
Suasana panas dan lengket makin pengap di kamar besar ini.Setelah menyantap makan siang, kakek dan nenek memilih untuk tidur dari pada pergi ke mana mana. Mereka semua cukup lelah tapi semakin lelah akibat kapal yang bergelombang akibat ayunan air laut. Kepala mulai pusing dan perut pun sudah lama mual.
Saat ini tidak ada satupun orang yang tidak memikirkan tanah dan pasir pantai yang indah. Hati bertanya tanya, kapan perjalanan ini selesai,Kapan kaki ini bisa menyentuh tanah kering.Tapi ini masih pertanyaan yang berputar putar di tempat nyatanya perjalanan masih sangat panjang.
"Hu.. hu.. hu.., ibu ibu huwa aaaaa..... ibuu" suara berisik dari bocah tiga tahunan yang baru terbangun dari tidur nya. Begitu matanya berbuka dia terus saja menangis karena merasa tidak nyaman dengan perutnya.
Sun Lie bergegas menarik bocah bocah itu ke dalam pelukan nya dan menepuk-nepuk punggungnya agar lebih nyaman.
"Cup.. cup.. cup..., diam ya dik, ooh sayang nya kakak haus ya, hemm" bujuknya pelan. Sesekali dia mencium pipi si bocah dengan sayang.
"Ibuu.. Yaya mau ibu.. huwaaaa. ibu... ibuuuu huwa" diam malah menjerit dengan keras sekali. Akibat nya Empat bocah yang lain tidak nyaman dan terbangun tiba-tiba.
"Yaya anak baik ya, jangan menangis, cup.. cup.. cup... sayang nya kakak" sementara Sun lie sibuk membujuk bocah kecil yang sekarang bernama Sun Gaya ini, Satu bocah lagi membuat pusing dengan teriakan nya yang tidak kalah kuat.
Sun Dani segera menanganinya dengan lembut agar bocah itu bisa diam. Ini perlu banyak usaha dan penuh kesabaran penuh. Mereka sendiri sebenarnya masih anak anak tapi harus bisa menanggung beban sedemikian rupa.
"Nenek tolong Tian'er dulu ya, dia belum minum susu dari pagi tadi, aku pikir perutnya pasti sakit" Nenek sun yang mengemong Sun Huang yang juga menangis segera akur meletakkan Tian tian di kasur.Untuk bergegas mencari botol susu yang telah di sediakan Lanlan sebelum nya.
Merasa marah dan kesal karena di tinggalkan tiba tiba, Huang menangis dan menjerit dengan keras.Kamar besar itu berisik seperti biasanya. Agak sulit memang mengurus seorang bayi kecil apalagi ini ada empat bocah yang malang sekaligus. Mereka jelas kewalahan.
Mendengar tangisan para bocah, kakek Sun segera masuk dengan berlari dan segera mengambil dua bocah sekaligus.Sun Huang dan Sun Zetian sudah lebih dari empat tahun jadi sudah bisa di akalin sedikit.Dia berputar putar berpikir sebentar sebelum pergi ke sisi lain kamar.
Kakek rupa nya membawa dua anak Sun Yat ini ke kolam bola untuk bermain main sebentar. Jangan pikir kakek Sun akan melemparkan dua bocah begitu saja di kolam yang penuh dengan ribuan bola plastik ini.
Alih alih diam, kakek Sun ikut masuk ke kolam untuk bermain bersama sama.Dia membuat beberapa suara unik untuk mengambil perhatian dua anak itu.
__ADS_1
Ckckckck... ckckckck... ckckckck...
Kukuruyuk.. kukuruyuk... kukuruyuk...
zkreeee.. kreee.... kreee...
Guk... guk.. guk... gukk....
Pancingan kakek bekerja, hasilnya dua bocah terdiam dengan hidung memerah akibat dari menangis.Mereka tertawa lucu dan pelan pelan mengikuti nada nada yang menurut mereka ini unik dan menyenangkan. Misi kakek berhasil...
"Huang'er ayo lompat, cepat ini menyenangkan"kata nya membujuk lagi. Lanlan meminta puluhan kasur dengan tinggi sepuluh cm sebagai pelapis kolam bola.Tidak merasa cukup maka lempar lagi satu lapisan lain agar empuk untuk anak-anak.Dengan adanya kasur ini mandi bola bisa di bilang nyaman dan aman. Tidak khawatir lecet dan terluka.
Bocah kecil itu di letakkan di papan luncur yang di adaptasi dari papan luncur du kolam renang.Ini cukup nyaman untuk meloncat bagi anak anaknya.
"Ohh tian tian mau ikutan? baik, ayo lompat" ucap Kakek Sun lagi. Dia berhasil dengan misinya membuat anak anaknya diam.
Tian tian membuat ancang ancang kecil di papan loncat. Tidak tinggi tapi baginya ini tinggi sekali. Bayangkan saja, tubuhnya bisa tenggelam sampai ke leher jika dia masuk ke kolam bola ini.
"Hemm ayo tian tian yang berani, ayo cepat" kali ini Sun Dani ikut datang dengan Satu bocah di gendongan nya. dia pikir bocah ini akan senang bermain bersama kakek dan saudara lainnya.
Untuk lebih asyik, dia ikut masuk ke kolam bola membawa sang bocah yang akan hilang di bola plastik jika di biarkan sendiri.
"Hu...seru...hahaha hahaha"katanya keras yang tentu saja memancing perhatian satu bocah lagi pada Sun Lie. Dia menarik lehernya dengan rakus nya kearah kolam bola. Dia tiba tiba ingin bermain bola plastik di kolam besar itu.
" Kakak tertua, main bola mau? "
__ADS_1
"Hemm Yaya mau main bola sama kakek ya? "Tanya Sun lie lembut.
"Hemm boleh? "
"Boleh saja sayang, ayuk kita masuk. Nanti nenek datang bawa susu untuk yaya, baik! "
"minum susu di kolam boleh? "tanya nya polos. Mata besarnya berkedip kedip lucu membuat orang ingin mencium pipi berdaging nya ini.
"Hemm karena yaya sudah baik, boleh boleh saja, ayokk kita masuk " tak lama dia juga terjun ke kolam bola. Mereka bermain main sejenak sebelum nenek Sun datang dengan satu katel penuh susu dari dapur. Dua botol susu khusus bayi di buat untuk anak lelaki Sun Qie.
"Ohh cucu cucu nenek, mari minum susu dulu baru main lagi" serunya senang. Anak-anak sudah diam di ajak. kakek sun untuk bermain bersama tapi permainan yang sama pasti membuat jenuh anak-anak. Sampai waktu nya trik ini tidak lagi berfungsi. Tapi ini bisa di pikir kan di kemudian hari, untuk sekarang biarkan anak anka bersenang senang dulu.
"Hore ..horeee ada susu manis, ayo minum ayo, yaya mau? "Tanya Sun Lie berpura-pura acuh.
"Mau...
Dengan cepat,Sun lie menjejalkan botol susu ke mulut manis adiknya ini. Sun Lie merasa kan urat syaraf nya sedikit rileks, akhirnya anak-anak ini bisa diam. Beruntung dia sudah makan tadi jika tidak maka dia terpaksa menunggu giliran anak anak kembali tidur dan waktu nya tidak tau kapan.
Begini lah keseharian anak-anak dari bukit lapin ini. Mereka merasa tidak nyaman seharian, makanan segera menipis bahkan air bersih sudah tidak banyak lagi. Sekarang empat bocah juga gerah dan tidak nyaman tapi mereka memilih menabung air minum alih alih di gunakan untuk mandi.
Hanya waktu yang menjawab segala nya, mereka hanya bisa bertahan sedikit lagi di lautan yang luas.Perjalanan masih jauh dari kata sampai. Benar benar masih sangat jauh...
Sementara kelompok ini berjuang untuk bertahan di lautan luas, ada sesuatu yang terjadi di kota bukit lapin. Satu dekrit tidak dua dekrit kaisar sampai di saat bersamaan. Dan ini buruk karena mereka tidak siap dengan satu dekrit terakhir...
.
__ADS_1