Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Karena Gitar


__ADS_3

Assalamu'alaikum pembaca setia Ditinggal Nikah. Selamat membacaπŸ’“β€πŸ’“................


Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar, berjuang tak sebercanda itu.


@Sujiwo Tejo


Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.


@Ali Bin Abi Thalib


.


.


.


***


Mereka telah tiba di kantor, Jaya turun dari mobil lalu membuka pintu untuk Nazeera. Wanita itu turun dari mobil dengan keadaan basah dan rambut tidak teratur. Saat Jaya menutup pintu, dia melepaskan jaz miliknya dan memberikannya pada Nazeera.


Banyak karyawan yang melihat adegan langsung dari bosnya. Mereka melongo tak percaya. Menurutnya, bos yang selama ini sangat dingin, kejam, arogan dan sangat tak berperasaan ternyata memiliki setitik jiwa mulia. Andaikan bukan karena bonus yang tinggi, mereka tidak akan bekerja di kantor Jaya.


Nazeera menerima jaz dari Jaya, mereka berjalan menuju lift. Jaya merangkul pundak wanita yang ada di dekatnya. Semua mata tertuju pada satu arah, tetapi hanya sekilas saja melihatnya. Mereka takut mendapat teguran langsung dari bosnya.


Saat mereka masuk di dalam lift, para karyawan kembali berbisik. "Hey. Apakah aku sakit mata?" Tanyanya pada sesama karyawan.


"Kalau kamu sakit mata berarti menular ke aku. Karena aku juga melihat sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya."


"Mungkin pak bos lagi kena pelet." Ucap karyawan lainnya.


"Kalo pelet, berarti udah lama tuh pak bos klepek-klepek ke aku." Ucapnya memperbaiki senyumnya.


"Dia ngak mempan di pelet."


"Terus mempannya apa?"


"Mempannya di PECAT." Ucap seorang lelaki yang tiba-tiba datang.


Semua karyawan panik menundukkan kepala.


"Kalian kesini mau ngerumpi atau mau kerja." Tegurnya.


"Maaf Pak Dedi." Ucap karyawan membungkukkan badan.


Semua karyawan kembali bekerja, sementara di dalam lift, Nazeera masih saja memeluk dirinya. Wanita itu sangat kedingin karena permainan konyolnya.


"Zee, kamu masuk ke dalam ruangan pribadiku. Di sana sudah ada pakaian ganti. Aku tadi menyuruh Dedi untuk menyiapkannya untukmu." Ucap Jaya menjelaskan sambil menunjuk ruangan tersebut.


Nazeera berjalan menuju tempat yang Jaya maksud.Tumben hari ini damai. Sepertinya otaknya tiap hari mesti di dinginin, supaya ngak bawel.


Batin Jaya tersenyum saat melihat Nazeera menutup pintu.

__ADS_1


Jaya kembali fokus pada berkas-berkas di mejanya. Sedangkan Nazeera tertawa tidak percaya melihat kebodohan sang punya kamar. Memajang sebuah bingkai foto tetapi fotonya dibalik, hingga yang nampak hanya warna putih.


"Kenapa foto-foto ini di balik semua." Gumam Nazeera.


"Emang bener sih, otaknya lagi terbalik." Sambungnya terkekeh.


Nazeera berjalan menelusuri semua yang ada di dalam ruangan tersebut. Hingga mendapat sebuah bingkai yang sangat besar. "Ternyata masih ada foto yang ngak dibalik." Ucapnya menyenyentuh bingkainya.


"Bingkainya bagus, tapi foto ini merusak pemandangan bingkai." Gumamnya.


Setelah puas melihat seisi ruangan itu, Nazeera berjalan mendekati tempat tidur. Di sana terdapat beberapa pakaian ganti.


***


Di luar ruangan, Jaya sangat serius memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Suara pintu terbuka membuatnya menoleh. "Kebiasaan buruk loe Ded kambuh lagi."


"Iye. Maap dah bos. Bentar lagi kita ada rapat." Ucap Dedi saat duduk di sofa.


"Kalau loe udah selesai, buruan keluar. Panas liat muka loe." Ucapnya


"Loe nya aja yang kebanyakan setannya."


"Gua beneran panas liat muka loe."


"Iye-iye. Bilang aja kalau mau berduaan ama ayang bebeb." Ucapnya mengejek.


Jaya melempar tempat tisu ke arah pintu bersamaan saat Nazeera keluar dari ruang pribadi milik Jaya.


"Apa sih Jay? Kalau ngamuk jangan setengah-setengah. Sekalian ancurin tuh bingkai di dalam kamar kamu." Ucapnya sembari duduk di sofa.


Jaya tidak mengubris ucapan Nazeera. "Sebentar lagi aku akan ada rapat."


"Kamu cantik memakai baju itu." Sambungnya tersenyum.


"Ya iyalah. Kan aku emang cantik sedari dulu. Kamunya aja yang tidak menyadarinya." Ucapnya cuek membuka majalah di atas meja.


Andai kamu tau, cantikmu yang memuatku jatuh tak terluka. Luka tapi tak berdarah. Batin Jaya masih tersenyum.


"Aku rapat dulu, tunggu sampai aku selesai." Ucapnya lalu berjalan menuju pintu.


"Sekalian aja kamu jadikan aku bingkai di kamarmu, kamu menyuruh ku ke sini hanya..."


Ucapannya terpotong saat Jaya berbicara. "Aku janji akan kembali secepatnya." Ucapnya menutup pintu.


Saat Jaya pergi, Nazeera mengutuk Jaya karena membawanya ke kantor untuk berdiam seorang diri.


"Hadduuuh, enaknya ngapain." Ucap Nazeera menghempaskan tubuhnya di sofa.


Nazeera berebahkan tubuhnya di sofa. Selama menunggu dia membuka majalah dan memainkan gadget. Wanita itu tampak mengingat sesuatu, dia bangun lalu masuk ke ruang pribadi milik Jaya.

__ADS_1


"Marah ngak yah kalau aku ambil gitar itu. Tapi gimana cara ngambilnya yah. Kok aku lupa cara ngambil gitar." Gumamnya mencari sesuatu agar dapat mengambil gitar yang terpajang di dinding.


Dia menuju ruang kerja Jaya. "Kalau aku angkat sofa ngak mungin banget." Ucapnya berpikir.


Akhirnya, Nazeera memilih kursi kerja Jaya. Dia mendorong kursi itu ke dalam ruang pribadi Jaya.


Saat tiba di dalam, Nazeera mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Dorong kursi aja kok berasa berat yah. Padahal yang berat itu adalah rindu kata Dilan."


Dia lanjut mendorong kursi di dekat gitar. "Ini tempat menyimpannya yang ketinggian atau aku yang terlalu pendek." Ucapnya saat berdiri di atas kursi untuk menggapai gitar tetapi tak sampai.


Dia turun dari kursi lalu memakai heelsnya. Dia melanjutkan aksinya untuk mengambil gitar. "Mungkin dengan memakai ini aku bisa sampai."


Sekarang dia sudah berdiri di atas kursi dengan memakai heels. Saat gitar itu sudah terlepas dari jangkauan dinding, tiba-tiba kursi terdorong dengan sendirinya.


"Aaaaaaaarrrrggggggghhhhhh." Teriaknya saat roda kursi terdorong.


"Gitar sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan." Pekiknya.


Bruuuuug


Nazeera terjatuh dari kursi, kepalanya terbentur, gitar yang di pegangnya hancur, dan salah satu kakinya terkilir.


Sekretaris Jaya masuk karena mendengar teriakan Nazeera. Saat dia masuk ke ruang kerja Jaya, dia tidak melihat siapa pun.


Dia memegang tekuk lehernya. "Kok aku merinding yah. Masa iya di sini ada kuntilanak." Ucapnya merinding.


Dia buru-buru menutup pintu lalu menuju ruangannya. "Aduhhh, tolong donk mba kuntil jangan ganggu aku. Aku hanya ingin kerja, ngak menganggu kamu kok. Suweerr." Ucapnya ketakutan saat seseorang memegang pundaknya dari belakang, dia memejamkan matanya dan mengangkat tangan membentuk 'V'.


"Siapa yang kamu sebut mba kuntil?" Ucap seorang lelaki yang memegang pundak sekretaris Jaya.


"Kalau begitul bapak tuyul. Ku mohon jangan ganggu aku." Ucapnya masih ketakutan.


Lelaki itu memutar badan wanita itu. Dia membuka matanya perlahan. "Maaf Pak Dedi. Saya tidak tau kalau itu Bapak." Ucapnya membungkukkan badannya tetapi kepalanya terbentur di dada laki-laki itu.


Wanita itu menahan sakit di keningnya. "Kamu kenapa sepertinya ketakutan begitu?" Ucap Dedi.


"Itu Pak. Emm anu, tadi saya mendengar jeritan perempuan di dalam sana. Tapi saat saya tiba....." Ucapnya ragu. Dia tidak menyelesaikan ucapannya karena Dedi sudah berlari menuju ruangan Jaya.


Bersambung...


.


.


.


Halo pembaca setia Ditinggal Nikah, Jangan lupa jejak like & komentarnya.........


Mau ngak crazy up?


Jan lupa koment.πŸ˜†πŸ˜†

__ADS_1


__ADS_2