
Assalamu'alaikum. Halo pembaca setia Ditinggal Nikah. Selamat membaca.................
"Kita tak boleh menyerah pada kehidupan, sekeras apa pun ia menerjang, kita harus berani untuk menghadapi dan melaluinya.Tak akan ada hasil bila yang dilakukan justru meratapi dan berkeluh kesah saja."
.
.
.
***
Saat mengetahui siapa pemilik punggung itu, Jaya sangat emosi dan juga merasa sangat bersyukur. Dia semakin memeluk pundak wanita itu erat. Setelah sapaannya di balas mereka ikut duduk.
Nazeera sangat kesal dengan perlakuan Jaya, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, pikirnya. Saat duduk Wanita itu tampak sering kali menghembuskan nafas panjang.
Jaya menoleh pada Nazeera lalu tersenyum, Sepertinya dia ingin menangis. Ayolah Zee, kamu harus terbiasa dengan keadaan yang seperti ini.
Jaya mengerti akan keadaan wanita yang berada didekatnya. Wanita itu duduk diapit oleh Jaya dan Dedi. Sedangkan di dekat Jaya adalah pemilik punggung yang membuat Nazeera ingin menangis.
Pandangan Nazeera hanya menuju pada pandangan yang lain. Merasa diperhatikan oleh seseorang yang berada di dekat Jaya dia merasa ingin pulang dan menghilang saat itu juga.
"Bagaimana kalau kita makan dulu." Usul Dedi saat selesai membahas tentang kerjasamanya.
Dedi tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Nazeera hanya ingin istirahat. Begitu yang Dedi pikiran.
"Terimakasih, Pak." Balasnya tersenyum.
"Pak Akhyar, mengapa Anda selalu memperhatikan calon istri saya? Apakah Anda masih tertarik?" Ujar Jaya menyebutnya sebagai calon istri.
Dedi menoleh ke arah Jaya, Sepertinya nama itu pasaran.
Nazeera menatap tajam ke arah Jaya. Hah? Calon istri? Yang benar saja. Bagaimana bisa dia berfikir begitu.
Akhyar terkejut, tetapi berusaha tersenyum untuk menutupinya. Pandangannya dialihkan ke Nazeera. Sesaat pandangan mereka bertemu, Nazeera langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Iya, perkenalkan dia adalah calon istri saya. Ku harap Anda mengerti." Ulangnya penuh penekanan.
Akhyar melirik ke Jari wanita itu. Mengapa sangat sakit?
Dia melihat jari Nazeera terdapat sebuah cincin. Begitupula dengan wanita itu, dia tidak tau sejak kapan cincin itu terpasang di jarinya.
Nazeera menatap Jaya penuh pertanyaan. Dia berusaha tersenyum. Mengikuti drama yang Jaya mainkan, mungkin akan lebih baik.
Akhyar memberikan ucapan selamat kepada mereka, "Jangan lupa undangannya."
Nazeera menoleh pada Akhyar dengan tatapan datar, Begitu mudahnya kamu ucapkan. Aku harus kuat. Batinnya menangis.
"Tentu, Pak." Balasnya tersenyum.
Jaya mengusap punggung tangan wanita itu. Memamerkan kemesraan yang tak diakui. Sungguh memalukan. Dedi berdecak melihat kemesraan bosnya.
__ADS_1
AC-nya dingin kok, tapi berasa sangat panas. Batin asisten Akhyar.
Nazeera ingin menarik lengannya, tetapi Jaya lebih dulu menggenggam lalu menciumnya. Tatapannya sangat berbeda sekarang, dasar kampr*t.
Lagi-lagi Nazeera mengikuti drama Jaya, dia pun membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan. Tak henti-hentinya dia mengumpat dalam hati.
Chii menjijikkan, jangan di sini juga woiii. Dasar si bos.
Bucin dahh. Takut amat di ambil orang. Ditatap saja ngak boleh. Salahin calon istrimu, kenapa dia cantik sekali. Hihihi.
Para asisten lagi-lagi hanya berkata melalui batinnya, tak berani mengungkapkan.
Dedi kembali menawarkan makanan. Mungkin dengan itu akan menghentikan mereka untuk mempertontonkan adegan panas plus kecemburuan masing-masing.
Tidak ada yang memulai untuk berbicara, hingga mereka selesai makan.
Hufftt. Ternyata masih berjalan mulus. Aku fikir mereka tidak profesional. Batin asisten Akhyar lega.
Setelah selesai makan, Jaya pamit. Dia tersenyum remeh terhadap Akhyar saat bersalaman. Dedi pulang dengan naik taksi karena Jaya yang menyuruhnya. Sebagai bawahan hanya menerima nasib saja dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Zee. Maafkan atas sikap ku yang tadi." Ucap Jaya merasa bersalah saat berada di mobil. Padahal dalam hatinya sangat senang.
"Hmmm." Nazeera hanya berdehem menyandarkan pundaknya dan mencoba untuk memejamkan mata.
Beberapa saat terbayang kejadian di restoran. Sewaktu ingin pergi ke kamar mandi, dia berpapasan dengan Akhyar.
Akhyar berjalan berlawanan dengan Nazeera, raut wajah bahagianya terpancar. Wanita yang sangat di rindukannya bertemu di sini. Orang yang membuat memory kepalanya penuh hanya dengan satu nama.
"Zee." Tiba-tiba Akyar memeluk Nazeera saat berpapasan.
Nazeera sangat bahagia mengetahui bahwa bukan cuma dia yang rindu. Akan tetapi lelaki itu juga. Seketika wanita itu tersadar bahwa sekarang Akhyar adalah calon suami dari sahabatnya sendiri.
"Maaf. Pelukanmu menyakitiku." Nazeera meringis.
Akhyar menarik lengan Nazeera menuju lorong kecil. Wanita itu memberontak tetapi usahanya tidak berhasil. "Aku fikir aku sanggup, tetapi aku tidak bisa melupakan mu begitu saja, Zee." Tutur Akhyar memegang pundak Nazeera.
Wanita itu tersenyum getir, haruskah menyalahkan takdir? Atau malah bersyukur dengan kehidupannya?
Dia melepaskan tangan Akhyar di pundaknya, "Sudahlah. Jangan membuat hati ku semakin sesak dengan mengungkapkan kata rindu."
Akhyar menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Dia memegang kedua tangan Nazeera. "Zee, maafkan aku."
Nazeera menarik ke dua tangannya. "Akhyar, aku sudah memaafkan mu. Ku harap kamu mengerti status mu sekarang. Mohon jangan bersikap seperti ini."
Nazeera berlalu meninggalkan Akhyar. Baru beberapa langkah, wanita itu berbalik, "Aku baik-baik saja dan aku sama sekali tidak merindukan mu."
Wanita itu berusaha tersenyum, "Entahlah, aku tidak mengerti sejak kapan kamu membodohi ku. Aku juga tidak tahu hubungan kalian yang......."
"Zee, apakah kamu sekarang membenciku?" Tanya Akyar memotong ucapan Nazeera.
Akhyar kembali mendekati wanita itu, "Apakah kamu membenciku?" Tanyanya kembali.
__ADS_1
Nazeera melipat kedua tangannya di depan dada, "Hahaha, haruskah aku membencimu? Apakah sekarang kamu merasa bersalah? Hubungan mu dengan Maya di mulai sejak kapan?"
Dia berhenti berbicara dan memperhatikan Akhyar dari atas hingga ke bawah. "Chiii menjijikan, kamu yang nikah kenapa kamu yang kurusan?" Tuturnya kembali.
"Zee, aku......"
Nazeera berusaha sekuat mungkin. Bagaimanapun juga, lelaki itu akan menjadi milik orang lain untuk selamanya.
"Pergilah!!!" Pintanya.
"Tapi Zee, aku hanya........."
"Iya aku tau, kamu hanya ingin meminta maaf dan aku memberikan restuku pada kalian karena telah berhasil menyakitiku dan mengkhianati ku."
Nazeera menarik nafas panjang, "Dan pengkhianatan mu mendapatkan nilai terbesar yang takkan pernah aku lupakan. Terimakasih untuk tujuh tahunnya, dan aku harap tujuh tahun itu akan menjadikan sebagai pelajaran untuk orang seperti mu." Tegasnya menunjuk ke dada Akhyar.
"Sekarang kamu pergilah." Imbuhnya dan melangkah pergi.
Akhyar tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih pergi sesuai perintah Nazeera.
Saat merasa Akhyar sudah jauh, wanita itu merasa tak sanggup lagi untuk melangkah. Dia memilih untuk berjongkok memeluk kedua lututnya.
Nazeera sudah mulai menguasai suasana hatinya kembali, tetapi masih ingin berjongkok hingga Jaya datang.
***
"Zee, are u Oky?" Kata Jaya menyentuh pundak Nazeera.
Nazeera yang melamun jadi tersentak kaget, "Hahh, iya kenapa?"
"Kamu harus sekuat karang, Zee. Ini belum seberapa saat menjaga jodoh orang." Kata Jaya mengusap kepala Nazeera.
"Sekarang sudah sampai. Sebaiknya kamu turun." Imbuhnya kembali.
"Kenapa di sini?"
Jaya menoyor kepala Nazeera, lalu turun dari mobil. "Kenapa juga selalu ditoyor kek gini." Gerutunya.
Bersambung...
.
.
.
Halo para pembaca Ditinggal Nikah. Moga aja judulnya ngak senasib dengan kalian yeeehhhh.
Boleh ngak author ngajak kalian pada Part ini tuk vote. Meski hanya 10 aja. Terus ninggalin jejak tujuh taoon gitoo. π€£π€£π€£ Spya Author lebih semangat Up nya.. Ckckck. wkwkw
Maap, author menjajah kalian. hehe
__ADS_1
Selamat menunggu......................ππ€ππ€£π π
DUKUNGANMU SEMANGATKUπ