu?"


Melihat interaksi kedua wanita itu, Tamar keluar. Dia sungguh muak dengan sifat Ayu. Meskipun dia pernah singgah dalam hatinya, tetapi saat ini yang ad hanyalah kebencian dan dendam dalam hati. Karena dia, sahabatnya sekaligus iparnya pergi untuk selamanya.


"Aku yang merencanakan kematian suami mu." Ayu langsung to the point. Dia mengucapkan semuanya terbata.


Nazeera semakin menangis. Dia yang awalnya berjongkok kini langsung duduk.


Hikz hikz hikz


Hanya itu yang Ayu dapat ucapkan. Berbicara dengan orang di depannya percuma. Ayu hanya akan mengakui kesalahan sebelum akhir hayatnya. Mengembalikan nyawa yang pernah ia hilangkan tak akan mungkin. Jujur, saat ini dia menyesal, dia bermaksud hanya ingin balas dendam atas sikap Jaya yang sangat mengesalkan.


Hikz hikz hikz


Perasaan Nazeera bercampur aduk. Apa kesalahannya? Kurang baik apa dia padanya? Mengapa? Setelah Maya? Kini Ayu pun ikut memberikan luka? Inikah sahabat?


Jaya? Dia sangat menginginkan suaminya. Dia ingin memeluk. Menghabiskan waktu hingga akhir hayatnya. Memiliki anak seperti saudaranya, Tamar dan Mitha.


Takdir apakah ini? Nazeera diam seribu bahasa. Tak ada yang bisa dia lakukan. Ayu sudah mengakui kesalahannya. Ingin sekali dia memukul wanita di depannya itu, tetapi melihat keadaan Ayu yang tak berdaya pun dia tak tega.


Hikz hikz hikz

__ADS_1


Nazeera menutup matanya erat. Bayangan kebersamaan dengan sang suami kembali teringat. Dia rindu. Sangat Rindu.


Kadang kebenaran akan memberikan luka yang sangat menyakitkan. Apakah dia menyesal mengetahui tentang kebenaran itu?


Setelah dirasa cukup lama, Tamar kembali ke dalam ruangan itu. Dia langsung merangkul dan memapah Nazeera agar keluar dari sana. Dia tak melihat Ayu sedikit pun.


Di dalam mobil, Tamar menyerahkan beberapa lembar bukti. Dia tak peduli, Nazeera membukanya atau tidak.


"Itu adalah bukti kejahatan yang dia lakukan." Tamar menghela nafas berat. Dia sebenarnya tak tega, tapi Nazeera harus mengetahui semuanya.


"Pada saat kamu berkunjung ke rumah Amma, ternyata, dia menyuruh seseorang untuk mencampurkan sesuatu ke dalam minuman itu." Tamar sudah menelusuri semuanya. "Tentang kecelakaan kamu dan juga Mitha. Itu juga adalah rencananya."


Nazeera menutup matanya kembali. Sungguh, ini kebenaran menyakitkan setelah kebenaran kematian sang suami. Hatinya sakit, hancur. Sehancur-hancurnya.


"Jika kau masih tak percaya, kau bisa membuka itu." Tamar melirik berkas yang ia maksud. Dia mengatakan semuanya sambil mengemudi jalan untuk pulang.


Mengingat bahwa ada dokumen yang Tamar berikan tadi. Dia berencana untuk membukanya.


Nazeera bangun dari posisi tidurnya, kemudian dia mengambil dokumen itu di atas meja.


Bersambung...


Jan lupa follow akun ig otor..


ig: greenteach21


Bismillah...


mohon untuk apresiasi dari kalian agar otor smakin smnagt untuk up.


aku tahu, aku adalah penulis yang amatir, mohon untuk kerjasamanya πŸ™πŸ™ dengan cara berikan like dan komennya...

__ADS_1


jika boleh untuk vote jugaπŸ™πŸ™


semangat otor ada pada para readersπŸ™


__ADS_2