
Pengacara itu membungkuk hormat di depan Nazeera. βSelamat sore, Nyonya. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan sebuah amanah dari mediang Tuan Jaya.β Pengacara itu mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.
βTiga hari sebelum pernikahan Nyonya bersama Tuan Jaya, almarhum telah berpesan bahwa semua hartanya dibalik nama atas nama nyonya sebagai kado pernikahan darinya.β Pengacara itu memperhatikan mimik wajah dari Nazeera.
"Kamu bodoh! Aku tidak ingin semua itu. Aku ingin kamu di sini. Jangan membuatku menjanda." Nazeera memeluk batu nisan itu seperti tengah memeluk seseorang.
Hikz hikz hikz
Hadoh, jadi janda muda dan janda kaya. Siapa yang ngak mau menolak. Tapi itu semua siapa yang menginginkannya.
Batin Dedi. Dia mengernyitkan dahinya.
Kalau dia belum pernah malam pertama dengan si bos, akh bakal seru nih, janda muda nan kaya. Masih ori lagi.
Lanjut batin Dedi tersenyum.
Akh, apa yang aku pikirkan? Nyonya muda alies janda muda sekarang sedang bersedih.
Lerai pada dirinya sendiri.
"Ekhem." Suara dehem dari seseorang membuyarkan lamunannya.
"Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri?" Tanya pengacara. Dia memegang kening Dedi, menurutnya tidak ada yang lucu dalam pembicaraan tadi, tapi kenapa dia tersenyum.
Dedi menepis tangan pengacara itu.
"Jangan sentuh saya dari tangan najis mu itu." Pekik Dedi.
"Zee, ayo kita pulang." Ajak Tamar.
"Ngak bang. Aku masih ingin di sini."
Berbagai cara telah dilakukan oleh Tamar agar Nazeera pulang, karena kesehatannya tidak baik.
"Zee, kamu lagi sakit. Sudah lah, doakan saja Jaya."
"Ngak bang. Jika kalian ingin pergi, pergi saja. Kenapa mesti mengajak ku? Jika aku sakit lebih baik, lebih cepat mati supaya bisa menyusul Jaya."
"Apa kamu bodoh!" Bentak Tamar.
Nazeera tercengang. Dia kaget atas bentakan dari saudaranya. Tamar menyadari dirinya, tak seharusnya dia melakukan itu.
"Iya bang, aku memang bodoh. Jika aku menyusahkan mu, maka maaf kan aku. Lebih baik kalian duluan saja." Suara Nazeera Nazeera sangat tidak jelas lagi, bibirnya tampak gemetar.
Di sana hanya tersisa beberapa orang saja. Hanya ada Dedi, Ayu, Tamar, dan juga pengacara itu. Mitha masih berada jauh dari tempat pemakaman itu.
Dedi hanya menyaksikan drama itu secara langsung. Begitu pun dengan yang lainnya.
Huft, ini seperti lagu nya bang roma saja. 'Kalau sudah tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga.'
Lagi-lagi Dedi membatin sambil tersenyum.
"Apakah kamu sakit? Kenapa kamu tersenyum terus padahal kita ini masih berduka." Bisik pengacara.
"Urus saja urusan mu." Ketus Dedi.
"Zee, kasihan Mitha. Ayo kita pulang." Ajak Ayu ikut berbicara dengan lembut.
Nazeera mengalihkan pandangannya ke arah Mitha. Matanya bertemu, kemudian Mitha tersenyum pada Nazeera.
Nazeera kasihan pada sahabatnya, Mitha cacat karena dia dan sekarang Mitha juga menunggu karena dia.
__ADS_1
Nazeera mengangguk, Tamar turut bahagia akan hal itu. Ayu dan Tamar sudah tak lagi akrab seperti biasa. Entahlah, sepertinya dia memiliki masalah pribadi dengan hubungannya. Hingga menatap saja tak ingin, apalagi berbicara dengannya.
Nazeera sudah berada di mobil, begitupun dengan Mitha. Sebenarnya Ayu diajak Nazeera untuk satu mobil, tapi Ayu menolaknya dengan alasan dia ingin berada di mobil Dedi. Padahal dia ingin menghindari Tamar.
"Ded, kamu sebaiknya kembali ke lokasi kecelakaan naaz. Kemarin aku melihat cctv di sana. Kamu periksa itu. Aku ingin kembali ke rumah sakit. Setelah itu aku akan menyusul mu ke sana." Perintah Tamar. Dia melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Dedi.
Tumben formal. Akh, mungkin saja sedang dirundung masalah.
Dedi menepis pikirannya.
Dedi kembali ke mobilnya. Pengacara itu telah pergi lebih awal.
"Maaf, Nona. Saya telah diperintahkan oleh Tuan Tamar untuk mengunjungi lokasi kecelakaan. Apakah anda ingin ikut saya ke sana?" Tanya Dedi, padahal dia bermaksud ingin mengusir perempuan itu dari mobilnya.
Tanpa banyak bicara, Ayu keluar dari mobil.
Brak
Ayu menutup pintu mobil kasar. Dedi hanya bisa menyaksikannya melalui kaca mobil. Dia tersenyum kecil atas sikap Ayu.
Niat ingin terhindar dari dia, malah sekarang semobil lagi dengan dia.
Rutuk batin Ayu berjalan menuju mobil Tamar.
Akh, aku lupa bawa ponsel gara-gara buru-buru.
Sesal batin Ayu.
"Yu? Kamu pulang naik apa? Sudah naik di sini saja." Ucap Mitha menurunkan jendela mobil.
Ayu melihat di kursi tengah sudah ada Nazeera dan juga Mitha. Berarti kalau dia naik berarti dia duduk di depan, pikirnya.
"Kalau ngak mau naik bilang, adikku lagi sakit." Ketus Tamar tanpa menatap Ayu.
Kesal batin Ayu atas sikap Tamar.
Dia naik ke mobil dan menutup pelan pintunya karena takut membangun kan Nazeera yang sudah terlelap. Mungkin dia lelah karena menangis dan sakit.
Tamar sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ada sedikit kekecewaan rasa cemburu di hati Mitha saat melihat Ayu dan Tamar. Dia sudah tahu jika dulu mereka berpacaran, hingga kandas ditengah jalan.
Saat tiba di tempat tujuan, Tamar menurunkan Mitha lebih dulu. Dia dengan sabar mengurus Mitha karena itu adalah sebagai ucapan terimakasih nya pada Mitha. Namun beda halnya dengan Mitha, dia menganggap bahwa perhatian Tamar karena ada sesuatu.
"Kamu minta tolong saja sama Ayu buat membantu kamu ke dalam." Ucap Tamar dingin dan tanpa senyum saat selesai mendudukkan Mitha di kursi rodanya.
Ayu sadar diri akan ucapan Tamar. Mitha sendiri bingung, mengapa Tamar tak langsung berbicara kepada Ayu saja. Padahal Ayu juga ada di dekatnya.
***
Nazeera sudah kembali dirawat. Kesehatannya semakin menurun. Tamar melihat dengan rasa iba.
Bagaimana nanti reaksinya, jika tahu kalau bunda sedang sakit.
Tamar berpikir tentang kedepannya.
"Tha..." Panggil Tamar.
Mitha menoleh, hah, apa aku ngak salah? Dia memanggil namaku lain dari pada yang lain.
"Tha?" Panggil Tamar sekali lagi. "Apakah kamu masih ingin di sini? Sebaiknya saya antar kamu pulang."
"Saya di sini saja. Saya sudah izin sama bang Miko." Balas Mitha menatap Tamar tanpa berkedip.
__ADS_1
"Ekhem." Suara dehem dari Ayu.
"Tanyain ke teman mu Tha buat suruh pulang sendiri." Ucap Tamar mengerti akan maksud dehem Ayu.
Mitha masih bingung, dia tak banyak bicara hingga Tamar keluar dari sana.
"Hehe, aku ngak apa-apa, aku juga ingin menemani Nazeera di sini juga." Ucapnya pura-pura bahagia.
Tamar berjalan ke suatu tempat.
"Dok. Saya ingin bertemu dengan orang yang menangani jenazah atas nama Jaya."
Dokter itu langsung mempertemukan para perawat yang menangani Jaya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Perawat itu.
"Apakah ada sesuatu yang ada di dalam baju atau yang melekat pada tubuh jenazah tadi?" Ucap Tamar langsung ke intinya.
Mereka yang ada di sana mengernyitkan dahinya.
"Seperti cincin atau kalung atau hal lainnya." Jelas Tamar saat melihat mereka kebingungan.
"Owhh... Iya kami tidak menemukan cincin, tapi kami menemukan sebuah kalung dan kami sudah serahkan sama polisi tadi." Ucap salah satu diantara mereka.
"Emang tidak ada cincin? Seperti cincin pernikahan begitu." Tamar tak percaya, karena menurutnya cincin itu ada. Bukankah mereka baru saja melangsungkan pernikahan?! Tidak mungkin juga Jaya melepaskan cincin pernikahannya. Dia sudah lama menantikan pernikahan ini.
"Yasudah terimakasih." Ucap Tamar.
(Komen tanggapan kalian ttg bab iniππ€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£ susah amat komen n like tembus beratus-ratus,, pdhal pembaca banyak
π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£)
Bersambung...
.
.
.
Bismillah...
cmn mau berpesan aja,, Jan lupa dukungannya berupa Like Vote And Komen.
Dukungan kalian sangat berarti bagi otor.
Semakin hari yg baca makin bertambah, tapi like nya buat semngat otot down, gimana dengan komen? Malas bangetπ«
kasian para pembaca yang lain kalo ngk up. mereka yg jadi korban.
padahal semngaaat ku berkurang dari mereka yang udh baca namun jejak like komen aja ngk ada apalagi voteπ£
ini cmn gratis buat kalian baca saat bersantai, ayolah like nya mana buat semngatin otor. beda ma app yg lain kek *******, dkk. itu byr pke koinππππ
huwaaaaAAAAAAAAAAAAAAA π£π£
berasa mau pindah lapakππ
πππ
maaf dtg lambat, jika ada typo mohon di maafkan. atau dikrisan juga boleh (kritik dan saran).
__ADS_1
TERIMAKASIH ππ€
SELAMAT MENANTI...!!!