Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Keluarga Setan


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, Raha mengetuk kamar Nazeera yang sedang marah.


"Nak, Jaya sudah mau keluar sayang." Teriak Raha dibalik pintu.


"Suruh saja pulang, Bunda. Aku kesel sama dia."


"Kenapa kesel nak? Walaupun begitu dia tetap calon suami kamu."


Tidak ada jawaban, Raha kembali mengetuk.


"Bukain bunda pintu dulu, sayang!!!"


Tok Tok Tok


"Zee, kamu masih marah sama bunda? Sekarang bunda akan pergi ke negara Y. Kamu tidak ingin bersama bunda sebelum pergi?" Tanya Raha.


Ceklek


Suara pintu terbuka, "Emang bunda jadi pergi?" Tanya Nazeera yang sudah menampakkan sebagian tubuhnya.


Raha mengangguk membelai pipi anaknya, "Sekarang kan kamu sudah besar, kenapa sih tanyanya gitu? Kan biasanya kamu ngak banyak tanya seperti ini?" Raha menuntun anaknya untuk masuk ke dalam kamar.


"Ngak apa-apa sih sebenarnya, cuman kok perasaan aku ngak enak yah Bun?"


Raha mendudukkan Nazeera di meja rias, dia memperbaiki dandanan Nazeera.


"Nak, maafin bunda yah jika masih saja membuat mu menangis."


Nazeera menatap Raha intens, "Bunda, apakah yang dikatakan pelayan kemarin itu benar?"


Raha menoyor kepala Nazeera, "Kamu ini, kan semalam sudah dijelasin kalau itu hanya bagian dari permainan Abang mu." Ucapnya berusaha tenang agar membuat Nazeera percaya.


"Sekarang kamu keluar, bunda sudah memperbaiki make up kamu." Ujar Raha lembut.


"Bunda kok dukung banget aku sama Jaya."


"Kamu ini pertanyaan mu seperti anak kecil saja. Bukannya dulu juga sama Akhyar bunda seperti ini? Dari dulu juga bunda suka sama Jaya. Tapi mau gimana lagi, Akhyar sudah mau nikah. Hemm, kamu tenang saja, masih ada Jaya sebagai cadangan."


"Iiihhh, bunda ini apa-apaan. Emang mencintai dan melupakan seseorang semudah seperti mengambil dan melempar?"


"Kek lelaki cadangan aja." Cibir Nazeera.


"Sudahlah, ayo kita ke depan. Kasihan Jaya jika kamu kesel terus sama dia. Buka hati mu nak. Jangan tutupi hatimu dengan kebencian mu. Dengan membuka hati, kamu bisa menerima Jaya juga dan melupakan Akhyar."


Nazeera mendengar nasehat Raha jadi teringat akan sosok yang sangat dia sayangi, "Nak, mencintai tak harus memiliki. Relakan dia meskipun kepada sahabat kamu sendiri. Inilah takdirmu, dia bukan yang terbaik dalam hidupmu diantara yang baik-baik."


Nazeera terdiam, benarkah? Akhyar benar-benar bukan jodohnya? Tujuh tahun berstatus pacaran namun apa? Apakah ini namanya menjaga jodoh orang? Cinta yang dipeliharanya, dijaganya harus mengikhlaskan ketika orang lain memetiknya?


Sebuah sentuhan menyadarkan lamunannya, Raha menghapus air matanya.


"Kamu jangan terus-terusan seperti ini. Kamu akan menyakiti bunda dan juga yang lainnya. Buka hati mu, jangan selalu menutupi hati mu, berusahalah untuk mencintainya. Bukannya kamu sudah berjanji sama bunda semalam?" Tutur Raha mengingatkan.


Nazeera teringat akan permintaan Raha sebelum memasuki ruangan, "Iya Bun, aku akan mencobanya." Nazeera tersenyum untuk meyakinkan Raha.


"Anak pintar." Raha mengusap pucuk kepala anaknya.


"Ini baru anak bunda. Hehehe." Puji Raha.


"Kamu keluar yah, Jaya sudah menunggu kamu."

__ADS_1


***


Nazeera keluar menuju ruangan tengah tempat para lelaki berkumpul. Jaya jadi ternganga melihat penampilan Nazeera yang menurutnya sangat cantik.


"Cantik." Gumam Jaya pelan tapi masih terdengar oleh Tamar.


"Emang cantik, sudah sedari dulu."


Jaya melihat Tamar jadi datar, senyumnya juga ikutan menghilang. Menurutnya mengapa juga harus bilang seperti itu hingga membuatnya jadi salah tingkah. Cukup sewaktu di ruang makan saja dia gerogi. Tapi di hadapan calon istri jangan.


Padahal sudah terbiasa berkunjung di sini, tapi kok bawaannya salah tingkah mulu. Atau mungkin karena sudah resmi jadi calon menantu atau karena tadi pagi? Omg, pikiran ini aku harus buang. Pergi, pergi!!!


Batin Jaya menepis pikirannya.


Tamar memukul lengan Jaya yang sedang melamun, "Woiiii, ngeliatnya ngak sampai gini juga. Jangan pikiran kotor lu yah sama adek gue."


"Siapa juga yang berpikiran kotor?!" Kilah Jaya.


"Hem, jadi pergi ngak?" Ketus Nazeera.


Jaya mengangguk, "Ayah, Zee pergi dulu yah." Pamitnya pada Mise.


Sang Ayah hanya menanggapinya dengan berdehem, karena sibuk membaca koran.


"Emang Ayah masih marah yah? Kok suaranya jadi mahal banget." Goda Nazeera pura-pura manyun.


"Dasar manja." Cibir Tamar.


Nazeera menatap Tamar dengan tajam, "Ayah beneran marah? Suaranya mahal banget, aku beli yah dengan kasih sayang." Canda Nazeera memperlihatkan deretan giginya.


Mise melipat korannya dan menarik hidung anaknya, "Kamu ini ada-ada saja." Ujar Mise tersenyum.


"Ayah akan pergi ke negara Y untuk beberapa hari." Mise mencium kening putrinya.


"Iya Ayah." Jaya menanggapinya dengan semangat.


"Broo, gue cabut dulu."


Jaya keluar dengan hati yang gembira membunyikan suara siulan. Nazeera sudah berjalan lebih dulu.


"Si bocah itu kemana?" Gumam Jaya saat berada di depan rumah.


"Siapa yang kamu sebut bocah?" Tanya Nazeera mengagetkan Jaya.


"Aduhhh, kamu ini. Ngagetin aku saja. Bukannya kamu jalan ke sini lebih awal. Kenapa tiba-tiba muncul di belakang aku?"


"Yaaa, kan emaknya kuntilanak." Jawab Nazeera asal.


"Bukannya kuntilanak ada pada saat malam?"


"Kamu ini ngak tau aja, sekarang udah jaman now. Mau kuntilanak ataupun yang lainnya sudah ada di jaman sekarang." Jelas Nazeera menuju mobil Jaya.


"Berarti tuyul ada donk pagi-pagi begini?" Kekeh Jaya.


"Iya. Tuyul ada pagi-pagi."


"Siapa?" Tanya Jaya melihat kiri dan kanannya hanya ada beberapa security dan beberapa bodyguard.


"Kamu." Jawab singkat Nazeera membuka pintu mobil lalu masuk kedalamnya.

__ADS_1


Para penjaga yang mendengarnya ikutan tertawa, tetapi tak bersuara.


Hah? Emang aku botak yah? Ngapa dibilang tuyul juga. Kalau aku tuyul, terus jadi nikah sama Nazeera, berarti akan jadi keluarga setan donk.


Jaya memegang rambutnya cengengesan.


Nazeera menurunkan jendela mobil, "Kamu masih mau di situ atau...."


"Iya-iya. Jadi kok. Lagi Pms yah? Sensian banget." Potong Jaya.


"Sudah akh, kamu ini selalu membuat ku tidak mood. Antarkan aku di warung 'Tank Sarang', aku ingin makan di sana. Aku sangat lapar!!!" Titah Nazeera saat Jaya menyalakan mobil.


"Siap bos." Jawab Jaya segera.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara hingga Nazeera mengingat sesuatu.


"Jay, sewaktu kita makan di restoran Barongki kamu ingat ngak? Di jari aku terpasang cincin. Sejak kapan kamu menyematkan cincin itu di jariku?" Tanya Nazeera penasaran.


"Cincinnya sekarang dimana?" Tanya Jaya balik.


Nazeera kesal, bukannya menjawab malah bertanya balik.


"Sudah aku buang." Ketus Nazeera kesal.


Jaya rem mendadak, "Kamu bisa ngak sih jangan rem seperti ini?" Protes wanita itu.


"Kamu buang dimana cincin itu?" Panik Jaya bertanya.


"Heyyy, ada apa dengan mu. Ada kok cincinnya." Nazeera membuka tasnya dan mengambil sesuatu.


"Nih, ambil." Nazeera memberikan benda kecil yang sangat berharga bagi Jaya.


"Kenapa kamu mengembalikan cincin ini? Ini sudah jadi milik kamu." Jaya memasangkan cincin itu di jari wanitanya.


Nazeera memberontak tetapi Jaya mengancam hingga dia pasrah menerimanya.


"Kenapa bisa nih, cincin terpasang di jari aku waktu itu?" Tanya Nazeera lagi.


"Itu gampang, keluarga setan." Jawab Jaya mengedipkan mata sebelah lalu menyalakan mesin.


"Ishhh, kamu ini. Dijawab tetapi selalu asal."


Sepertinya dia ngak sadar kalau dia juga sering jawab asal.


Batin Jaya menggeleng.


Bersambung...


.


.


.


Hem, balik lagi nih,, selamat menunggu dan menanti lagi yehhhπŸ˜‚πŸ˜‚


oh ya,, yang ingin masuk GC green silahkan dengan password 'AKU PADA MU'.


Jan lupa VOTE, LIKE AND KOMENnya ..

__ADS_1


Terimakasih buat yang ngikutin Nazeera Ampe bab ini😘😘😘


SELAMAT MENUNGGU πŸ’•πŸ’•


__ADS_2