
Kini keadaan Nazeera jauh lebih baik. Hari ini sudah diperbolehkan pulang, tetapi harus istirahat yang cukup. Dikarenakan kakinya masih terasa nyeri untuk berjalan. Kesepakatan Jaya dan Nazeera tentang pernikahan akan diselenggarakan setelah Mitha telah sadar. Raha sudah pulang dikarenakan penyakitnya telah kambuh, takut Nazeera akan mengetahuinya hingga dia lebih memilih pulang lebih awal bersama Tamar.
"Zee, biar aku saja yang beresin sayang! Kamu istirahat saja." Jaya melarang Nazeera melakukan aktivitas apapun.
"Yasudah, aku ingin duduk di kursi roda, aku ingin menemui Mitha."
Dengan sigap, Jaya langsung mengangkat tubuh Nazeera. "Hey, kenapa kamu..." Nazeera kaget karena Jaya tiba-tiba menggendongnya, hingga dia langsung berpegangan di leher Jaya secara spontan karena takut jatuh.
"Sayang, kamu tenanglah. Aku akan menggendong mu ke kamar Mitha."
Dug
Dug
Dug
Apa yang aku rasakan ini? Mengapa aku....
"Sudah sampai. Kamu masih betah yah aku gendong?" Tanya Jaya tersenyum jail.
Nazeera langsung melotot. Kenapa aku ikutan begerilya manja. Bentar dia lagi GR. Batin Nazeera.
Nazeera langsung melepaskan pegangannya. Kemudian Jaya menurunkan Nazeera di sebuah kursi dekat Mitha berbaring. Jaya kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membereskan pakaian di kamar Nazeera dirawat.
"Mit, kamu bangun donk. Sampai kapan kamu tidur terus? Ayo kita ke mall, aku ingin beliin kamu baju buat kita hijrah bareng. Bukankah kamu telah berjanji bahwa kita akan kajian bareng?"
Tes
Nazeera meneteskan air mata haru. Dia sangat bersyukur memiliki teman seperti Mitha yang baru dikenalnya tetapi sudah rela untuk berkorban.
"Aku sudah mendengarkan saran mu, sekarang bangunlah!" Serunya dalam keadaan isakan.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu mengalihkan Nazeera, "Dok, kenapa dia belum sadar juga?" Tanya Nazeera saat dokter itu menghampirinya.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum, "Mitha dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja dia belum sadar efek obat bius yang kami berikan. Anda doakan saja, semoga dia secepatnya akan sadar."
Nazeera diam mengaminkan, dia menatap lekat kaki Mitha. Luka yang dia miliki dikakinya sangat sakit, lalu bagaimana dengan luka patahan. Pasti akan teramat sakit.
Hikz hikz hikz
Dokter itu seolah mengetahui apa yang dipikirkan oleh Nazeera.
"Tenanglah, Nona. Nona Mitha akan baik-baik saja dan akan berjalan seperti sediakala." Dokter itu berusaha menjelaskan sambil memeriksa keadaan Mitha.
Nazeera mendongak. Sebuah suara pintu terbuka membuat mereka sama-sama menoleh.
"Ada apa?" Tanya Jaya.
Dokter itu kembali menghadap ke Nazeera, "Nona Mitha akan bisa berjalan seperti sediakala. Namun membutuhkan membutuhkan beberapa proses. Seperti akan mengalami pembengkakan pada kaki yang patah karena akan mengalami penggumpalan darah." Dokter itu menjelaskan kembali dan menghiraukan pertanyaan Jaya.
Sial, dasar dokter sial. Berani-beraninya dia menghiraukan pertanyaan ku. Geram batin Jaya menatap sinis dokter itu.
Dokter itu menjeda ucapannya, "Gumpalan darah ini berfungsi membuang serpihan-serpihan tulang yang kecil dan membunuh kuman dan membantu proses penyembuhan. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu. Setelah 2-3 minggu, daerah patah tulang tersebut akan terbentuk sel-sel lembut yang menggantikan pembekuan darah."
Dokter itu tidak peduli akan tatapan Jaya. Dia hanya fokus pada profesinya.
Bagaimana bisa aku menjelaskan tanpa menatap. Aku bukan orang buta, Tuan. Batin dokter itu dengan berani membalas tatapan Jaya.
"Sel-sel lembut ini disebut juga sebagai pengganti sel yang hilang saat patah tulang dan proses operasi. Sekitar 2 minggu setalah sel-sel tersebut terbentuk, sel baru itu akan mengisi rongga tulang yang kosong dan membentuk sambungan pada bagian yang patah. Pada proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 minggu hingga tulang terlihat kembali membalik. Tetapi jika kondisi tulang benar-benar hancur, akan beda lagi proses perawatan dan pemulihan yang terjadi. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada Nona Mitha. Tulang kakinya tidak hancur." Jelas dokter itu dengan tersenyum semanis gula.
Ngak usah senyum semanis itu, bentar akan ada semut yang mendatangimu. Batin Jaya kesal. Dia sudah berulangkali berdehem tetapi dihiraukan oleh dokter itu. Sedang Nazeera masih saja membalas tatapan dokter itu sambil mendengarkan penuturannya.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Jaya dingin dengan tangannya berada di pundak wanitanya.
Nazeera melotot, haruskah dia bertengkar di depan dokter ini? Memalukan!
"Jika sudah tidak ada lagi, saya akan pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya, Nona."
"Masih ad-"
__ADS_1
"Sudah tidak ada. Silahkan keluar!" Ujar Jaya memotong ucapan Nazeera.
Saat dokter itu keluar, Nazeera mencubit keras perut Jaya. "Bisa-bisa aku jadi kdrt kalau kamu melakukan ini saya setelah kita menikah."
"Bod*h!" Nazeera cuek bebek tak peduli.
"Jangan manyun gitu donk." Jaya menarik pipi kiri kanan Nazeera.
"Sakit Jay." Kesal Nazeera mengusap pipinya.
"Aduh. Maaf. Aku lagi lupa kalau wajahmu sakit. Hehe." Ujarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Oh iya. Tadi ponsel Mitha berbunyi. Ngak tahu dari siapa." Jaya menyerahkan ponsel Mitha.
Nazeera mengambil ponsel Mitha. Kemudian berusaha untuk membuka ponsel yang bermerek Sony Ericsson. Ponsel itu memiliki beberapa tombol tapi huruf dan angkanya sudah mulai hilang. Sebagian layarnya sudah pecah.
"Jay, ini dari abangnya." Ucap Nazeera memperlihatkan panggilan tak terjawab.
(Hayoooo, gimana yah si Miko kalo udh tau adiknya masuk RS🤔🤔 anda penasaran.. sama saya juga😄)
Bersambung...
.
.
.
Jan lupa vote like and komen.
maaf lambat up, soalnya aku lagi ada tamu secara beruntun Ampe mlm.🤧🤧
sbg tuan rumah tau kan harus ngapain, ngak mungkin juga harus main hp saat ad tamu
Jan lupa mampir ke Senior, Aku Padamu 💕💕💕
__ADS_1
SELAMAT MENANTI...!!!