
Setelah puas mengisi lambung dengan canda tawa. Jaya kembali ke sebuah rumah sederhana dimana dia tinggal bersama tuan Juventus.
"Waahhh..." Nazeera merasa kagum dengan ruamah tersebut.
"Kamu suka?" Tanya Jaya setelah menutup pintu mobil.
"Ya." Nazeera tersenyum. Namun, hatinya jadi tak karuan, entah apa yang terjadi langkah selanjutnya.
"Ayo masuk!" Jaya menarik dan menggenggam tangan Nazeera. Sesekali, dia menggoda istrinya dengan menggaruk telapak tangannya.
"Apa sih Jay?" Nazeera berusaha melepaskan tangannya.
Sedang Jaya hanya mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.
"Apa sih? Mesum!" Nazeera berusaha menghindar.
"Awww..." Keluh Jaya pura-pura memegang kepala.
"Jay?" Nazeera sangat khawatir. Dengan cepat dia mendekat. Padhal tadi dia sudah berada jarak dua meter. Dasar!
""Yasudah, kita masuk kamar yuk, kamu istirahat."
Nazeera membimbing Jaya berjalan. Sedangkan orang yang di bimbing, berusaha mendenguskan indera penciumannya. Dia menyukai bau khas Nazeera.
Nazeera memeluk pinggang Jaya posesif. "Kamar mu dimana, Jay?" Nazeera mendongak.
blus
Pipinya kembali memerah. Mata netra mereka kembali bertemu. Ada raut sedih Nazeera lihat di mata suaminya.
"Jay?" Nazeera menyadarkan lamunan Jaya.
__ADS_1
"Hah?"
"Kamar mu yang mana?"
Setelah berhasil memasuki kamar Jaya. Nazeera tidak tau harus bagaimana lagi. Sedang Jaya yang sudah terbaring memperhatikan Nazeera.
Dia ingin tertawa memperhatikan istrinya yang sangat gugup.
"Zee..." Panggilnya dikala melihat Nazeera ingin keluar.
"Ya? Apa kepalamu masih sakit?" Dengan cepat Nazeera menyusul.
Jaya mengangguk meneruskan dramanya.
"Sini aku pijitan."
Jaya mengangguk lagi, kemudian menepuk kasur kosong di dekatnya. "Sini! Kami mau kemana? Ini kamar kita sekarang."
Nazeera naik ke kasur dengan kaku. Seumur-umur, ini pertama kalinya dia tidur di dekat laki-laki lain.
Hah? Laki-laki lain, padahal Jaya kan suami ku.
Nazeera membuang jauh-jauh rasa takutnya.
Jaya mengubah posisi tidurnya. Kepalanya dia rebahkan di paha sang istri. Dia bermaksud ingin mendapatkan belaian dan juga momen seperti ini sudah ketinggalan jauh. Cukup bulan-bulan kemarin dia lewatkan.
Jaya menutup matanya merasakan usapan dan pijatan Nazeera di kepalanya.
"Maafkan aku, Zee. Ini pasti berat untuk mu!"
Nazeera bersandar di sandaran. Sedang kepala Jaya dia tempatkan di paha sang istri. Air mata kembali lolos. Dia menyesal terlambat mengingat tentang istrinya. Padahal, dulu dia sangat gila menyangkut tentang Nazeera.
__ADS_1
Jaya sudah merasakan bahwa Nazeera sudah tertidur dengan posisi duduk. Makanya dia berani mengeluarkan air mata. Katakan saja bahwa dia adalah lelaki bodoh karena cinta. Demi cinta dia mengeluarkan air mata.
Dia bangun memperbaiki posisi tidur Nazeera. Kerudung yang tersematkan di sana dia lepas dan pengikat rambut juga agar Nazeera merasa nyaman dalam tidurnya. Kemudian memasang selimutnya dengan baik.
Cup
Jaya mencium dahi istrinya. "Maafkan aku telah membuatmu menderita."
Kemudian Jaya ikut berbaring, menarik Nazeera ke dalam pelukannya. Memeluknya posesif. Tapi tak puas itu saja, Jaya juga mencium seluruh wajah Nazeera.
Jaya mengingat, dia menjadi gila jika dalam sehari saja dia tidak mendapatkan foto aktivitas Nazeera dalam sehari. Jadi, Dedi menjadi kewalahan sendiri mengahadapi sang bos.
"Maafkan aku sewaktu mendorong mu dan mempermalukan diri mu di mall." Gumam Jaya. Air mata penyesalannya belum lenyap sedari tadi. Dia kembali memperbaiki pelukannya.
"Aku sudah lama memimpikan hal ini bersama mu."
cup cup cup
Nazeera menggeliat. Namun karena lelah, Nazeera lebih memilih merapatkan matanya.
"I love you, sayang." Gumam Nazeera ikut ke dalam mimpi.
Bersambung...
maaf kak jika ada yg kurang berkenan... ada gak disini sekitaran Sulsel? Yuk mampir ke rumah Green.
terimakasih atas dukungannya.
Rela up demi kalian, padahal kerjaan juga banyak... terimakasih karena masih menghargai kary otorπ tuh pendpatan green... rasanya mau berhenti aja jd penulis. tapi syg ma kalian, tanggung kan digantung. Digantung mah gak enak....
__ADS_1
igeh : greenteach21