Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ternyata


__ADS_3

"Loe lagi gak ada masalah kan bro?"


Mendengar pertanyaan Jaya, Tamar terhenyak.


"Gue udah beresin orang-orang yang terlibat kecelakaan itu." Tamar mengalihkan pemikiran Jaya.


"Baguslah. Berarti gue gak usah turun tangan." Jaya tersenyum memberi jempol.


(Siapa lagi yang membereskan semuanya jika bukan Dedi yah bro. Ingat Dedi. Bukan kalian. Hellow)


"Gue juga seberanya gak tahu kenapa dia menjadi wanita licik sekarang."


Jaya hanya tersenyum miring. "Dia punya dendam sama gue. Karena gue udah berulang kali bentak dan mempermalukan dirinya. Itu sih yang gue tangkap dari dirinya." Tebaknya.


Itu semua karena dia juga akan menggagalkan rencana ku. Maka rasakanlah akibatnya gadis malang.


Lanjut batin Jaya.


"Tpi sepertinya, loe besok akan mendengar kabar kematian dirinya." Jaya berucap santai.


Mendengar penuturan Jaya di akhir, Tamar tersentak. "Loe gila bro."


Jaya menoleh, pria itu merapatkan alisnya bingung. "Jangan bilang loe masih cinta sama wanita licik itu." Tuding Jaya memicingkan matanya.


"Bukan seperti itu." Melawan Jaya memang gila. Melakukan segala cara untuk menghabiskan seseorang jika itu menyangkut Nazeera.


"Dasar psikopat!" Umpat Tamar.


"Hahaha..."


Dikatai seperti itu membuat Jaya terbahak-bahak. Dia jadi mengingat rencana gilanya beberapa bulan yang lalu.


Rencana gila itulah yang menyebabkan dia memiliki Nazeera dimasa sekarang. Bukankah cinta itu butuh usaha dan perjangan? Maka itulah usaha cinta mati Jaya terhadap Nazeera. Dia mencintainya pada saat masih anak-anak. Dan cinta itu lah yang membuat dia kembali ke tanah air.


FLASHBACK


"Loe yakin akan melakukan rencana ini?" Tanya Dedi.


Orang yang ditanya hanya mengangguk. Memamerkan senyum penuh maksud. Di tangannya, dia menonton sebuah ponsel dengan layar lebar.


"Gimana jika nanti kebenarannya terungkap? Kamu masih yakin bisa melawan nona Nazeera, tuan Jaya Alfredo?" Tantang Dedi mengejek sahabatnya.


"Lihat saja nanti." Jaya menyatukan tangannya. Membayangkan sesuatu yang akan terjadi kedepannya. Ini memang benar-benar gila. Pria itu kembali menatap layar permainan di deoannya.


"Urus tiket ke tanah air bulan depan." Jaya tersenyum sarkas. Hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan yang berlipat ganda. Karena yakin usahanya tak akan sia-sia.


Di layar tersebut menampilkan sebuah pesta di hotel ternama. Dimana dihadiri oleh anak muda dan mudi. orang itu adalah Akhyar, Maya, Ayu dan juga Nazeera.


"Sayang? Kamu gak apa-apa?" Ucap Akhyar menghampiri kursi Nazeera.


Ini adalah acara reunian untuk yang ke sekian kalinya setelah mereka telah tamat sekolah di sebuah hotel yang mewah.


"Iya, aku baik-baik saja." Bagaimana Nazeera tidak jatuh cinta dengan Akhyar. Oranganya sangat lembut, pengertian dan juga perhatian.


"Baiklah. Kalau kamu mau, ayo kita pulang lebi awal."


"Tidak usah, saya hanya sakit perut biasa kok di pertengahan buan seperti ini."

__ADS_1


Akhyar mengangguk patuh. Dia berdiri mengambilkan air minum dan juga makanan untuk Nazeera.


"Sayang... Makan dulu." Diperlakukan seperti ini membuat Nazeera semakin jatuh hati. "Terimkasih sayang."


Akhyar menyuapi Nazeera, kemudian diiringi canda dan tawa mereka.


"Sayang... Aku ke kamar mandi dulu yah..." Pamit Akhyar setelah meneguk minumannya.


Nazeera mengangguk.


Di perjalanan menuju kamar mandi, Akhyar bertemu teman lamanya. Dia meminum segelas wisky sebagai perayaan atas pertemuan dan berlangsungnya acara ini.


Saat tiba di kamar mandi, perasaan Akhyar menjadi tak karuan. Dia pikir dirinya sedang mabuk hanya dengan meminum sedikit wisky tadi yang di tawarkan oleh temannya.


Akhyar membasuh wajahnya, kemudian keluar dari kamar mandi.


Prak


tanpa sengaja, Akhyar menabrak seseorang yang tak lain adalah Maya yang ingin ke kamar mandi juga.


"Yar... Loe gak apa-apa?" Maya kaget melihat Akhyar yang oleng.


Maya membantu Akhyar berdiri. "Gue anterin loe pulang aja kalau loe lagi sakit. Gue kabarin Nazeera yah..." Maya memapah Akhyar.


"Gak usah. Pesenin gue kamar aja... Sepertinya gue mabuk deh..."


Maya mengangguk saja. Wanita itu merasa kasihan. Dengan langkah seribu, dia memesan kamar kemudian kembali lagi pada Akhyar setelah mendapatkan kunci kamarnya.


"Yar... Gue bantu loe ke kamar yah?"


Akhyar yang sudah mabuk, mengangguk saja. "Sudah tahu tak kuat minum, kenapa esti dipaksain buat minum." Rutuk Maya sambil memapah pria itu.


"Yar... Jangan..." Maya berusaha menghindar dari ciuman brutal Akhyar.


Tik


Lift terbuka. Dengan cepat Maya membantu Akhyar berjalan walau sedikit kesusahan. Tibalah mereka di sebuah kamar.


"Yar... Ku mohon, hentikan!" Maya memegang wajah Akhyar agar berhenti menciumnya.


Akhirnya pintu terbuka juga. Dengan cepat, Maya membawa Akhyar masuk agar tak dilihat banyak orang.


"Yar... Gue mohon berhenti... Gue gak mau." Akhyar langsung mendorong Maya tanpa sekata pun.


"Yar..." Teriak Maya sejadi-jadinya.


Hikz hikz hikz


"Akhyar, gue mohon hentikan!" Maya bagai anak yang kesetanan. Dan pada akhirnya, semuanya itu sia-sia. Akhyar telah berhasil menembus harga diri seorang Maya.


...****************...


"Gila yah... Siapa yang menjadi sponsor utama untuk acara kita kali ini. Di hotel yang begitu mewah dan T O P." Celoteh Ayu di hadapan Azeera seraya mengangkat jempolnya. Menurutnya, acara kali ini benar-benar istimewah.


Nazeera hany membalasnya dengan senyum. Meski masih penasaran siapa yang menjadi sponsor utama.


"Zee... Akhyar mana?" Tanya Ayu ketika sudah beberapa menit berlalu.

__ADS_1


"Tadi sih katanya pamit ke toilet."


"Kok lama yah?"


"Yasudah, gue telpon dia dulu." Nazeera mengambil ponselnya. Tetapi nomor yang dituju tak juga mengangkat panggilannya.


"Ini kemana yah? Maya juga belum kembali."


"Hahaha. Gak usah cari Maya. Mungkin aja dia cari jodoh di sini."


"Hihihi." Nazeera cengengesan membayangkan Maya mendekati seorang pria.


"Kamu sendiri bang Tamar mana?" Goda Nazeera. Wanita itu tahu, tak akan mudah membujuk seorang pria kepala batu, Tamar.


"Yaelah. Kayak loe gak tau aja." Semangat Ayu langsung down.


Waktu telah berlalu begitu cepat. Pada akhirnya, Nazeera pulang bersama Ayu. Meskipun kesal karena Akhyar ergi tak mengabari dirinya.


...****************...


"Woi...." Teriak Tamar di gendang telinga Jaya.


"Seta*n!!!" Umpat Jaya memegang dadanya kaget.


"Hahaha.... Kenapa kamu melamun begitu?"


"Gak ada." Elaknya. "Oia, Nazeera meminta nikah ulang nih. Loe ada solusi gak?"


Mendengar penuturan Jaya, membuat dirinya tak tahan untuk tidak tertawa.


"Hahaha." Tawa Tamar seperti ada yang menggelitik perutnya.


"An*ing loe." Jaya tahu kenapa dirinya jadi bahan tertawa. Untung aja Dedi tidak bergabung.


"Berarti loe belum unboxing dong. Hahaha. Dasar perjaka tua." Sekali lagi, Tamar tertawa seperti orang gila.


Karena kesal, Jaya menendang kaki Tamar.


"Sakit an*ing." Tamar mengusap kakinya yang sakitj.


"Gak sadar diri, loe katain gue perjaka tua. Nah, Kau sendiri apa? Hahaha." Balas Jaya.


"Gue udah nikah dong." Pamer Tamar menaikkan jarinya dengan maksud untuk pamer.


Jaya mendelik malas. "Gue aja udah nikah tapi belum unboxing. Bisa ajakan sama kek gue."


"Yee enak aja. Udah dong."


Malahan gue udah nyicil duluan.


Tamar jadi melamun mengingat kembali di saat ertama kalinya mendapatkan kenikmatan yang diberikan oleh Mitha, istrinya.


"Bambang!!!" Karena kesal dengan raut wajah Tamar, Jaya berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Prak


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa yah besti komen... spy otor jg smngat up


__ADS_2