Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Tabrak Lari


__ADS_3

Jaya turun dari mobilnya, "Nazeera...!!!" Teriak Jaya dari kejauhan sekencang mungkin.


Berulang kali nama itu dia sebut, sekarang dia menyesal perbuatannya. Bagaimana lagi jika nasi sudah jadi bubur.


Jaya berlari hingga tepat dimana Nazeera terbaring. Di saat mendekat, dia bingung. Mengapa orang lain yang jadi korban tabrak lari. Dimana Nazeera?!


Jaya menengadahkan pandangannya, "Dedi, dimana Nazeera." Teriak Jaya marah.


Dedi tidak menggubris, dia hanya fokus pada korban yang sudah dipenuhi dengan darah.


"Mitha, loe masih sadarkan?" Tanya Dedi menepuk pipi Mitha.


"Haaa!!! Nazeera!!!" Jaya mengacak kepalanya frustrasi saat menengadahkan pandangannya ke semua arah tetapi Nazeera tak ada. Dimana Nazeera?! Kenapa dia tidak ada di jalan ini?


"To-tolong."


Terdengar suara lemah seorang perempuan yang membutuhkan pertolongan, "Ada korban juga di sini." Tutur satpam itu melihat ke bawah got yang luas nan dalam.


Jaya langsung melompat ke bawah, tidak peduli apakah bau atau tidak, dangkal atau dalam. Yang dia inginkan Nazeera tidak apa-apa.


"Apa yang kalian lihat?! Cari bantuan sekarang." Pekik Jaya berteriak.


Jaya sudah menangis, "Nazeera, ayo bangun. Ayo bangun sayang."


Jaya mengangkat tubuh Nazeera agar tak tenggelam dalam lumpur air. Tak lama kemudian bantuan datang. Dia mengikat Nazeera dengan tali itu.


Sedangkan Jaya naik dengan memegang tali itu. "Mitha...!!" Nama itu yang keluar dari mulut Nazeera.


"Panggil ambulans sekarang!!!" Jaya sangat marah atas kejadian ini. Dia merutuki kebodohannya sendiri.


"Dedi bod*h!!! Mana loe!!!" Berbagai umpatan telah keluar di bibir nya.


Dedi berjalan ke arahnya, "Bos, kemungkinan besar nona Nazeera hanya korban kedua, yang paling parah di sini hanyalah Mitha, teman nona Nazeera." Tutur Dedi menjelaskan.


"Aku tidak peduli bod*h, cepat panggikan ambulans dan cari tahu siapa yang telah menabrak Nazeera ku." Jaya memeluk tubuh Nazeera yang penuh dengan kotoran.


Dia tidak tahu apakah Nazeera berdarah atau tidak. "Nazeera, ayo bangun. Ayo kita nikah." Jaya berulang-kali mengucapkan kalimat itu bermaksud agar Nazeera nya sadar.


Orang-orang yang berada di sana sangat takut akan amarah Jaya. Para karyawan yang ikut dalam kerumunan itu jadi ngeri sendiri jika melihat keadaan Nazeera, apalagi keadaan Mitha.


***


Sekarang mereka telah tiba di sebuah rumah sakit. Mitha sudah ditangani oleh pihak rumah sakit di ruang operasi. Sedangkan Nazeera sudah dipindahkan ke dalam kamar pasien VIP.


"Bos, sebaiknya loe bersihkan diri dulu. Gue sudah siapkan pakaian di mobil."


Jaya tampak membenarkan ucapan Dedi. "Loe ambilkan baju gue, gue akan mandi di sini."


Jaya memegang tangan Nazeera, berulang kali kecupan mendarat di sana. "Ayo bangun. Hikz hikz hikz. Ayo kita nikah. Maafkan aku. Aku menyesal. Sebentar lagi pernikahan Akhyar, ayo kita ke sana. Aku akan dukung kamu untuk memamerkan kemesraan kita, meskipun aku hanya sebatas pelampiasan mu sayang. Ayo bangun!!! Hikz hikz hikz."


Berbagai kalimat penyesalan yang dia lontarkan. Emosinya selalu dia lemparkan ke arah perawat atau pun para dokter selama menangani Nazeera.


Tik Tik Tik

__ADS_1


Bunyi mesin yang terpasang di ruangan itu. "Nazeera, aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Jangan tinggalkan aku, Aku sangat mencintaimu."


Tok tok tok


Dedi masuk dengan membawa peralatan mandi dan juga pakaian untuk Jaya.


"Loe jangan tinggalkan Nazeera saat gue lagi ngak ada, apapun yang terjadi." Serunya saat mengambil barang itu di tangan Dedi dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Aduh bos, loe gila soal nona Nazeera. Atau emang loe gila?! Padahal di sini yang lebih parah adalah keadaan Mitha. Gue jadi kasihan sama dia. Pasti dia yang berkorban untuk itu.


Dedi menatap sedih tubuh Nazeera yang terpasang berbagai alat di tubuhnya.


Dedi mengambil ponselnya di saku celana, kemudian menelepon seseorang. "Loe cari tahu siapa pelakunya, periksa di cctv. Jangan sampai dia lolos." Titah Dedi sesuai perintah Jaya.


Tak terasa sudah menjelang sore, suara perut Dedi meminta jatah siangnya.


Aduh, gue belum makan sedari pagi, sekarang sudah mau sore. Tapi belum ada asupan gizi selain minuman itu di Caffe tadi.


Dedi membatin merasa lapar. Dia memegang perutnya.


"Kenapa loe? Mau buang air, masuk aja, gue sudah selesai." Celetuk Jaya saat keluar dari kamar mandi.


"Gue lapar, belum makan. Boleh ngak gue izin untuk isi asupan gizi?"


"Loe makan empat sehat lima sempurna. Gizinya dah lengkap tuh. Gizi sempurna." Ujarnya sambil berjalan di dekat Nazeera.


Dedi hanya menggerutu dalam hati, "Loe sudah urus siapa yang melakukan tabrak lari ini?" Tanya Jaya dengan serius.


Dedi mengangguk, "Iya, gue sudah telepon dari pihak cctv. Gue heran, sepertinya ini kasus berencana."


"Idih, gue beneran, tadi sebelum keluar dari cafe, mobil itu sudah terparkir di sana. Gue juga heran saat keadaan lagi sepi dan Nazeera masih berlari, mobil itu tiba-tiba melaju begitu saja. Padahal pasti dia tau sendiri kan dari dekat dan bisa memelankan mobilnya saat berkendara."


"Loe tahu darimana kalau mobil itu yang menabrak."


Prak


"Tuh mobil lewat di depan kita kali saat selesai menabrak. Gue lihat hanya sekilas juga, gue yakin dia yang menabraknya."


Dedi mengusap dagunya, "Gue jadi ragu dan yakin. Pelakunya pasti dia." Yakin Dedi.


"Emang siapa?" Tanya Jaya.


"Mi-mitha?"


Suara perempuan mengalihkan pandangan mereka. Jaya antusias berdiri dan melupakan topik pembicaraan mereka dari awal.


"Mitha?" Ujar Nazeera sekali lagi.


"Nazeera, kamu harus kuat, ada aku di sini." Jaya sudah mendekap tangan Nazeera untuk memberinya kekuatan.


Dedi keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter.


"Sayang. Apanya yang sakit?"

__ADS_1


Tik tik tik


Nazeera menatap lekat wajah pria di depannya, "Nazeera, kamu tidak apa-apa kan? Aku mohon maafkan aku, aku sangat bod*h telah menghiraukan mu tadi. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Percayalah." Jaya sudah berlinang air mata.


Rasa syukur di dalam hatinya tak hentinya dia lontarkan.


Nazeera masih belum merespon, dia hanya memikirkan nasib Mitha, bagaimana keadaannya sekarang. Dia sudah bertanya pada Jaya. Tetapi Jaya hanya menjawab bahwa dia baik-baik saja.


"A-aku ingin melihatnya."


"Sabar sayang, sebelum dokter datang. Kamu jangan terlalu bergerak dulu aku khawatir sama kamu, karena kamu terlempar ke dalam got itu."


Nazeera mengingat sebelum kecelakaan, dia didorong oleh Mitha saat mobil sudah beberapa senti menabraknya. Alhasil, dia terjatuh ke dalam got, dan yang kena tabrak lari adalah Mitha.


Tak lama kemudian, Dedi datang seorang diri, "Diaman dokternya?" Tanya Jaya.


"Sabarlah, dia sedang menuju ke sini." Balas Dedi.


"Bos, gue keluar dulu."


"Mau ngapain loe keluar? Siapa yang ngizinin loh untuk makan?" Tebak Jaya ketika Dedi meminta izin.


"Yaelah, gue mau ke mol tadi. Mobil pelaku sudah terlacak."


Dedi membungkuk hormat pada tuan dan nona nya.


(Siapakah pelaku tabrak larinya? Anda penasaran?! Sama saya jugaπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•)


Bersambung...


.


.


.


Assalamu'alaikum,, halo...


maaf yah jika sampai bab ini masih ada typo dan bahasanya kurang menarik.


Jan lupa VOTE LIKE AND KOMEN yahπŸ’•πŸ’•πŸ’•


dukungan mu sngt berarti bagi otor, Oia cuman mau menyampaikan, skrng dh terbit 'Bu Guru, I Love You' itu krya ketiga ku.. yah masih on going juga sih.. tapi dlm bentuk chat story'.. tengok dulu lah siapa tahu kepentok πŸ’•πŸ’•


mampir ke senior juga yahπŸ’•πŸ’•πŸ€ΈπŸ€ΈπŸ€Έ


Salam dari Green.


Jan lupa untuk komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like komen like


πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯😣😣😣😣😣😣😣


TERIMAKASIH UNTUK KALIAN YANG SENANTIASA MENDUKUNG KARYAKU. AKU SANGAT TERHARU SAMPAI BENAR-BENAR INGIN BUANG ANGIN.

__ADS_1


🀣🀣🀣🀣


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2