
Tring
Lift telah sampai dimana Nazeera ingin melampiaskan amarahnya.
"Selamat siang, Bu!" Sapa Lika, sang sekretaris.
Nazeera hanya berlalu begitu saja. Tangannya terkepal, tak ada ekspresi sahabat. Pikir Lika.
Sepertinya nona sedang tidak baik - baik saja. Tapi tunggu.
Mata Lika masih saja fokus pada Nazeera.
Nona masuk di ruangan Dedi. Apa jangan-jangan Dedi membuat Nona Nazeera marah? Oh God.
Lika menutup mulutnya tak percaya. Dia ikutan mengintip Nazeera dan Dedi. Tentunya dengan langkah pelan, namun pasti.
Brug
Pintu di buka secara kasar oleh Nazeera. Dedi terlonjak kaget, karena keributan yang Nazeera timbulkan.
Spontan Dedi berdiri dari duduknya ingin memberikan sambutan selamat datang. "No_"
Prak
Tamparan mendarat mulus di pipi Dedi. Pria yang di tampar hanya diam, menampilkan ekspresi tenang. Kaget dan sakit mungkin saja dia rasakan. Tapi dia sangat lihai untuk menutupi semua itu.
"Apa yang kau katakan pada bang Tamar?" Bengis Nazeera menunjuk kasar pria di depannya.
__ADS_1
Oh God. Dedi mendapat tamparan spesial dari bos. Amaizing. Aku belum pernah melihat bos seperti ini.
Lika masih setia menguping di dekat daun pintu.
"Nona? Apa maksud Anda?" Tanya dedi merasa bingung.
"Tidak usah kamu pura-pura tidak tau, kamu kan yang laporin aku sama bang Tamar?" Nazeera mendorong dada Dedi. Untung saja pertahannya kuat, hingga dia hanya bergeser sedikit.
"Maaf nona, saya baru saja keluar dari ruang rapat, itu saja saya juga baru menerima panggilan dari tuan Tamar agar memesankan anda tiket ke tanah air. Jadi saya telah melaporkan apa nona pada tuan tamar?" Jelas Dedi merasa tak terima dirinya di tuduh terus-terusan.
Apa yang telah terjadi. Lapor? Oh astaga!!! Pasti ada yang dilakukan oleh nona Nazeera hingga tuan Tamar menjadi geram.
"Kalau bukan diri mu siapa lagi? Hah?" Tuduh Nazeera masih saja teriak.
"Jika nona tidak percaya, anda boleh bertanya pada Lika, Nona." Dedi mencoba mencari cara aman agar lepas dari singa betina yang sedang mengamuk.
Orang yang di sebut namanya menjadi salah tingkah. Hampir saja vas bunga di dekatnya terjatuh.
Lika buru-buru kembali ke ruangannya.
"Jadi, jika itu bukan dirimu, lalu siapa yang laporin ke bang Tamar?"
"Mungkin saja itu adalah suruhan tuan Tamar."
Mata Nazeera melebar, "Jadi?!"
Dedi mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Bahkan aku pun sudah pernah di curigai oleh saudara mu itu, nona. Saudara mu sangat posesif.
Nazeera menepuk keningnya, amarahnya sedikit mereda saat mengetahui dengan pasti siapa pelapornya.
"Abang!!!" Ingin sekali Nazeera memukul saudaranya itu saat ini juga.
Nazeera berjalan menuju ruangannya. Dia duduk dengan kasar di sebuah sofa panjang. Pikirannya sangat lelah. Entah apa yang terjadi dengan dirinya saat kembali ke tanah air. Apakah Tamar sangat marah dengannya.
"Bang Tamar makin posesif. Apalagi saat menjadi janda miliader." Ucapnya memijat pelipusnya lelah.
Hufftt.
"Tapi..." Mata Nazeera langsung terbuka. "Bau badan itu... Bau badan itu masih saja dengan bau badan Jaya." Gusar Nazeera yakin.
Dedi yang mengintip hanya geleng-geleng kepala.
Bau badan ku juga sama nona dengan tuan Jaya.
Batin Dedi. Menurutnya, Nazeera itu sangat konyol. Apakah adalagi persamaan antara Jaya dan juga Al? Padahal profil yang dia sendiri telusuri waktu itu sudah sangat jelas.
Bersambung...
Ayooo dukung Nazeera dengan VOTE LIKE DAN KOMEN.
Komen..... Di part ini aku bakal balas komen readers.... hehehe... maaf jika gak pernah balas komen kalian, itu dikarenakan aku lagi di serang oenyakit malas ngetik...
😆😆😆😆
__ADS_1
Lope lipe lope... pokoknya jan lupa tinggalkan jejak yooo.. Green tunggu...
di part ini, green akan jawab semua komen kalian.... ayo komen... Ada yang mau promo silahkan, aku akan mampir.... 💕💕💕💕