
"Memang situ siapa berani-beraninya melarang kami untuk pergi?" Balas Anggara dengan sewot.
"Saya pemilik gedung WO ini. Siapa saja yang sudah masuk kesini, harus menyelesaikan urusannya dulu dengan saya."
Mendengar hal itu Anggara dan Olive kembali saling beradu pandang, lalu terkekeh bersamaan.
"Hei, kamu mimpi ya? Mana mau kami menyewa jasa WO mu. Tempatnya saja, sudah seperti ini duluan. Bagaimana nanti hasilnya?" Untuk yang kedua kalinya, Anggara mencibir, sehingga membuat pemilik WO itu memasang raut wajah masam.
"Awas ya, kalian berdua. Aku sumpahin pernikahan kalian seperti ombak di lautan. Selalu terombang-ambing." Ucap wanita pemilik WO itu, sambil menggebrak mejanya. Sehingga membuat mereka yang ada di ruangan yang tak lebih dari enam kali enam meter itu berjingkat kaget. Termasuk Olive dan Anggara.
"Ayo kita pergi dari sini, mas." Olive menarik tangan calon suaminya yang masih bengong.
Keduanya segera mendorong pintu yang tiba-tiba terasa sulit untuk dibuka, dengan sekuat tenaga.
"Kenapa pintunya jadi sulit dibuka seperti ini?" Gumam keduanya.
Bugh...
Terdengar benturan keras antara tubuh mereka dan pintu, hingga keduanya hampir terjungkal jatuh. Setelah sekian menit berlalu, akhirnya keduanya bisa membuka pintu itu.
Mereka buru-buru berlari menuju mobil terparkir. Sesampainya di dalam kendaraan roda empat, keduanya menghirup nafas dalam-dalam.
"Mas, cepat hidupkan mesin mobilnya." Titah Olive sambil menyeka peluh yang membanjiri wajahnya.
Anggara juga menyeka wajahnya, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Tapi tiba-tiba mesin mobilnya sangat sulit untuk dihidupkan.
__ADS_1
"Ah! Kenapa jadi sulit untuk dihidupkan?" Gerutu Anggara sambil memukul kemudinya.
"Bahan bakarnya habis kali." Celetuk Olive.
"Tidak mungkin. Sebelum berangkat ke rumahmu, aku sudah mengisinya full tank."
Apalagi langit sore yang telah berubah menjadi gelap, membuat keduanya semakin panik. Karena mesin mobil tidak kunjung hidup.
"Oh, Tuhan. Aku janji tidak bakal macam-macam. Akan jadi laki-laki yang baik." Doa Anggara.
"Olive juga janji ya Tuhan, akan menjaga anak ini baik-baik, dan menjadi istri yang baik pula."
Setelah mengucapkan sekian banyak doa, akhirnya mesin mobil itu bisa dihidupkan. Keduanya menghirup nafas lega. Anggara segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran gedung WO yang semakin terlihat angker.
**
"Tentu saja tidak. Aku hanya merayu Tuhan, agar cepat di tolong." Anggara membalas dengan santai, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kemudinya.
"Eh, nanti kalau Tuhan marah sama kamu gimana? Sudah berani-berani membohongi Nya." Olive menatap serius ke wajah calon suaminya. Tapi yang ditatap justru malah cengar-cengir.
"Olive sayang. Sejak kapan kamu jadi percaya, Tuhan?"
"Sejak tadi."
"Tidak usah banyak memikirkan hal yang seperti itu. Kita nikmati hidup kita dengan santai, yang terpenting sudah terbebas dari tempat menyeramkan seperti tadi."
__ADS_1
"Betul juga sih, apa yang kamu katakan. Oh iya, bagaimana kalau kedua orang tuaku bertanya soal acara hari ini? Kita belum mendapatkan WO yang akan menangani pernikahan kita lho."
"Malam nanti coba kita cari dulu di media sosial. Habis itu, besok baru kita datangi tempatnya."
Olive manggut-manggut mendengar penjelasan Anggara. Setelah itu ia pamit turun dari mobil.
Jika biasanya keduanya akan saling cipika-cipiki sebelum turun dari mobil, sekarang hal itu tidak Anggara lakukan lagi. Karena sudah mulai bosan dengan Olive.
**
Di hari yang sama,
Sore itu, Tsamara mengajak anggota keluarganya untuk pergi ke sebuah stasiun televisi. Mereka ingin melihat penampilannya saat wawancara secara langsung. Setelah semua siap, mereka pun berangkat dengan mengendarai mobilnya bersama.
"Kak, kenapa kak Thoriq tidak diajak juga sih? Biar tambah seru." Celoteh Soffin.
Anak kecil itu memang sudah sangat dekat dengan Thoriq. Jadi kemanapun ia pergi, ingin selalu ada Thoriq disampingnya.
"Pekerjaan kak Thoriq, belum selesai." Jelas Tsamara, pada adik bungsunya yang kini tengah duduk di tengah-tengah, antara dirinya dan Farah.
Tsamara memang sudah memberitahu tentang jadwalnya untuk melakukan shooting di sebuah stasiun televisi, pada Thoriq.
Pria itu tidak keberatan dan justru mendukungnya, untuk lebih banyak melakukan kegiatan yang positif seperti itu. Agar banyak wanita-wanita yang selama ini berdiam diri dirumah, memiliki kesibukan yang bermanfaat.
Sebenarnya, calon suami Tsamara itu juga ingin sekali mendampinginya, saat acara live itu berlangsung. Tapi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, terpaksa harus menahan keinginannya itu.
__ADS_1
Tsamara pun juga tidak mempermasalahkannya. Karena pria itu memang benar-benar memiliki segudang kesibukan.
Getaran dari handphone Tsamara, begitu mengejutkannya. Ia merogoh benda pipih itu dari dalam tasnya. Lalu melihat notifikasi pesan dari Thoriq, yang mengambang di layar handphone. Dengan senyum merekah, gadis itu membuka dan mulai membaca isi pesan.