
"Amma, terimakasih buat hari ini." Ucap Nazeera pada Amma setelah selesai makan siang.
"Iya, Nak. Sering-sering yah main ke sini. Dan ini semua berkat kalian hingga tempat ini menjadi sangat layak untuk dihuni." Balas Amma.
Apar dan teman-temannya pun turut bahagia. Menurutnya mereka mempunyai hutang Budi kepada Jaya dan Nazeera.
Setelah merasa puas bermain di tempat itu, Nazeera dan Jaya pamit. Jaya ingin membawa wanitanya ke pantai untuk menikmati senja di sore hari. Wanita itu hanya mengikut. Namun sebelum pulang, Amma menyodorkan beberapa makanan lagi, menyuruh Nazeera untuk menghabiskannya.
"Kenapa kamu menangis, Nak?" Tanya Amma melihat Nazeera makan.
"Amma, ini sangat pedis. Sambelnya kebangetan. Tapi aku hargai Amma karena ini adalah hidangan terakhir dan khusus untuk ku." Ucap Nazeera melirik ke arah Jaya. Karena Jaya tidak mendapatkan makanan itu.
Perjalanan pulang, Nazeera memegang terus kado sederhana dari Amma yang entah apa isinya.
Jaya melirik, "Kok Amma ngak bungkusin kado juga yah buat aku."
Plak
Nazeera menyentil kepala Jaya, "Otak mu mulai ngeres, aku juga ngak mengharapkan ini. Tapi bagaimana lagi, masa aku harus tolak pemberiannya." Wanita itu tersenyum senang.
Nazeera melihat ke arah Jaya, "Terimakasih." Ujarnya tiba-tiba.
Jaya tercengang, "Atas dasar apa?" Tanyanya pura-pura bodoh.
"Untuk hari ini. Terimakasih banyak. Aku sangat bahagia." Tuturnya dengan senyum yang merekah.
Jaya melihat itu semakin menggebu, perasaannya berusaha dia kontrol agar wanitanya nyaman saat bersamanya. "Jangan tatap aku seperti itu kalau ngak mau aku makan." Tegasnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Untung masih punya rem. Sabarlah nafsuh, jangan menggebu seperti ini. Bisa-bisa aku masuk dalam daftar hitam lagi. Batinnya meyakinkan.
"Apaan sih, kamu emang selalu kebanyakan bacot." Nazeera kesal melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya menghadap ke jendela.
Ada apa dengan tubuhku?! Batin Nazeera.
"Jangan manyun gitu, kamu makin cantik." Goda Jaya.
Wanita itu hanya menanggapinya malas.
Nazeera, ingin aku berteriak. Aku sangat bahagia atas kesempatan yang kamu berikan. Meskipun kita terpaut beberapa tahun. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Akhh cinta membodohi ku.
Batin Jaya.
"3 hari lagi pernikahan Akhyar, apakah kamu ingin hadir?"
Nazeera tak merespon. "Aku tidak mungkin tidak hadir, dia adalah rekan bisnis ku. Sedangkan kamu adalah calon istri ku. Jadi mau tidak mau, kamu harus ikut bersama ku."
__ADS_1
Lagi-lagi Nazeera tidak merespon, "Zee? Kamu dengar kan?" Jaya mengguncangkan lengan wanitanya.
"Yaelah molor. Aku fikir masih ngambek. Kamu seperti ular, habis makan pengen tidur. Padahal perjalanan pulang baru beberapa menit." Gumamnya tersenyum.
Dia menepikan mobilnya saat berada di sebuah pinggiran anak pantai. Jaya memperbaiki posisi tidur Nazeera. Di saat menurunkan posisi kursi itu, Jaya merasakan hembusan nafas yang membuat naluri kelakiannya memuncak.
Akkhh, sial. Umpat batinnya.
Dia menyelesaikan pekerjaannya, kemudian menatap lekat wanitanya. "Apa yang menarik terhadap dirimu? Mengapa aku bisa mencintaimu selama itu?!" Ucapnya miris.
"Cinta membuatku gila." Jaya menatap wajah tenang Nazeera.
Semakin ditatap, wajahnya semakin maju hingga berhenti beberapa senti dari bibir itu. Dia menahan nafas, akan tetapi nafas Nazeera membuatnya terpancing untuk mencicipi bibir itu.
Bibir yang sedikit ternganga, membuat jiwa Jaya semakin tak berfikir jernih dan meronta terus. Seakan berkata, ayo cicipi.
Cup
Jaya mengecup sekilas bibir wanitanya, Aku mencuri ciuman mu dalam tidur mu. Ingin rasanya aku segera menikahi mu sayang. Aku sungguh sudah tak sabar ingin memiliki mu. Batin Jaya merapikan rambut Nazeera ke belakang.
Wanita itu menggeliat, Jaya menunggu respon dari wanita itu, tetapi tak ada respon.
Tidurmu nyenyak sekali, kamu benar-benar seperti ular. Habis makan langsung tidur dengan pulas.
Awalnya hanya ciuman biasa, tetapi lama-kelamaan menjadi ciuman panas. Jiwa Jaya tak lagi terkontrol, melainkan dipenuhi dengan nafsuh semata.
Jaya berhasil memenuhi hasratnya untuk mencicipi sesuatu yang indah. Mulai menge*up, mengh*sap, menge*um hingga suara desahan berhasil keluar dari mulut Nazeera, matanya masih saja terpejam. Dia hanya menerima ciuman dari Jaya hingga membiarkan lidahnya menari dalam mulutnya.
Jaya menelusuri sesuatu di dalam baju wanita itu. Mencari yang nikmat untuk diraba. Nazeera mulai membuka mata, "Akhyar?!" Ucapnya lirih, kemudian menarik tekuk leher Jaya untuk melanjutkan aktivitasnya. Wanita itu menutup matanya sambil menikmati ciuman itu.
Jaya awalnya menolak karena nama yang disebut Nazeera adalah mantannya, tetapi karena ciuman Nazeera yang membuatnya melupakan hal itu.
Berkali-kali suara desahan itu keluar dari keduanya, nafasnya tersengal-sengal. Jaya terbawa suasana hingga berhasil membuka sebagian baju wanita yang berada di bawahnya. Separuh tubuhnya menahan dirinya agar tak menindih Nazeera secara utuh.
Nazeera benar-benar menikmati permainan Jaya, hingga tak menyadari dengan siapa dia bercumbu. Tangan Jaya bergeliria kemana-mana. Memancing nafsuh wanita itu.
Mungkin dengan cara seperti ini, dengan cara aku mengambil sesuatu yang berharga pada tubuh mu baru kamu akan menerima kehadiran ku. Meskipun awalnya kamu membenci ku. Aku siap, asalkan kamu menjadi wanita ku. Iya, aku akan rebut sesuatu yang amat kamu hargai hingga kamu berhenti menyebut namanya di telingaku.
Batin Jaya dengan penuh kebencian.
Dia terus memenuhi hasrat tubuhnya dengan penuh kebencian dan amarah yang ada di kepalanya. Tangan Jaya sangat gencar ke sana kemari, berhasil memuaskan nafauh Nazeera yang memuncak.
"Panas." Ucap Nazeera setengah sadar.
Nazeera sangat gencar atas perlakuan Jaya,
__ADS_1
Sial. Mengapa dia sangat agresif? Tanya Jaya pada dirinya sendiri.
"Panas!!! Akhyar badan ku sangat panas."
Jaya baru menyadari atas sikap Nazeera, mengapa dia bisa jadi agresif begini?!
"Akhyar, tolong aku. Badan ku sangat panas." Ucap Nazeera berusaha membuka kemeja Jaya.
Seringkali Jaya mengumpat. Mengapa harus nama Akhyar yang dia sebut. Seharusnya dia tahan emosinya. Sebentar lagi wanita itu akan menjadi miliknya.
Nazeera menarik tekuk leher Jaya untuk kembali menyatukan bibirnya, "Akhyar, tolong aku. Badanku sangat panas." Lirih Nazeera berusaha melepaskan pakaiannya dengan ciuman yang masih berlangsung.
Ada yang tidak beres.
Jaya berusaha menyeimbangi tubuhnya.
"Zee?!" Jaya menepuk pipi Nazeera.
"Aku sangat panas. Aku ingin itu." Nazeera memegang harta Jaya.
Jaya mengerang, "Akhyar, tolong aku." Ucapnya dengan menatap lekat wajah Jaya.
Akhhh ughhh
"Akhyar......"
(Apakah yang akan terjadi? Hemtz anda penasaran? Sama saya juga.. Bacanya jangan sampai melotot yah. Aku aja nulis bingung memakai kata apa😣😣😪😪😪)
Bersambung...
.
.
.
buat semuanya, ini hanya dunia halu yah🤣🤣🤣 yang jomblo minggat wae.
Jan lupa Vote like dan komen.
Mampir juga yah ke karya kedua ku.
- Senior, Aku Padamu.
SELAMAT MENANTI...!!!🤗💕
__ADS_1