
"Kalau Abang ngak punya hati, jangan lagi nolongin orang. Masa Abang ngak punya hati!" Nazeera mengucapkan dengan berapi-api menunjuk dada Tamar. "Atau jangan bilang kalau Abang masih mencintainya." Nazeera mengucapkan kalimatnya tanpa disaring dulu.
Deg
Dari lantai atas, Mitha melihat pertengkaran adik kakak itu. Tadinya dia ingin turun karena merasa haus. Tapi niatnya ia urungkan melihat mereka sedang bertengkar.
Wajah Tamar memerah menahan amarah. Ingin rasanya dia memukul mulut adiknya itu.
"Bang... Bukalah hati mu, bang. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Jangan kau jadi pembunuh bang." Nazeera masih membulatkan tekad agar mampu menyadarkan sang kakak.
"Kenapa kau keras hati bang?!" Sarkas Nazeera.
"Kau yang terlalu keras kepala!" Balas Tamar dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Jangan-jangan aku benar, kalau Abang masih mencintainya." Tuding Nazeera menatap tajam Tamar.
Wajah Tamar semakin memerah. Ini adalah pertengkaran besar pertama dan sangat fatal bagi keduanya.
"Kenapa Abang diam? Hah?"
Wajah Tamar menjadi merah padam. Genggaman dan tatapan pada sang adik sangat tidak bersahabat.
Beruntungnya, pertengkaran mereka tidak di dengar oleh orangtuanya.
"Aku mau menolongnya karena aku masih punya hati bang. Aku ngak mau berbuat dosa. Aku memang marah, marah, marah, marah besar bang." Nazeera menepuk-nepuk dadanya sambil menangis.
hikz hikz hikz
"Tapi aku bisa apa, bang! Hikz hikz hikz."
Nazeera terduduk kembali di sofa. "Aku tidak mau menjadi pembunuh. Cukuplah aku menjadi seorang janda yang suaminya di bunuh oleh sahabat ku sendiri, aku tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, bang." Getir Nazeera. Air matanya berhasil tumpah membuat emosi Tamar sedikit mereda.
__ADS_1
Glek
Mitha menutup mulutnya, dia memundurkan langkahnya karena terkejut atas pernyataan Nazeera.
Bugh
Alhasil, keseimbangan Mitha menjadi hilang.
"Argh..." Teriak Mitha.
Bugh bugh bugh
Suara seseorang yang sedang tergelincir (bayangin aja yah suara seseorang ketika guling-guling ditangga).
Tamar dan Nazeera sama-sama menoleh ke sumber suara.
"Mitha!" Teriak Tamar menggema. Dia langsung histeris, bahkan melompati sofa agar lebih cepat tiba di tangga.
"Aaauu..." Ringis Mitha memegang perutnya.
Badan Tamar gemetar saat tiba di dekat istrinya. Dia melihat begitu banyak darah.
"Mitha...!" Nazeera menutup mulutnya tak percaya. "Abang..." Nazeera menepuk pundak Tamar agar dia tersadar dari keterkejutannya.
"Ada apa ini?" Tanya sang bunda. Dia keluar dari kamar dalam keadaan masih setengah sadar.
Tamar langsung mengangkat tubuh istrinya, dia menghiraukan pertanyaan sang bunda. Otaknya sedang kacau saat melihat begitu banyak darah.
Nazeera juga mengikuti Tamar. Dia juga tak kalah kagetnya.
Melihat Mitha dalam gendongan Tamar dalam keadaan tidak sadar, barulah Raha terkejut.
__ADS_1
"Oh astaga! Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini." Gumam Raha tergesa-gesa menuju kamar untuk membangunkan Mise. Karena kedua anaknya telah pergi.
**
"Bang... Bagaimana ini? Apakah dia mendengar semuanya?" Nazeera sedikit takut terhadap Tamar.
Tamar tak berbicara apapun. Saat ini, dia hanya diam. Perasaannya menggebu. Pikirannya melayan entah dimana.
Melihat Tamar tak merespon, Nazeera semakin gemetar. Sekarang mereka telah berada di depan ICU.
"Zee... Abang...!" Panggil bunda setelah menyusul mereka.
"Bunda...!"
Hikz hikz hikz
Raha langsung memberikan pelukan agar anaknya menjadi lebih tenang. Mise hanya diam dalam kondisi seperti ini. Dia bisa apa? Dia juga belum tahu kejadiannya seperti apa. Bertanya dalam kondisi seperti ini sangat tidak memungkinkan.
Sudah jam 11 malam tapi belum ada tanda-tanda dari dalam.
"Bunda... Zee takut." Gumam Nazeera dalam pelukan Raha.
"Tenanglah nak, semua akan baik-baik saja." Harap-harap cemas. Sebagai orangtua, siapa yang tak sakit bila melihat sang anak dalam keadaan seperti ini. Tapi, demi anak-anak pula lah dia tegar. Mungkin ketegarannya hanya sebuah topeng penyanggah.
Tamar, setelah Mise memperhatikan anaknya selalu mengusap ujung matanya, dia menghampiri Tamar. Mise menepuk bahu Tamar sebagai bentuk penyemangat agar kuat.
Apakah ini karma?
Bersambung...
Terimakasih.... Maaf terlambat!
__ADS_1