Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Tak Terima


__ADS_3

Ditontonlah berita itu secara serius.


"Mba, ini minuman nya." Asyah berucap semakin ujung semakin kecil.


Asyah tidak tahu kenapa Nazeera menangis tersedu-sedu menonton tv. Padahal yang di tonton ialah 'Jeritan hati seorang istri.'


"Mba...?" Asyah menyentuh pundak Nazeera.


"Mba kenapa menangis?" Asyah bertanya seraya melirik tv dan juga Nazeera secara bergantian.


Nazeera menggeleng, "Berita ini pasti tidak benar adanya." Nazeera bergumam.


Asyah memegang kening Nazeera, "Ngak demam kok." Gumam Asyah.


"Mba? Ini pesana-" Belum selesai berbicara, Nazeera sudah menyambar tas dan juga ponselnya.


Di depan pintu, Nazeera sedikit membungkuk memegang perutnya. "Auu, perutku sakit lagi." Keluhnya.


Nazeera tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya dipenuhi oleh nama Jaya. Apakah kecelakaan naaz yang terjadi itu adalah dirinya?!


Aku memang belum mencintainya, tetapi mengapa aku sangat khawatir. Apa karena sekarang dia adalah suami ku sekarang? Jay... Aku mohon, jangan tinggalkan aku.


Pikirannya berkecamuk saat menuruni tangga. Langkahnya tertatih untuk sampai ke lokasi kecelakaan.


Sapaan dari para karyawan dia hiraukan. Para karyawan sedang bertanya-tanya ada apa dengan bos mereka? Dan yang hanya bisa menjawab pertanyaan mereka adalah Asyah.


Sebaiknya aku naik taksi saja, aku tidak sanggup menaiki motor dalam keadaan seperti ini.


Nazeera sudah menaiki mobil. Dia sudah memberikan alamatnya. Di dalam hatinya dia berdoa semoga bukan Jaya. Semoga bukan Jaya.


"Sudah sampai, Nona." Ucap supir itu.


Pikiran Nazeera sedang berkelana hingga tak menyadari bahwa mobil telah berhenti di tempat yang masih dikerumuni oleh banyak orang berseragam.


Mata Nazeera terbelalak saat melihat mobil yang sudah rusak parah. Dia menghampiri seseorang di dekat sana.

__ADS_1


"Mobil truk ini sedang mengendarai dalam keadaan mabuk, hingga mobil spot ini berusaha mengimbanginya dengan cara mengarahkan mobilnya ke dalam jurang." Polisi itu melirik ke arah Nazeera.


"Apakah anda mengenali mobil ini?" Tunjuk polisi itu saat melihat mobil sport itu yang sudah terparkir di pinggir jalan raya.


"Kami tidak menemukan adanya orang di dalam mobil ini. Tapi kami menemukan ini." Polisi menyodorkan sebuah dompet.


Nazeera menerimanya dengan tangan gemetar.


Apakah aku bermimpi? Tidak, ini pasti tidak nyata.


Deraian air mata membanjiri wajah cantiknya dibarengi dengan gelengan kepala dan tak lama kemudian dia limbung.


Kebetulan di sana ada Dedi, "Nona... Nona, bangunlah!" Dedi khawatir. Dia memapah Nazeera ke dalam mobilnya. Kemudian kembali ke polisi tadi.


"Ini adalah dompet milik pengemudi nya." Polisi itu menyerahkan dompet itu kepada Dedi.


"Maaf, nona yang tadi siapa?"


"Dia adalah istrinya, Pak. Saya permisi dulu. Sepertinya keadaannya lagi buruk." Dedi membungkuk permisi.


***


Di rumah sakit, Nazeera di telah di rawat. Dedi menghubungi Tamar.


"Loe dimana sekarang?"


"Gue di sini. Ada apa?"


Dedi lagi malas berdebat. Dia menghembuskan nafas kasar.


"Adik loe di rumah sakit."


"Jaya sakitin Nazeera lagi? Dasar tak tau di untung."


"Bukan untung, tapi buntung. Udah, cepatan ke sini."

__ADS_1


Dedi kesal karena mematikan telepon secara sepihak.


"Ini orang ngak jauh beda dengan si bos Jaya. Sukanya seenaknya doang." Gerutu Dedi memandang ponselnya.


Nazeera terbaring lemah di rumah sakit, pikirannya sangat kacau. Haruskah dia menjanda di usianya yang terbilang muda dan juga masih dalam status pengantin baru.


Bagai di tusuk batang berduri, dirinya tak ingin mendengar kabar buruk tentang suaminya. Meskipun dia tidak mencintainya, tapi mengapa dia sangat khawatir. Atau mungkin cinta telah hadir?


"Nona? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya perawat saat melihat Nazeera bengong.


"Apakah ada keluhan?"


Nazeera tak menggubris, dia masih saja menangis. Dia mengingat kenangan beberapa hari yang lalu saat dia sakit, Jaya dengan telaten merawatnya dan sekarang sisa kenangan yang dia dapatkan.


Namun jauh dari lubuk hatinya yakin jika Jaya masih hidup.


"Haaaaaa, Jaya kau kejam. Kenapa kamu meninggalkan aku. Hikz hikz hikz."


Dia mengingat saat berada di mall bahwa Jaya ingin melupakannya dan meninggalkannya. Tak membiarkan matanya melihat Jaya lagi. Sekarang keinginannya sudah terpenuhi, tapi Nazeera tak terima itu.


Nazeera masih menjerit histeris, bayangan saat bersama Jaya selalu saja terbayang. Di masa kecilnya, hingga dia dewasa dan menjadi suaminya. Benarkah dia sudah mencintainya?!


Bersambung...


.


.


.


Ayoo,,, vote seninya mana?


😭😭😭😭😭


gue aja keselek air mata saat nulis dan membayangkan nasib Nazeera.. tapi bgmna lagi, itu adalah takdirnya 'Ditinggal setelah Nikah'. huwaaaaAAAAAAAAAAAAAAA 😭😭😭

__ADS_1


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2