
Hari sudah pagi, burung-burung sedang membunyikan suaranya. Membiarkan manusia-manusia menikmati suaranya yang nampak seperti alunan musik di pagi hari.
Jaya sedang duduk di sofa membiarkan kakinya selonjoran di atas meja di ruangan dimana Nazeera berada. Orang tua Nazeera belum mengetahui keadaan anaknya. Sedangkan Tamar sendiri sudah pulang karena khawatir akan kondisi sang bunda. Jika dibandingkan antara mansion dan juga rumah sakit, dia lebih memilih mansion untuk memastikan keadaan sang bunda, karena di rumah sakit sudah ada Jaya dan Dedi yang menjaga adiknya.
"Ded, urus Mitha buat pindahin dia di sini. Gue khawatir kalau emang yang loe katakan ada kasus perencanaan di sini."
"Baiklah, gue akan ke sana."
"Bos, jadwal loe gimana?" Tanya Dedi saat Jaya seperti tak ingin mengurus kantornya.
Jaya melihat Nazeera yang masih belum terbangun. "Gue ngak akan ninggalin dia lagi."
Dedi mengangguk mengerti, dia kembali menutup pintu. "Aduhhh, nasib bawahan emang selalu begini. Kalau dia ngak kerja, berarti gue lagi donk yang turun tangan." Gumamnya berjalan menuju ruangan Mitha.
"Permisi... Pasien atas nama Mitha ruangannya dimana?" Tanya Dedi pada perawat.
"Mari pak saya tunjukkan."
Tik tik tik
Hanya ada suara pendeteksi jantung di sana.
"Dokter yang menangani Mitha dimana? Bolehkah saya berbicara dengan dia?"
Perawat itu kembali mengantar Dedi bertemu dengan dokter itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dedi saat duduk di kursi.
"Hasilnya sudah jauh lebih baik. Kami hanya menunggu sampai beliau sadar. Mungkin membutuhkan beberapa waktu lagi. Itu semua karena pengaruh obat hingga dia belum sadar hingga sekarang."
Dedi mengangguk, "Bolehkah pasien di pindahkan dekat dari nona Nazeera?"
Dokter itu menautkan alisnya, "Maksud kami, kami hanya ingin memantau kembali keadaan Mitha, karena ini adalah kasus perencanaan. Kami sangat khawatir jika ada lagi seseorang yang ingin mencelakai Mitha dan juga nona Nazeera. Tidak menutup kemungkinan hal itu tidak dapat terjadi kan?"
Dokter itu mengangguk mengerti, "Baiklah. Nanti setelah ini akan kami pindahkan ke tempat dimana nona Nazeera berada. Tetapi tidak dengan ruangan yang sama, tetapi berada pada ruangan yang terpisah."
Dedi mengangguk, "Baiklah, asalkan kami bisa memantau dari jarak yang dekat." Dedi menyetujui persyaratan dari sang dokter.
Dring Dring Dring
Ponsel Dedi berbunyi, "Permisi, dok. Saya angkat telepon dulu."
Dedi keluar dari ruangan dokter.
"Halo."
"..."
"Yaa, baiklah. Saya di rumah sakit sekarang."
"..."
"Rumah sakit Citra Mediaka."
"..."
"Yasudah, tunggu saya di bawah."
Dedi menutup teleponnya, kemudian berjalan menuju lobby rumah sakit.
"Gimana, Pak? Sudah ada perkembangan?" Tanya Dedi kepada salah satu polisi.
__ADS_1
"Belum. Ini hasil lukisan yang kami dapatkan."
Dedi mengambil lukisan itu, gambar itu memakai masker dan kacamata. Dia seperti mengenali mata laki-laki itu.
"Baiklah pak. Terimakasih atas kerjasamanya."
"Dan ini ponsel milik nona Mitha."
"Baiklah, Pak. Terimakasih."
Dedi mengambil ponsel Mitha.
***
Tok Tok Tok
Dedi mengetuk pintu Nazeera.
"Bos, hasil lukisannya sudah keluar." Dedi menyerahkan lukisan itu.
"Loe kenal ngak?" Tanya Dedi.
"Ngak."
Jaya bersandar di kursi, memijat pangkal hidungnya. "Bentar ada rapat bos."
"Loe aja yang wakili. Sekalian lie bawain gue baju ganti."
"Yasudah. Gue sudah bilang ke dokter buat pindahin Mitha. Tetapi tidak dengan satu kamar. Kamarnya ada di sebelah. Gue ke kantor dulu."
Jaya mengangguk, Dedi memang benar-benar bisa sangat diandalkan.
"Oia, ini ponsel Mitha. Polisi tahldi menyerahkan ini." Dedi menyodorkan ponsel Mitha.
Dasar bos malas.
Umpat Dedi menyimpan ponsel Mitha diatas meja.
Dedi keluar dengan menutup rapat ruangan itu.
"Gue ngak akan biarin penabraknya lolos." Geram Jaya melihat lukisan itu.
***
Mitha telah dipindahkan ke ruang VIP, berdekatan dengan Nazeera. Jaya tak pernah sekalipun meninggal Nazeera.
"Zee, kamu buruan sehat donk. Mitha ada di sebelah loh." Jaya mengajak Nazeera berbicara.
Keadaan Nazeera sudah jauh lebih baik, "Aku ingin duduk." Pinta Nazeera.
Dengan telaten Jaya membantunya.
"Aku ingin melihat keadaan Mitha."
Jaya mengusap kepala wanitanya, "Jangan sekarang yah?"
Nazeera mengalihkan wajahnya malas, "Jangan begitu donk. Bentar Tamar marah lagi kalau kamu sampai kenapa-kenapa. Bunda juga belum tahu kalau kamu di rumah sakit."
"Hem." Nazeera hanya berdehem.
"Zee."
__ADS_1
"Hem."
"Lihat sini donk." Ujarnya memelas.
"Apaan sih?" Malas Nazeera yang masih bersikukuh tidak mau menghadap.
"Kalau ngak aku cium nih."
"1..."
"2..."
Jaya menghitung. Dalam bersamaan, Nazeera mengalihkan pandangannya sedangkan Jaya memajukan bibirnya.
Cup
Mendaratlah sebuah ciuman di bibir Nazeera.
"Hehe, kamu sih kira aku main-main."
Nazeera membuat genangan air di matanya.
"Eh-eh aku salah lagi yah?" Gelagapan Jaya.
Aduh, gara-gara nih bibir ngak bisa mengontrol diri.
Nazeera mengangkat tangannya minta dipeluk. Dengan cepat Jaya memeluknya.
Aduh, aku kira nangis lagi gara-gara aku cium.
Jaya tersenyum senang.
"Ahh ahhh, aduuh." Keluh Jaya saat Nazeera menggigit pundaknya.
"Hahaha, emang enak. Itu balasan dari aku." Ujar Nazeera bangga.
Aduh, kenapa juga gue suka sama bocil kek dia. Pemikirannya masih saja dangkal kek gini, tapi gue sayang.
Jaya membatin mengusap luka bekas gigitan Nazeera sambil menatap wanita yang tersenyum karenanya.
"Zee?"
"Hem." Nazeera hanya berdehem di sela-sela tawanya.
"Nikah yuk!" Serunya mengajak.
Bersambung...
.
.
.
Sekian dan terimakasih,, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh.💕💕
votenya Senin aja yah😚😚
Jan lupa kirim tanggapan kalian dengan cara klik area kolom komentar lalu Jan lupa kirim yah💕💕
like juga.. like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like.
__ADS_1
huwaaaaAAAAAAAAAAAAAAA.
SELAMAT MENANTI...!!!