
Penghulu telah pergi. Jaya semakin menggoda Nazeera saat menyapa para tamu undangan.
Belum resepsi, mengundang tamu sebanyak ini. Aku ingin istirahat saja.
"Jay, aku sangat lelah. Sepertinya kaki mulai sakit gegara menyambut para tamu." Alasan Nazeera.
Rangkulan Jaya di pinggang Nazeera tak pernah lepas, hingga membuatnya risih dan lelah menyeimbangi langkahnya.
Jaya tersenyum, "Kalau ingin istirahat, sebaiknya ku antar ke kamar."
"Tidak usah, aku ingin bersama Mitha dan Ayu saja." Nazeera melirik Ayu dan juga Mitha.
"Aku ingin memperkenalkan mu dengan seseorang sebelum aku mengantar mu ke sana."
Jaya menuntun Nazeera menuju ke tempat yang dia maksud.
Deg
Jantung Nazeera berpacu saat melihat orang itu.
"Halo, Pak. Selamat pagi menjelang siang. Terimakasih atas kehadirannya. Maaf tidak bisa hadir dalam acara pernikahan kalian." Ucapnya basa basi dan memperdalam rangkulannya.
Akhyar mengangguk, mengeluarkan senyum yang menawan, membuat Nazeera semakin ingin memeluknya dan meluapkan rasa rindunya. Tapi dia tersadar, sekarang dia telah menjadi istri dari Jaya seorang pengusaha luar dan dalam negeri. Dia harus menjaga image di depan mereka semua yang hadir.
Seharusnya aku ikut mengucapkan kata itu, mengapa lidah ku sangat kaku, seakan tercekat untuk berbicara. Apakah aku belum sepenuhnya nya ikhlas?
Ya! Orang itu adalah Akhyar. Dia hadir dalam acara pernikahan itu atas undangan Jaya, yang sengaja untuk mengompori dan juga seakan mengatakan bahwa Nazeera adalah miliknya seorang.
"Maaf, saya datang terlambat, Pak." Sesalnya basa basi.
Akhyar semakin terpesona dengan penampilan Nazeera yang baru, dia sulit untuk berkedip.
__ADS_1
Maya ingin sekali menyapa sahabatnya, memberikan selamat atas pernikahannya. Tetapi melihat raut wajah Nazeera, dia urungkan kembali dan hanya memasang senyum.
Apakah aku begitu buruk hingga Nazeera menatap ku tak senang?!
Maya melirik ke Akhyar, terimakasih karena mau menerima ku dan bertanggung jawab sepenuhnya atas diriku.
Batin Maya memegang perutnya.
Nazeera melihat itu semua seakan pamer atas pengkhianatan yang mereka lakukan. Darahnya seakan mendidih, wajahnya merah padam menahan kebencian yang sudah dikubur.
Dia sudah mengetahui bahwa wanita itu tengah hamil saat dia mengukur Nazeera beberapa hari yang lalu. Itulah sebabnya mengapa Nazeera sangat sulit untuk memaafkan keduanya.
Sibuk dengan lamunannya, tanpa sadar Jaya sudah pamit kepada Akhyar karena tak suka Akhyar terus menatapnya.
"Sayang? Bukan kah kamu ingin istirahat? Aku antar ke kamar yah?"
Tanpa menunggu aba-aba, Jaya sudah menggendong Nazeera. Wanita yang digendongannya langsung bergelayut di leher Jaya agar tak jatuh.
Kesal Nazeera karena dia ingin berkumpul dengan sahabatnya.
Melihat itu semua di depan mata, Akhyar mencoba merelakan kekasih hatinya dan menerima takdir yang ada.
***
Menjelang sore, pernikahan telah usai setelah melewatkan beberapa acara. Mise memilih untuk kembali ke luar negeri untuk melanjutkan urusan bisnisnya dan Raha pun ikut bersamanya. Sedang Tamar dan yang lainnya sudah pergi dari mansion tempat Nazeera dan Jaya menikah.
Tamar mengantar Mitha kembali ke rumahnya atas permintaan Nazeera. Sekarang rumah itu sudah kembali seperti biasa, tidak ada keributan lagi di dalamnya.
"Apa yang harus ku lakukan setelah ini?" Gumam Nazeera saat berada di kamar. Dia melepaskan satu persatu riasan yang melekat pada wajahnya.
Jaya berada di balkon menikmati udara di sore hari dengan menyembulkan asap rokoknya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Nazeera masih mempertanyakan dimana Jaya berada, mengapa masih belum masuk juga untuk sekedar mengganti pakaian.
Sadar akan perhatian yang dia lakukan, dia menepis semuanya. Bermasa bodo apapun yang Jaya lakukan.
"Bi, aku sangat lapar."
Pelayan itu tersenyum dan memikirkan hal yang lain.
"Aku sangat lapar karena dari pagi belum makan." Ketus Nazeera.
Akhh mengapa hari ini aku sensian banget.
Batinnya menyantap makanan.
Ini si biang kerok mana? Kok masih belum muncul juga sih.
"Lagi mencari tuan Jaya yah nyonya?"
"Hah?"
Panggilan baru yang menurutnya sangat asing di telinganya membuatnya tersadar bahwa dia telah menikah.
"Tuan tadi sudah pergi. Katanya buru-buru."
Ada rasa tidak suka saat mengetahui kepergiannya tanpa berpamitan. Biasanya dia juga selalu menggodanya. Tapi mengapa sekarang di saat para kerabat dan keluarga sudah pergi dia malah menghilang.
"Nyonya tidak makan? Bukankah Anda sangat lapar?" Gurau pelayan saat melihat Nazeera berdiri.
Dia tidak menjawab, hanya langsung ke kamar mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Tetapi yang di hubungi tak kunjung aktif juga.
Nazeera merebahkan dirinya di tempat tidur. Seharusnya dia pamit, setidaknya dia bilang dulu sebelum pergi.
__ADS_1