
Kondisi kamar di kapal terlihat menyedihkan sekali, balok balok di atas kepala mulai roboh.Lie 'er tak bisa menahan tangis.Satu adik, tidak empat adik adiknya tiba tiba raib tak tau kemana. Di bawah balok, hanay ada Dani yang pingsan.
"Nenek.. adik.. adiku. hik.. di. mana? "
Nenek Sin dan kakek Sun juga kebingungan.Mereka jelas tadi ada di sini tapi tiba tiba saja hilang dalam sekejap.Mungkin ada yang salah dengan mata tua ini. Ayo gali lagi.
"Cari Lie'er, jangan menangis. Angkat baliknya adik mu ada di bawahnya. kemana lagi mereka bisa pergi" kata nenek Sun yang sudah terengah engah, tubuh tua nya sudah begitu menghawatirkan. Tapi dia begitu takut terjadi sesuatu dengan mereka. Ini bukan waktu nya bersedih.
Kakek membebaskan Sun dani dari balok yang menimpanya. Dia segera di pindah kan ke sisi lain.Setelah itu dengan kekuatan yang tersisa. mereka bertiga sibuk menggali balok. Karena kekuatan yang tidak memadai, pekerjaan mereka terlalu lamban. Mereka tidak sadar, ombak dan angin kencang sudah berlalu. Kapal sudah berhenti bergoyang.
Meski begitu empat anak tidak di temukan. Kamar ini tidak begitu besar sampai empat anak bisa hilang tanpa jejak. Hanya saja, kemana sebenarnya mereka pergi.
"Huang.. tian, tian.. hiks.. nenek, adik adikku, huwa"
Sementara Sun Lie sibuk menangis....
Di suatu tempat, bayi berusia empat tahun Sun Huang sedang berenang di sebuah kolam.Dia sendiri tidak mengerti ada apa, tapi dia terlalu kecil untuk mengerti.
Tadinya dia haus dan terluka. Kakak bilang, lihatlah ada pepohonan dengan banyak tangkai buah.Kakak tertua tidak berbohong dia benar benar melihat itu.. Kakak tertua begitu baik. dia tidak akan berbohong pada nya. Dia masih ingat tadi barusan kakak bilang ada pohon dan dia melihat nya.
Sekarang memang ada Pohon pohon besar dengan buah merah yang besar.Dia ingin makan tapi dia terlalu haus tapi kakak tertua bilang..
"Lihat lagi ada rumah kecil dengan kamar khusus untuk mu"
Memang ada sebuah rumah bertingkat. Ini nyaman sekali.Dia senang melihat rumah. Sangat bosan duduk di kapal seharian. Tapi..
"Apa ada kamar untuk nenek dan kakek?"tanya Huang
"Hemm.. tentu saja ada,semua orang memiliki nya kan"ohh rumah milik kami. tapi...
"Kakak, aku haus, ingin minum! " daripada lapar Huang lebih membutuhkan air.
" Hemm coba lihat lagi, dik.Ada kolam besar dengan air yang manis untuk kau minum"
__ADS_1
"Bisakah aku pergi? "
"Tentu saja, ayoo pergi minum.baik? "tentu saja huang kecil senang dengan izin kakaknya.
"Baik"begitu dia menjawab di langsung berlari ke kolam. Dia masih begitu muda, jadi dia tidak tau jika dia benar benar 'pergi'.
Hanya n keinginan untuk minum, jadi dia datang ke kolam yang jernih. Menyedok sesuap air dengan jari jari kecil dan menyesap nya. hemm manis..
Huang rakus, dia mengambil sesuap lagi tapi tiba tiba saka fia jatuh tercebur ke kolam.
"Tolong.. kakak tolong huwaaaa.. "
Lama Huang menangis tapi tidak ada jawaban sama sekali.Capek menjerit pada akhir nya Huang terdiam di kolam dan..
"Hei.. aku tidak tenggelam, hahaha aku sebenarnya pandai berenang hahaha"
Huang sangat senang berenang ke sana kemari dan minum air kolam yang enak dan manis. Dia tidak tau berapa lama dia berenang sampai...
"Oh yaya, ayo masih hahaha. ini enak berenang ayo" kata Huang senang.Itu adik kecil nya Sun Gaya.l, sekarang dia panggil yaya.
"Tapi.. kakak tertua bilang.. jangan main air kan? " kepala kecil nya di miringkan sedikit. Kakak tertua selalu marah jika dia ingin melihat laut. Dia tidak mau di marahi kakak tertua lagi.
"Kakak tertua bilang, boleh kok. Ayo lah hihihi ini menyenangkan sekali hahaha"
"Benarkah?"
"Tentu, aku tidak bohong"
"Baik" Yaya langsung terjun tanpa takut. bukan kah kakak tertua mengizinkan mereka untuk main di kolam. jadi itu akan baik baik saja.
Begitu Yaya masuk ke air dia tiba tiba tidak tenggelam sama sekali. Sebelum nya dia takut akan tenggelam tapi tidak terjadi. Sia dia dia khawatir. huh.
"Hihihi.. yoo enak hahaha....
__ADS_1
" Huh.. kakak Huang, Yaya. kenapa main main tidak mengajak kami" seru Zen zen. Sun Zentian sekarang datang dengan Sun batian yang kerap di panggil tian tian. Mereka tiba tiba saja ada di tempat yang paling indah ini, sempat bisa bingung tapi mereka mendengar suara gelak tawa darin kejauhan jadi mereka oergi ke tempat suara berasal dan hasilnya.
Mereka melihat dua bayi lagi sedang bersenang-senang di kolam yang jernih. Jadi mereka merasa di tinggalkan sekarang.
"Hohoho yaya, lihat lah"
"Hai kakak ZenZen, ayo berenang hahaha, ini asyik sekali" kata Yaya seraya melambaikan tangan.
Dia bayi itu segera melupakan permusuhan, langsung berlarian dan terjun bebas hasil nya mereka tertawa bersama sama dalam waktu lama. Harus di ingat empat bayi ini sudah lama tidak mandi.
Mereka tidak sadar kalau mereka berada di tempat yang ajaib.Mereka masih anak anka yang hanya tau bersenang senang dan bermain main. Lelah main di kolam, sesaat kemudian mereka mencoba memanjat pohon apel.
Huang selalu kakak tertua, tentu saja dia akan bertanggung jawab dan mengambil tugas untuk memanjat. Mereka selain haus juga lapar.Apalagi bermain air juga membuat perut mereka semakin lapar saja.
"Ayo kakak, ayoo, di sana, ya..yaa..di sana yang besar itu, hahah yang besar itu"teriak Zen Zen keras. Di pikiran nya yang terbesar yang paling enak dan manis
"Yaya mau yang di sana, dua ya kak"
"Tian tian mau tiga, tiga kakak, ayo lempar kan"
"Satu lagi kakak, ayo lagi'
Mereka begitu berisik sekali,makan dan menggigit apel beberapa kali tapi belum puas. mereka minta Huang melemparkan satu lagi. Huang masih di atas dan dia lebih memilih untuk menggigit apel nya dari atas pohonnya langsung.
"Ini enak sekali.. hemm ada buah persik.. pasti juga enak, adik adik ayo kita ke pohon itu"teriak nya keras. Dia ingin turun secepatnya untuk segera memanjat lagi ke pohon yang lain.
" Ohh benar, kakak cepat lah turun, masih ada buah persik besar di sana ayo panjat kakak "mereka antusiasme sekali melihat pohon yang di tunjuk oleh Huang.
Mereka tidak melihat itu tadi, setelah melihat tentu saja mereka mau merasakan nya. Beri semangat pada kakak Huang.
Mereka begitu bersemangat tanpa tau ada sepasang mata yang melihat kelakuan mereka dengan gerah. Dia terlihat tidak sabar. Dia tidak begitu menyukai anak anak...
Hanya saja dia masih punya hati nurani.. huh.. sial
__ADS_1