
Setelah kejadian itu, Jaya tak lagi muncul dihadapan Nazeera. Keadaan Nazeera kembali terpuruk, bayangan malam itu menurutnya sangat nyata dengan melihat wajah orang yang dicintainya.
Jaya sangat baik pada ku. Tapi dia lebih cocok jadi om ku daripada jadi istrinya. Aku masih muda, sedangkan dia! Aishhh bunda menyuruh ku untuk menikahinya. Apa aku tidak salah minum obat?!
Tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan seorang wanita yang sedang duduk selonjoran di atas sisi balkon.
"Nak, sejak kapan kamu jadi orang seperti ini? Tidak mengurus diri kamu sendiri, sholat pun kamu tinggalkan."
Nazeera tidak menggubris, Aku sudah menjadi wanita berdosa, akan kah aku diampuni? Sekujur tubuh ku telah dire*as oleh pria berupa om om. Aku membenci diri ku, bukan kepada Tuhan ku. Aku malu pada-Nya.
Batin Nazeera.
"Nak, menikahlah dengan Jaya, dia sudah melihat dirimu yang sesungguhnya. Tutupi rasa malu mu dengan menikahinya."
Raha sudah mengingatkan kembali putri semata wayangnya, tetapi hal itu tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba dia keluar dari kamar itu karena dirinya merasa nyeri dibagian pinggang.
Nazeera merasa dunianya telah kelam bersama dengan waktu, persoalan hati ternyata bukanlah main-main apalagi kehilangan. Mungkin inilah maksud dari kata-kata, 'Cintailah sesuatu seperlunya, jangan berlebihan'. Cinta dapat membuat seseorang berubah. Menghalalkan segala cara demi sesuatu itu. Dan sekarang Nazeera sudah menjadi korban dalam perihal percintaan.
Deringan telepon membuat Nazeera bangkit dari duduknya, dia mengerutkan keningnya saat melihat nomor baru yang selalu saja menghubunginya.
"Ada apa?" Ucap Nazeera ketus. Padahal dia sendiri belum mengetahui siapa pemilik nomor itu.
"..."
Mendengar cerita diseberang sana, dia kembali mengingat-ingat, "Ohhh, Amitha yah?"
"Iya, gimana sih loe, tiap kali aku telepon ngak pernah loe angkat." Ucap Mita kesal.
"Hem, maaf." Ucapnya malas.
"Hei, loe kenapa?" Ucapnya menebak jika Nazeera lagi ada masalah.
"Ngak apa-apa." Balas Nazeera.
"Loe masih ingatkan pertemuan pertama kita? Loe malu-maluin gue tau ngak. Sampai sekarang gue belum berani menampilkan muka gue di bukit itu."
Suara Mitha benar-benar menahan amarah ketika mengingat ketika Nazeera mengerjainya.
Senyum simpul Nazeera terbit, "Hem, yasudah."
"Yasudah apanya?!" Teriak Mitha. Teriakan itu membuat Nazeera menjauhkan teleponnya tepat di telinga.
"Gue malu banget, gue kesel sama loe." Rahangnya mengeras.
"Hem, kesel ditanggung sendiri. Bukan sama aku."
"Hei!!! Hikzz gue lagi butuh teman nih. Ketemuan yok." Ajak Mitha.
Nazeera berfikir, selama dua hari ini dia tidak pernah keluar kamar, hanya di kamar saja menghabiskan waktu. Waktu kerja pun dia lupakan. Akhhh, aku benci cinta. Desah batinnya.
"Yasudah. Aku mandi dulu."
Sudah dua hari aku ngak mandi, benar-benar malas. Ganti bajupun ngak pernah selama ini. Mengapa tidak ada semangat sama sekali.
__ADS_1
Keluhnya berjalan malas ke kamar mandi.
Setelah selesai, dia berjalan menuruni tangga, karena dia sekarang tinggal di mansion.
"Zee, kamu mau kemana nak?" Tanya Raha saat keluar dari kamarnya.
"Keluar." Ketus Nazeera tanpa memandang.
Bunda selalu menyuruh ku menikahi Jaya. Aku ngak mau.
Raha memegang dadanya, kali ini dia benar-benar merasa terpukul. Sudah dua hari ini dia tidak mendengar suara anak bungsunya. Namun sekali terdengar langsung menyayat hati.
Yaa Tuhan, ampunilah dirinya. Aku terluka, benar-benar terluka. Apakah aku sekarang sudah merasa menyesal merawat nya atau aku menyesal tidak mengenalkan Mu lebih dekat. Hingga berbicara kepadaku pun tak ada etika.
Raha menelan salivanya, takdir ini memang benar-benar harus dia lewati.
Ikhlas yang katanya sangat mudah untuk dilakukan, tetapi tidak dengan Nazeera. Ikhlas?! Omg, aku masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi. Karena selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku mau berkat orang tuaku. Tapi sekarang, dia malah mendukung ku menikah yang pantas aku panggil om daripada suami.
Batinnya saat melewati Raha.
"Dia kenapa lagi, Bun?" Tegur Tamar saat turun dari tangga.
"Adikmu benar-benar dibutakan oleh cinta, hingga cinta kita tak terlihat di matanya." Ucapnya menangis.
Tamar memeluk Raha, "Bunda, a-aku..." Ucapannya tak dia selesaikan karena mengingat hal yang sama menimpanya sebelum Ayu datang dalam kehidupannya.
"Bagaimana keadaan bunda?" Tanyanya mengalihkan.
"Tidak apa-apa."
"Bunda akan kontrol di sini saja. Bunda sehat dan baik-baik saja kok." Ucapnya meyakinkan mengusap pipi anaknya.
Aku tidak percaya Bun, aku sudah periksa hasil pemeriksaan bunda. Aku takut kehilangan bunda. Batin Tamar memeluk kembali Raha erat.
***
๐จKita ketemuan dimana? Isi pesan Nazeera kepada Mitha.
๐ฉAku ngak mau ke bukit itu lagi, gue malu. Loe ke jalan xxx aja.
๐จAku malas pakai motor, aku naik angkot. Okk gue ke sana sekarang.
๐ฉ Terserah loe, gue ada di halte pakai baju merah janda.
Nazeera mengerutkan keningnya, Emang ada merah janda?! Bukannya dimana-mana yang ada ungu janda. Menurutnya, Mitha selalu saja ngaur jika sedang chatting-an apalagi berbicara langsung dengannya.
๐ณ๏ธ Loe dimana? Kulit gue udah setengah lotong tapi loe belum datang juga.
Mitha mengirim pesan ke Nazeera, tetapi tidak terkirim.
"Yaelah, pulsa gue habis." Gerutu Mitha.
***
๐จ Aku sudah ada di halte. Tapi kamu tidak ada.
__ADS_1
Nazeera mengirim pesan tetapi belum ada balasan. "Si Mitha kemana nih, pesan ku belum dijawab, jangan-jangan dia ngerjain aku. Aduhh, be*go banget sih gue." Rutuknya.
Haaachiiiin
Mitha jadi bersin, "Siapa yang kutuk gueee!" Kesalnya.
Saat ini, Mitha berada di konter, "Maaf, pulsanya sudah terkirim."
"Terkirim apanya?! Gue juga belum bergeser 360 derajat di sini tapi belum masuk juga."
"Tapi ini beneran sudah masuk mba pulsanya." Ucap penjual itu memperlihatkan isi pesannya.
"Ini gue juga belum masuk." Kesal Mitha memperlihatkan isi pesannya juga.
"Coba cek nomor Mbak sekali lagi di buku itu, benar tidak?" Ucap penjual itu mencari bukti.
Mitha menuruti ucapan penjual itu, dan ternyata benar, nomor yang dia masukkan adalah nomor salah.
"Aaaaaaaaaa. Uang gueee melayaaaaang!" Kesal Mitha.
"Seharusnya salah nomor gitu ditanggung konter donk." Saran Mitha ketus karena masih kesal.
Dia pergi dari konter itu dengan keadaan masih kesal, "Hari ini gue benar-benar sial. Gue cuman punya uang pas-pasan. Ngapa gue jadi bodoh yah. Akhhh. Gue salah nomor, haishhhhh."
Dia menghiraukan pesan masuk dari Nazeera, "Begini nih jika orang miskin punya ponsel. Punya hp tak punya pulsa." Gumamnya.
Dring Dring Dring
Panggilan masuk dari Nazeera, Aishhh, dia kan orang kaya. Kenapa gue jadi beg*o begini yah?! Takut gue ngak bales pesannya. Padahal dia kan bisa telepon gue. Aaaahhhhh benar-benar apes deh gue. Gerutu Mitha.
Dia kembali menatap konter itu, "Duit gueeeee melayang 100 rebuuu."
(Kalian pernah ngak seperti ini? Hahaha, sabar yah Mitha,, akan ada gantinya kok๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ)
Bersambung...
.
.
.
Ayolah dukung Nazeera dengan cara ketik reg spasi Nazeera kirim ke konter terdekat๐ ๐ ๐คฃ๐คฃ๐๐.
Semoga kalian terhibur. Salam akhir pekan๐๐
Jan lupa VOTE LIKE AND KOMEN ttg tanggapan kalian di part ini.
Jan lupa juga mampir di karya kedua ku yah๐๐
- Senior, Aku Padamu.
Tinggalkan jejak di sana juga!!!
SELAMAT MENANTI...!!!
__ADS_1
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE READERS ๐