
Kemeriahan di sebuah perkebunan aneh yang tidak tau ada di mana.Suara anak anak yang bercanda dengan riang gembira terdengar begitu saja. Anak-anak memang selalu bahagia hanya dengan hal hao kecil begini.
Entah berapa lama, mereka bercanda dan tertawa tanpa memikirkan hal yang lainnya.Tapi semua berubah sunyi ketika seorang lelaki muda datang dengan pakaian kebesaran layaknya pakaian seorang raja. Dia datang perlahan lahan, tapi tetap saja aura yang di miliki nya membuat empat anak menangis ketakutan. Yaya bahkan sempat mengeluarkan sesuatu sehingga celana nya basah.
"Huwaaaa.....
" Huwaaaa....
"Huwaaaa.....
" Huwaaaa....
Tiba-tiba mereka berempat menangis serempak dan saling berpelukan erat. Baru setelah itu mereka sadar, kakak tertua dan semua orang dewasa tidak ada di sisi.
"Kakak tertua, huwaaaa... takut. huwaaaa...
" Kakek.. nenek...hiks.hiks..kalian di.. di mana! "
"Kakak.. kakak tolong ada penjahat, huwaaaa... "
Pria itu hanya melirik dan mengorek kupingnya yang terasa gatal. Anak-anak ini terlalu berisik. Huh. sudah resiko, siapa suruh berhati lembut..
Lama. kelamaan, empat anak kelelahan menangis, jadi mereka pada akhirnya diam meski masih tersedu sedu. Pria ni sebenarnya cukup sabar untuk menunggu anak anak diam
"Sudah menangisnya?"
"Heh? "
"Katakan kalau sudah selesai, baik. nanti kita bisa bicara banyak? "
"Hemm, pa.. paman siapa? "tanya Huang pura pura tegar. Dia sedikit takut, jangan jangan ini orang yang punya.
"Ahh kalian terlalu kecil, bisa mati berdiri jika cerita pada kalian, nggak bakalan ngerti!"keluh si paman memegang dahinya dengan cemas. Dia tidak berpikir anak anak akan merepotkan.
"Ohh.. paman o.. orang baik? "kali ini Yaya tidak lagi takut seperti sebelumnya.
"Tentu saja, aku baik tapi eh, begini.Di mana yang lain, kakak perempuan, kakak lelaki? "Berurusan dengan anak anak agak sulit jadi mari cari walinya saja.
"Ohoh ada juga nenek dan kakek, tapi.. mereka di mana..huwaaaa... pa. paman.tolong cari kan kakak ku huwaaaa.. " semua malah jadi ingat kalau. mereka terpisah dari orang dewasa.Jadi sedikit cemas tapi tidak juga,soalnya di sini banyak kesenangan. sedangkan di sana, air pun tidak punya.
" Kakek dan nenek juga,paman. di sini ada air,buah juga. nenek haus kakek juga. ya kan kakak Zen Zen? "
__ADS_1
"Hem,ya benar? "pria ini sudah tidak sabar jadi dia sedikit berjongkok dan berbicara dengan Huang. Bayi yang paling besar.
"Bisa saja, biar paman beri tau ya, pikirkan tentang tempat terakhir kalinya kau melihat kakak mu itu.Jika mau kesini lagi.Pegang tangan orang yang mau kau bawa lalu pikirkan tentang tempat ini. kemudian kau akan kembali ke sini. Gimana mudah kan?"jelas nya lagi.
"Begitu saja? "Huang agak bingung, maklum saja dia baru berusia empat tahun.
"Tentu saja benar, huh capek cerita dengan boneka panda ini"Keluh nya lagi. Terlalu capek, hadeeiii.
"Ohh tadi aku begitu juga. kakak bilang, bayangkan eeh tiba tiba aku di sini.Baik... hemmm. hemm!"Huang membuat postur konsentrasi yang rumit.Tapi dia masih di sana tanpa bergerak. Seperti nya fia tidak bisa fokus. itu karena madih ada sisa apel di mulut nya. Giginya masih menyerap manisnya apel.
"kenapa belum? "pria itu sudah kesal.
"Ohh sulit, hiks... hiks.. aku.. sku.. lupa.. huwaaaa.. "
"Ohh kau lupa, jadi kakak mu tidak bisa di sini, sayang sekali. Pasti kakak mu bisa mengambil persik yang paling besar untuk mu. tapi yahhh..
" Oh oh. oh. aku.. aku saja boleh kah?"Yaya tiba tiba menawarkan diri untuk melakukan misi demi apel. Dia masih mau makan lebih.
"Coba saja, bodoh, ohh bilang saja kata ajaibnya"keluar" selesai jadi nanti katakan saja" masuk " mengerti? "
"Baik lah, hrmmm, keluar"Yaya berteriak keras.
cling...
"Hore.. hore... hahaha kakak cepat ke sini ya.Ambil kan aku persik yang banyak"teriak Zen Zen
"Aku ..aku.. mau apel yang banyak, jangan di bagi,baik?"Tian tian juga tak kalah bersemangat, dia ingin satu pohon bersih untuk dirinya sendiri. Rakus.
Sun Huang di samping merasa tidak di hargai..
Sementara itu, yaya benar benar ada di tempat semula. Tempat di mana beberapa balok jatuh.Dia tidak takut tapi tersenyum penuh harapan. Dia melihat empat orang di satu sudut sedang menangis sedih. jadi dia berteriak
"Kakak perempuan, nenek kakek" suaranya begitu keras jadi empat orang di sudut segera menoleh ke arahnya. Mereka jelas terkejut dengan kehadiran Yaya yang tiba tiba.
Tapi Sunlie terburu buru berkati dan menarik Yaya ke dalam peluk kan nya.
"Hu.. hu.. hu.. Yaya. yaya, dari mana saja kamu dek, hu. hu.. hu"
"Oh sayang, cucu nenek, syukur lah yaya bauk baik saja.Nenek tadi khawatir sekali"nenek juga datang memeluk tubuh kecil nya.
Nenek sun terlihat kurus sekali dengan mata merah. tentu saja dia merasa lega tapi ini hanya satu anak tiga lagi masih hilang tanpa jejak. Harus di cari kemana lagi. Tapi Yaya berbicara aneh..
__ADS_1
"Kakak dani, ayoo ambilkan aku persik yang banyak, aku lapar, baik? "
"Yaya mau makan buah persik? "tanya Dani.
"Hemm tadi ,kakak Huang sudah ambil tapi cuman satu, aku.... aku masih mau buah persik lagi kak, ambilkan untuk ku ya, bagaimana? "katanya polos.
" Huang.. kakak Huang mu ada di mana? tentunya kakek bersemangat mendengar kata Huang, dia bahkan melupakan kata persik begitu saja.
"Ohh hehehe aku lupa lagi, ahh ayo pegang tangan ku, ayo cepat"
"Yaya sayang, ini..
" Aaaa kakak, cepat lah aku mau apel juga jadi cepat lah. Semua nya coba pegang tangan ku sebentar, baik "
"Ohh baiklah"
Semua menatap Yaya dengan tatapan iba, ada sesuatu pada otaknya.Mungkin terbentur balok jadi dia sedikit bingung. Untuk menyenangkan hari anak anak apa salahnya memegang tangan nya sebentar.
"Sudah di pegang kok"kata mereka serempak. Yaya masih melirik ke sana sini untuk memastikan semua orang telah memegang nya. Di rasa siap dia berteriak lagi.
"Baik, masuk"
Tiba tiba, pandangan semua orang berubah drastis. Mereka sampai di tempat dengan begitu banyak pohon buah. Yaya benar sekali, ada buah persik seperti yang dia bilang.
"Kakek... kita belum mati kan"kata Sunlie heran.
"Tidak, tadi kakek masih hidup tidak tau kalau sekarang"Kakek tercekat ketika ada tiga suara lagi yang datang menghampiri.
"Kakak dani, ayo.. cepat lah, panjat itu untuk ku kak, kau sudah berjanji tadi"
Tak lama tiga anak yang lainnya segera menyerbu dengan senyuman.Mereka menarik Sun Dani dan memaksanya untuk memanjat pohon. Sun Dani yang masih bengong di tarik olehnya ke empat anak hingga dia terseret seret.
"Ayo.. kakak, aku... aku duluan. ahhh kakak "
"Tidak, aku duluan.. aku yang paling banyak, baik? "
Dani telah pergi ke satu pohon dan aktiv memanjat membuat anak anak itu berisik lagi.
Kakek dan nenek juga Sunlie duduk melihat kegiatan mereka dengan tatapan tidak percaya. Seseorang datang mendekat jadi mereka bertiga segera bangun dan memberi hormat dengan pemikiran tanah ini milik lelaki tersebut. Rasa bersalah muncul begitu saja. Tapi nenek memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan.. tempat apa ini? "
__ADS_1
"Ini... ini ruang angkasa....