Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
MiThamar


__ADS_3

"Hem, gue baik-baik aja kakak ipar. Ada apa?"


"Gue masih rindu sama loe, kapan loe ke sini?"


"Nanti, ngak tau kapan."


"Gue yakin loe pasti ada masalah kan?"


"Sok tau, kamu."


"Ke mansion donk. Abang mu lagi keluar. Ngak tau kemana." Tawar Mitha. Dia berpikir, mungkin Tamar dan Nazeera selisih paham hingga pulang di tempat yang berbeda.


"Udah malam. Bumil di larang begadang."


"Yaelah, dilarang begadang tapi Abang loe di begadangin tiap malam." Mitha hanya asal ucap saja. Asal Nazeera mau di bujuk.


"Hahaha..." Nazeera tertawa lepas. "Ternyata Abang gue nafsuh juga yah."


Mendengar ocehan Nazeera dari seberang telepon, Mitha mengetuk kepalanya sendiri.


Tuh kan. Salah ngomong. Kebiasaan sih ceplas ceplos. Padahal, begadang iya. Tapi cuman sekedar ngak bisa tidur karena aku masih belum terbiasa dengan....


"Yuhuiii..."


Kesadaran Mitha kembali saat Nazeera setengah berteriak. "Kenapa kamunya yang diam?"


"Emm... Ngak... Ngak ada apa-apa kok."


"Kalau ngak ada apa-apa, ngapain telepon aku?"


"Gue cuman rindu. Mungkin permintaan dedenya." Mitha spontan lesuh, mengusap perutnya yang masih rata.


Spontan Nazeera langsung bangun dari tidurnya.


"Yasudah, gue ke sana sekarang. Jangan sampai ponakan gue kenapa-kenapa hanya gara-gara ingin lihat aunty cantiknya ini."

__ADS_1


Jiwa narsis Narsis Nazeera keluar begitu saja.


"Hem..." Jawab Mitha.


Nazeera langsung mematikan panggilannya.


***


Disaat sedang bersiap-siap, Nazeera mengingat bagaimana keadaan Ayu? Apakah dia harus kembali ke hutan lagi? Bukankah ini sudah malam?


"Onni... Zee, keluar dulu yah. Selamat beristirahat." Nazeera mengucapkan itu sambil berjalan. Tak ada sapaan manja atau yang lainnya lagi. Onni hanya berpikir jika nonanya itu sedang banyak masalah, apalagi sekarang dia menjabat sebagai janda milyader.


"Iya, Non. Hati-hati." Panggilan dari Onni pun kini terasa kaku. Biasanya dia hanya memanggil anak, namun sekarang menjadi nona.


Kuharap nona Nazeera baik-baik saja.


Doa Onni.


Di dalam mobil, Nazeera masih bingung. Haruskah dia kembali menghubungi Tamar?


Brum Brum Brum


Seorang satpam sudah mengetahui jika sang pemilik rumah ingin pergi. Hingga, tanpa diminta pun akan membukakan gerbang.


"Sebaiknya aku tanya Mitha saja." Lama berpikir, harus kepada siapa dia meminta pendapat? "Tapi kan Mitha lagi hamil. Ibu hamil ngak boleh stres. Masa iya aku tanya Dedi."


"Ahhh... Abang aja akh." Nazeera mengambil ponselnya sambil mengemudi mobil. Dia langsung menelpon Tamar ketika mendapatkan nomor kontaknya.


"Ada apa?"


"Sibuk ngak, bang?"


"Ngak, kenapa?"


"Kenapa belum pulang?"

__ADS_1


Tamar mengernyitkan alisnya, "Pulang kemana?"


"Ihhh, Abang, ditanya jawab. Ngapa tanya balik?" Nazeera berubah jadi kesal.


"Ya aku nanya sama kamu, aku mau pulang ke mana?" Jawab Tamar tak kalah sewotnya dari sang adik.


"Ke pintu neraka!" Umpatnya kesal. "Ya ke mansion lah."


Ingin rasanya Tamar mengetuk kepala sang adik karena telah berani padanya.


"Dari tadi setelah ngantar kamu, aku langsung pulang dodol!"


"Iiihhh, Abang durhaka, udah di tungguin ma malaikat Malik Sono." Nazeera tak kalah keras dari Tamar.


"Pintu surga masih kekurangan pria, di sana masih menerima kek aku." Tamar menimpali umpatan adiknya.


Nazeera semakin dengkul. "Kata kakak ipar, Abang belum pulang."


Deg


Buru-buru Tamar kehilangan jaringan.


"Halo.... Halo.... Zee... Aku ngak bisa dengar suara kamu nih."


Tamar langsung mematikan panggilannya, dia takut jika Nazeera mengetahui nasib rumah tangganya dan mengadukan hal itu pada kedua orangtuanya.


"Benar-benar ni yah, MiThamar! Awas aja. Yang bohong siapa yang benar siapa!" Nazeera memegang stir mobil sedikit keras.


Bersambung...


Selamat menunggu seperti biasa... Aku nulis di saat mood aja, mulai saat ini.


ig: greenteach21


maaf jika ada kesalahan dalam mengetik.

__ADS_1


bagi yang belum memberikan bintangnya, mohon untuk diapresiasikan kepada penulis πŸ™πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­ nulis juga capek... capek dengkul😭


__ADS_2