Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ketakutan


__ADS_3

Jaya menarik tangan Nazeera, " Hey, Jay! Aku sangat membenci lelaki kurang ajar. Jadi, jaga sikapmu!" Seru Nazeera mengingatkan.


"Sayang, kalau kamu seperti ini terus. Ingin sekali rasanya aku mempercepat pernikahan kita." Ujar Jaya berusaha menyentuh Nazeera.


Praakkk


Tamparan mendarat lagi di wajah tampan Jaya.


"Bukankah kamu sudah mengetahui bahwa aku sangat menjaga kehormatan ku? Mengapa kau sangat mudahnya memperlakukan ku seperti ini?" Tutur Nazeera yang wajahnya sangat merah karena amarah.


Jaya tidak peduli, dia masih saja berusaha meraih wajah Nazeera yang berpaling. "Kamu sangat jauh berbeda dengan Akhyar." Lanjut Nazeera lagi.


Menyebut nama Akhyar, Jaya langsung menghentikan aktivitasnya. Tatapannya tajam, entah apa yang dia pikirkan.


Jaya mendengus kesal, mimik wajahnya kini berubah menjadi benar-benar menakutkan. Nazeera tak berani melihatnya, dirinya sangat ketakutan.


Berani-beraninya dia membandingkan aku dengan bocah seperti dia. Bocah *****, apa bagusnya dia dibandingkan aku?!


Dengus batin Jaya.


Jaya melangkah mendekat dan mendekat. Wanitanya ikut mundur, tanpa sadar dia sudah masuk ke dalam kamar mandi hingga terpojok di sebuah dinding. Kaki Jaya menutup pintu dengan keras tanpa menoleh ke belakang. Dada Nazeera sangat tak beraturan, entah apa yang merasuki Jaya sehingga mengeluarkan aura yang sangat menakutkan, begitu pikirnya.


Entah mengapa, suasana saat ini sangat panas hanya karena berdua dengan lelaki brengs*k seperti dia. Tuhan, hanya padamu aku memohon pertolongan dari makhluk seperti dia.


Doa wanita itu.


Pada saat bersama dengan Akhyar, Jaya sebenarnya sangat marah. Apalagi dengan kejadian Maya yang ingin mengakhiri hidupnya di hotel miliknya. Dan sekarang? Nazeera yang membandingkan dirinya dengan Akhyar.


OMG, emangnya aku ini perbandingan dalam rumus matematika?! Batin Jaya.


Jaya menatap wanitanya dengan sebuah maksud, "Mengapa kamu sangat suka menamparku? Emang kamu melihat ada nyamuk di pipi ku?" Tanya Jaya dengan nada ketus dan datar.


Mengerikan, "Ka-kamu jangan kurang ajar. Bukankah ayahku telah menitipkan ku padamu? Mengapa kamu merusak kepercayaannya dengan cara seperti ini? Oh iya, jika bang Tamar tahu kamu memperlakukanku seperti ini, pasti dia akan bertin...."


Nazeera tak lagi menyelesaikan ucapannya, dagunya di cengkram dengan kasar, "Hikz hikz hikz, Jay! Kenapa kamu kerasukan seperti ini? A-aku takut!"


"Jangan pernah membandingkan aku dengan pria pengecut dan brengs*k seperti dia."


Nazeera meringis atas cengkraman Jaya. Dia memejamkan mata sambil berdoa. "Ini adalah hukuman jika kamu masih membandingkan aku dengan dia." Jaya melepas kasar cengkeramannya.

__ADS_1


Nazeera merosot duduk di lantai, hingga baju yang dia kenakan sebatas lutut jadi terangkat memperlihatkan paha mulusnya.


"Ganti bajumu sekarang dan jangan memperlihatkan sesuatu yang dapat merugikanmu dan dapat menguntungkan ku!" Serunya.


Nazeera mendongak menatap Jaya dari kaki hingga berhenti ke mata pria di depannya. "Apa yang kau lihat? Apakah kau masih belum mengerti apa yang aku maksud? Kalau kamu masih seperti ini, maka puaskan aku dulu." Jaya sudah melepas ikat pinggangnya dan juga kancing bajunya.


Nazeera memeluk kedua lututnya, dia menangis, ternyata benar. Saat ini hidupnya benar-benar akan tamat. Kehormatan, kesucian, oh tidak!


Entah dimana lagi keberanian Nazeera saat ini. Berada dalam keadaan begini, membuat dia kehabisan ide untuk kabur meskipun berfikir keras karena diliputi ketakutan. Ponselnya ketinggalan.


Jaya ikut berjongkok, "Berdirilah sayang, mungkin dengan cara begini kamu bisa menyukai om-om seperti ku karena kamu puas atas pergulatan ku." Ucap Jaya tersenyum sumringah.


"Dasar brengs*k. Aku menyesal ikut bersama mu. Ternyata benar, kau itu benar-benar brengsek, Jay." Nazeera memukul dada Jaya.


"Apakah kamu melihat aku wanita murahan?! Jika kamu ingin menodai ku, berfikir lah dua kali. Aku lebih baik mati jika melukai harga diriku." Nazeera masih menangis.


"Baiklah, aku akan melepaskan mu saat ini, tetapi setelah lepas adegan ini." Jaya sudah membungkam mulut wanitanya.


Jaya menarik tekuk leher Nazeera, "Jika kamu tidak ingin aku siksa seperti ini, lakukan apapun yang aku inginkan. Sekarang bersiaplah menuju suatu tempat dan jangan membantah." Serunya setelah Jaya melepaskan ciumannya.


Jaya berdiri, tidak peduli lagi dengan Nazeera kedepannya. Apakah dia akan takut padanya atau malah sebaliknya. Dia mengacak kepalanya frustrasi.


Jaya melepaskan bajunya dan juga celananya. Nazeera memalingkan wajahnya, sebenarnya dia ingin keluar. Tetapi pria brengs*k itu menahannya.


Yang dilakukan Nazeera ialah menangis, hingga terdengar di telinga Jaya. "Hentikan tangisanmu!" Tegur Jaya tidak suka melihat wanitanya menangis.


"Aku tidak akan memperkos* mu jika kamu mendengarkanku."


Jaya menyiram kepalanya, mungkin dengan cara seperti itu dia bisa menghilangkan pikiran negatif, cemburu yang meliputnya saat ini.


Percikan air mengenai tubuh Nazeera, tangisannya tak lagi terdengar, tetapi air matanya selalu saja menetes.


Dosa apa yang aku lakukan hingga aku merasa terjebak dengannya. Batin Nazeera.


***


Nazeera benar-benar berada di sandaran dinding. Menutup matanya karena tak ingin melihat Jaya mandi di depan matanya.


Setelah Jaya selesai mandi, dia melihat Nazeera yang masih memejamkan mata. Wajah sembab dan bekas air mata karena ulahnya.

__ADS_1


Melihat itu dia kembali merutuki dirinya, tak seharusnya dia ikut emosi jika hanya persoalan Nazeera membandingkan dirinya.


"Nazeera, aku benar-benar sangat mencintai mu. Sangat!" Gumamnya keluar dari kamar mandi dengan handuk dililitkan di pinggang.


Jaya telah memakai pakaian lengkap, begitupun dengan aksesoris seperti jam tangan. Dia melihat jam ternyata sudah siang.


Aku lupa bahwa aku punya janji dengan Dedi. Sial, gara-gara kejadian ini menyita banyak waktu. Batin Jaya kemudian melirik ke arah kamar mandi.


"Mengapa bocah itu tidak keluar juga?" Tanya Jaya pada dirinya sendiri.


Pria itu kembali mendekati kamar mandi, "Nazeera? Kamu siap-siap sekarang. Jangan membuatku menunggu lama." Ucap Jaya tanpa merasa bersalah atas kejadian yang baru saja terjadi.


Tidak ada sahutan suara wanita di dalam sana, tetapi hanya terdengar suara pecahan cermin.


Jaya membuka pintu kamar tetapi tidak terbuka, "Oh astaga! Nazeera, apa yang kau lakukan?" Tanyanya khawatir. Berteriak agar Nazeera membuka pintu, menggendor dengan keras tetapi tidak ada sahutan.


"Nazeera, buka pintunya! Jika tidak aku akan mendobrak pintu ini." Jaya sangat gusar.


Ternyata benar, perbuatannya saat ini akan merugikan dirinya sendiri, tidak mendapatkan cinta malahan benci yang semakin menumpuk di mata wanitanya.


Bersambung...


.


.


.


Genkzzz, Jan lupa tinggalkan jejak yah.


Oia, baca juga karya Author yang satu iniπŸ˜šπŸ˜šπŸ€—πŸ€—


- Senior, Aku Padamu


VOTE LIKE AND KOMEN yah GESS,. lopiyuuuuuuhhhhh somayy πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ˜ŒπŸ€£


Maaf telat up, dikarenakan kesibukan melandaπŸ˜‘πŸ˜‘


SELAMAT MENANTI...!!!πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2