Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Menyusul Jaya


__ADS_3

"Permisi pak, apa benar ini alamat dari tuan Juventus?" Tanya Nazeera pada penjaga.


Satpam itu menerima selembar kertas untuk membaca alamat tersebut. Sesaat kemudian, dia memanggil temannya, "Ke sini dulu atuh, ada yang nanya nih alamat."


Orang yang dipanggil ikut bergabung. "Enek opo nduk?" Tanyanya. Dia juga sama, memakai pakaian sekuriti.


Nazeera bingung dengan penjaga yang pertama.


Jawabannya cuman bilang iya apa enggak, apa susahnya sih. Padahal sudah panah gini, jemuran.


"Dia ngei alamat, neng aku gak weroh, tulisane piye aku gak ngerti, maklum gak enek nek sklhankh." Potong sekuriti pertama. Dia memberikan seracik kertas ke sekuriti kedua.


(Dia ngasih alamat, tapi enggak tau baca tulisannya. Enggak paham. Maklum enggak ada sekolah aku)


Nazeera merapatkan alisnya.


"YaaAllahhhhh bapak e... Enggak tau baca, tapi kan saya juga sudah ngomong kan tadi."


Geram Nazeera. Pagi-pagi masih saja berdebat masalah alamat. Panas pula.


Sebenarnya, Nazeera hanya merasa was-was saja saat bertemu dengan suaminya. Dia tak sabar untuk menanti reaksi dari Jaya. Ditambah lagi dengan kasus sekuriti dan panas, membuat emosinya tidak stabil.


Sekuriti kedua jadi bingung. Dia menggaruk kepalanya, "Maaf neng, dia emang gak ada sekolahnya, maklum, orang miskin makanya enggak punya sekolah atuh neng. Beda atuh sama tuan, dia punya sekolah. Dan..."


Nazeera menepuk alisnya. Jika benar ini kediaman dari tuan Juventus mengapa mempekerjakan orang seperti mereka.


"Allahuakbar." Nazeera menarik nafas kemudian membuangnya pelan. Berusaha menetralkan rasa yang dia rasakan.


Sekuriti pertama dan kedua juga ikut bingung melihat Nazeera.


"Kumaha atuh neng," Tanyanya melihat Nazeera.


Wanita itu memberikan senyum terbaiknya. Berusaha menahan emosi dikarenakan efek gerah dan panas.


Nazeera menarik seracik kertas di tangan sekuriti ke dua. "Maaf pak, apa ini rumah tuan Juventus?"


"Iya betul, neng?" Spontan sekuriti pertama menjawab.


Nazeera dibuat menggeleng, bukannya tadi dia bertanya seperti itu.


Waddaww

__ADS_1


Jerit hati Nazeera.


"Kenapa kagak bilang neng sedari tadi kalau alamatnya yang itu, saya kan enggak bisa ba_"


Nazeera merapatkan giginya. Seumur-umur, mungkin ini pertama kalinya panas-panasan menjadi kesal. Kemarin-kemarin, Nazeera enjoy saja dibawah terik matahari.


""Apa su_, ehh maksud saya tuan Juventus dan emmm." Nazeera berpikir. "emm, tuan Aldebaran nya ada?"


"Maaf neng, tuan lagi keluar."


Closhhh


Hati Nazeera langsung dawn. Sia-sia donk usahanya datang sepagi ini.


"Kemana yah, pak?"


"Dia ke negara X. Entahlah neng, sepertinya tuan sakitnya semakin parah. Dia dirawat di sana."


jduaaarrr


"Sepertinya tuan Ju_" Kalimat Sekuriti kedua terhenti disaat Nazeera pergi.


Belum selesai dia mendengarkan kalimat sang sekuriti, tanpa pamit dan aba-aba, Nazeera meninggalkan tempat tersebut.


"Jay... Kamu kenapa?"


Hati Nazeera semakin kesal. Khawatir akan kondisi sang Suami.


Brum


Dengan kecepatan tinggi, dia melintasi jalan. Banyak yang membunyikan klakson karena Nazeera membawa mobil dengan gebut.


dua jam perjalanan, Nazeera pergi ke bandara. Saat tiba di sana, pikirannya melayang entah kemana. Baru sesaat dia bahagia, akan kah berakhir lagi dengan kesedihan?


"Nona?" Panggil suara laki-laki.


Nazeera menoleh. "Ikutlah bersamaku, nona. Tuan Tamar memerintahkan saya untuk mengantar anda ke negara X dengan menggunakan jet pribadi yang tuan Tamar sudah pesan."


Nazeera mengangguk, akhirnya dia tidak akan menunggu antrian yang lama. Dedi adalah penolongnya kali ini.


Saat tiba di dalam pesawat, Nazeera menjadi gelisah. Dia berulang kali menghadap kanan, menghadap kiri.

__ADS_1


Dedi melihat dari jauh, tak berani mengganggu sang nonanya. Takut bila Tamar tau, dia pasti akan mendapat pukulan lagi. Dedi jadi ngeri sendiri.


Jam demi jam berlalu di negara X. Mereka telah tib di sana. Dedi memakai kacamata hitamnya. Menyambut sang nona turun.


"Nona, apa anda baik-baik saja?"


Nazeera tak menjawab. Dia hanya fokus pada jalan.


Tuh kan. satu kosong.


Merasa diacuhkan, Dedi kembali berkata. "Mobil sudah ada di sana nona." Tunjuk Dedi ke arah parkiran.


Mata Nazeera ikut. Dia ingin melewati hari-hari bersama suaminya dalam ikatan pernikahan. Pacaran setelah halal. Pikirannya benar-benar kacau saat tau jika Jaya di rawat di rumah sakit. Padahal kan sekuriti itu mengatakan tuan Ju, artinya bukan Jaya kan atau Aldebaran. Haffuuuhhh Nazeera. Makanya dengerin dulu yang dikatakan oleh sekuriti sampai selesai. Jadi kacau sendiri kan pikirannya.


Prak


Pintu ditutup. Jika tak ada Dedi, mungkin saja Nazeera belum tiba di sini.


Tubuh Nazeera lelah, ingin istirahat. Tapi entah mengapa matanya sangat enggang untuk tertutup.


"Kita akan ke rumah sakit nona." Pancing Dedi agar Nazeera bercerita. Tentang sesuatu apa saja. Dia tidak ingin melihat nonanya seperti ini. Dedi lebih menyukai jika Nazeera memaki dirinya daripada melihat istri dari sang tuan terlihat sedih.


Deg


Ada apa dengan diri ku?


Dedi memegang dadanya. Tiba-tiba jantung nya berdebar.


Astaga. Enggak. Enggak mungkin aku jatuh cinta sama nona Nazeera.


Bersambung ...


Terimakasih buat kalian yg sll mensupport green. mulai dri awal nulis nopel ini, hingga sampai saat ini. tanpa dukungan kalian, green gak akan nulis. Krn jujur, green kesal sama Pihak. Ditambah dengan pembaca yang goib kesalnya makin bertambah.


mungkin jika tak memikirkan Klian, green akan berhenti tanpa menamatkan cerita ini. Tapi, karena kalian udh setia untuk like and komen, aku sempetin up.


lop u dah.


mg Allah mudahkan urusan kalian. aamiin....


jangan lupa Like komen and vote yah. Green harap kalian hargai karya green ini dengan cara diatasπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2