Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
89. Bingung


__ADS_3

Thoriq berusaha menenangkan hatinya yang sempat bergemuruh, setelah menyaksikan Tsamara melawan Anggara dan Olive tadi. Lalu kembali mendekati mamanya, yang tampak sibuk memilihkan kemeja batik untuknya.


"Thoriq, kamu darimana saja?"


"Cuma lihat baju dibagian situ kok, ma."


Pria itu sengaja berkilah didepan mamanya. Ia tidak ingin nama baik wanita yang mulai mengisi hatinya terlihat buruk dihadapan mamanya.


Setelah mendapatkan kemeja yang cocok untuknya, Thoriq dan mamanya segera membawanya ke kasir.


**


Sementara itu, setelah kepergian Tsamara, Olive tidak berminat lagi membeli baju yang baru saja diperebutkan bersama mantan gadis gendut itu.


Ia dan Anggara kembali berjalan-jalan, untuk memilih baju yang pas digunakan sebagai barang seserahan, dan juga baju yang dipakai saat hari pernikahan.


Setelah itu keduanya berkeliling supermarket untuk membeli perlengkapan lainnya.


**


Begitu juga dengan Tsamara, yang akhirnya menemukan keluarganya. Setelah tadi saat memilih-milih baju, sempat terpisah dengan mereka.


Gadis itu mencoba beberapa pakaian yang sudah dipilihkan oleh keluarganya, saat ia berkeliling tadi.


"Bagaimana pendapat kalian?" Tanyanya saat membuka pintu ruang ganti, dan memperlihatkan dress selutut berwarna marun.


Dress itu memiliki lengan pendek, belahan dada ke bawah, bagian bawahnya umbrella, dan bagian atasnya terlihat press body.

__ADS_1


"Anggun sekali kak." Farah pertama kali menilai penampilan kakaknya.


"Iya, kak Tsa tambah cantik sekali." Soffin berbinar melihat penampilan kakaknya sendiri. Hingga ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Perfect!" Pak Abas mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum.


"Kedua anak gadis papa, sama-sama cantik." Ucap pak Abas lagi dengan bijak, sambil merangkul bahu Farah. Ia tidak ingin membeda-bedakan kedua anaknya.


"Coba ganti baju yang lainnya, kak." Titah si kecil, Soffin.


"Okay, tunggu ya." Tsamara menutup pintunya kembali, lalu berganti pakaian yang lainnya.


Tak lama kemudian, Tsamara membuka pintunya.


Kali ini ia mengenakan dress berwarna mocha sebatas dada, dan panjang selutut. Keluarganya pun kembali takjub. Hingga seluruh baju yang ia coba, semuanya menambah nilai lebih pada gadis itu.


"Kenapa kalian mengatakan semua bajunya pas di aku. Membuatku bingung mau pakai baju yang mana, saat lamaran nanti malam." Keluh Tsamara dengan muka tertunduk.


"Betul apa kata, Farah. Sebaiknya semua baju yang kamu coba tadi, beli saja semua. Nanti dicoba lagi dirumah, pilih yang mana yang membuatmu paling puas."


"Setuju!" Soffin menjentikkan jarinya dan tersenyum sumringah.


"Sebanyak ini?" Ulang Tsamara sambil memperlihatkan tumpukan baju yang ia pegang.


"Iya." Keluarganya menjawab kompak sambil menganggukkan kepalanya. Yang membuat Tsamara menghela nafas dan geleng-geleng kepala.


Untuk yang kesekian kalinya, Thoriq melihat wanita yang akan dilamarnya itu, dari jarak aman. Berbeda dengan yang tadi, kali ini pria itu menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Sudah sejak lama, pria itu menyukai Tsamara. Karena kepribadiannya yang benar-benar baik, sifat keibuan yang melekat kuat, dan semangatnya yang tinggi untuk merubah keadaan. Dan kini, beberapa langkah lagi ia akan mendapatkannya.


"Thoriq, bagaimana sih kamu. Tadi kan ngikutin ibu, kenapa malah mematung di sini?" Ucapan Bu Husna begitu mengejutkan putra satu-satunya.


"Eh, iya ma. Maaf, ini Thoriq juga sedang pilih-pilih baju yang pas untuk mama." Thoriq berpura-pura memilih-milih baju yang ada dihadapannya.


"Memangnya cocok, mama pakai bikini ketika mau melamar Tsamara nanti?" Celetuk Bu Husna, karena baju yang di pegang oleh Thoriq adalah baju renang wanita.


Pria itu menepuk jidatnya sendiri, menyadari kekonyolan yang ia perbuat. Lalu meringis.


"Maaf, ma."


"Jangan lama-lama melihat Tsamara. Nanti kamu semakin oleng dibuatnya. Terus ingin mempercepat hari pernikahan, dari satu bulan menjadi satu hari. Repot urusannya nanti."


"Hah? Mama ada-ada saja."


"Hal itu umum terjadi. Dulu almarhum papamu juga begitu. Ya sudah, ayo ikut mama." Bu Husna melenggang pergi, dan anaknya mengekorinya.


**


Disela-sela menemani Olive belanja, Anggara memainkan ponselnya. Apalagi yang dilakukannya kalau bukan mengirim pesan pada Tsamara.


[Hai, Tsamara cantik. Maafkan atas sikap nenek lampir tadi ya. Sebenarnya aku juga tidak suka dengannya, tapi mau bagaimana lagi. Papaku terus memaksa kami menikah. Tapi, tenang saja. Aku tidak akan menyentuhnya. Karena tipe wanita pujaan ku bukan seperti dia, tapi seperti kamu. Jadi tolong kamu jangan salah paham ya. Kapan-kapan kita bisa kan keluar bersama?]


Setelah mengetik sederet rayuan pulau buaya, ia kembali fokus dengan Olive yang tengah memilih tas dari brand ternama.


"Sayang, bukan kah tempo hari kamu sudah membeli tas?" Ucap Anggara mengingatkan.

__ADS_1


"Tempo hari kan? Kalau sekarang belum kan?" Olive menoleh dan menatap Anggara dengan tajam. Sehingga membuat pria itu salah tingkah, sampai garuk-garuk kepala yang penuh dengan ketombe.


"Iya juga sih." Balas Anggara sekenanya.


__ADS_2