Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
154. Pertemuan dua keluarga


__ADS_3

"Oek... Oek..."


Setelah melewati proses panjang, dan begitu menguras tenaga, akhirnya suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang bersalin. Olive mampu melahirkan bayinya.


Anggara sangat bahagia begitu mendengar tangis bayinya. Senyum di wajahnya mengembang sempurna.


Thoriq dan Tsamara juga ikut berbahagia atas kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Anggara.


Sementara itu di dalam ruang bersalin. Meskipun dulu pernah benci dan ingin menggugurkan kandungannya, nyatanya kini Olive sangat bahagia dengan kelahiran bayinya.


Semua itu tak luput dari kekuatan mereka untuk menyingkirkan ego masing-masing. Sehingga kebencian yang dulu tertanam di hati masing-masing perlahan memudar dan sirna.


Di tengah kebahagiaan yang menyelimuti mereka, dokter keluar dari ruang bersalin. Anggara pun segera mendekatinya.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"


"Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Kami akan membawanya ke ruang perawatan." Anggara mengusap wajah dengan perasaan yang lega.


"Terima kasih, dokter."


Tak berselang lama, beberapa perawat mendorong Olive dan bayinya keluar dari ruang bersalin, menuju ke ruang perawatan. Anggara, Thoriq dan Tsamara mengikutinya dari belakang.


**


Kini mereka sudah berada di ruang perawatan. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu berada di dekapan ibunya. Semua mata memandang ke arahnya.


"Terima kasih, sudah membantu kami." Ucap Anggara sekali lagi, pada pasangan Tsamara dan Thoriq.


"Seperti apa yang aku bilang tadi, tidak perlu mengucapkan terima kasih." Tegas Thoriq.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Karena kami mau bertemu dengan dokter untuk melakukan medical check up."


"Iya, semoga bayi kalian sehat dan bisa lahir dengan selamat." Balas Anggara.


"Cepat sembuh ya." Tsamara mendoakan Olive dengan tulus diiringi senyuman.


"Terima kasih. Semoga kamu bisa melahirkan dengan selamat nanti " balas Olive.


Setelah saling berjabat tangan, Thoriq dan Tsamara keluar dari ruang perawatan itu.


"Liv, terima kasih ya, sudah mau mengandung dan berjuang untuk melahirkan bayi kita."


"Hem, aku juga mengucapkan terima kasih padamu. Karena tidak meninggalkan ku di saat aku hamil sebelum kita menikah."


Anggara mengusap pucuk kepala Olive dengan lembut sambil menyunggingkan senyum. Lalu melakukan hal yang sama pada bayinya.


Di tengah keheningan, handphone Anggara terdengar berdering. Ia pun merogoh benda pipih itu dari dalam saku celananya.


"Mama?" Gumamnya, ketika melihat nama yang tertera di layar handphonenya.


"Hallo, ma."


"Kamu di mana? Kok rumahnya tertutup?" Tanya mama, dari seberang sana.


"Olive... Melahirkan, ma."

__ADS_1


"Melahirkan? Kenapa kamu tidak kasih tahu, mama?"


"Maaf, ma. Ini juga baru saja yang melahirkan, terus di pindah ke ruang perawatan."


"Di rumah sakit, mana? Mama mau menyusul."


"Rumah sakit Citra Medika."


"Okay, mama akan segera menyusul kesana."


**


Setelah beberapa menit kemudian, mamanya Anggara datang. Ia tertegun dan sejenak berdiri di ambang pintu, melihat keluarga kecil anaknya yang kini sudah lengkap dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka.


"Anggara, Olive." Mama mendekati mereka, lalu saling bersalaman.


"Ini cucuku?"


Mama sejenak menatap pada bayi mungil yang ada di dalam box. Lalu ia mengangkat bayi itu pelan dan menggendongnya.


"Kalian jangan tinggal di kontrakan lagi. Pindah saja ke rumah mama. Biar ada yang membantu mengurus bayi kalian."


"Tapi, ma..."


"Tidak ada tapi-tapian. Papa pasti akan mengerti keadaan kalian."


Anggara dan Olive tidak lagi membantah. Mama pun menyuruh keduanya untuk makan, dari bekal yang ia bawa. Karena ia yakin, pasti mereka belum sarapan pagi.


**


Sambil menggendong cucunya, diam-diam mama mengirimkan pesan pada suaminya. Dan setelah berselang sekian jam, pak Anwar pun datang ke rumah sakit menyusulnya.


"Kapan istrimu melahirkan?"


"Tadi pagi, pa."


Setelah sejenak menyapa, Pak Anwar mendekati cucunya yang ada di dalam box. Cukup lama ia memandang wajah kemerah-merahan milik sang bayi. Lalu mengambil fotonya dan mengirimkan pada besannya.


[Apa kau tidak tertarik, untuk menjenguk cucumu?] Sebuah pesan, menyertai foto itu.


Seperti halnya yang di alami oleh pak Anwar tadi, ketika ia menerima pesan dari istrinya. Pak Sanusi pun kaget ketika mendengar berita kelahiran cucunya.


Sudah lama sekali ia tidak pernah berjumpa dengan anaknya. Dan kini, justru ia mendapatkan kabar anaknya melahirkan dari besannya.


[Di mana dia sekarang] sebuah pesan balasan, yang dikirimkan oleh pak Sanusi pada pak Anwar.


[Citra Medika.]


Pak Sanusi pun meneruskan pesan itu pada istrinya, sebelum berangkat ke rumah sakit.


**


"Papa." Seru mamanya Olive, saat bertemu dengan suaminya yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


Papa menoleh dan melihat istrinya mempercepat langkahnya untuk menyejajarinya. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang perawatan Olive.

__ADS_1


"Olive, bagaimana keadaanmu sayang?" Mamanya Olive berdiri sejenak di ambang pintu, lalu menghambur ke arah anaknya yang sedang tidur di atas brankar.


Ia memeluk anaknya sambil terisak. Akhirnya anak manjanya kini sudah resmi menjadi seorang ibu. Olive pun juga terisak. Mereka semua terisak.


Setelah sejenak berpelukan, kini giliran pak Sanusi yang mendekat dan memeluk Olive.


"Maafkan papa, Olive. Sudah membuatmu hidup menderita."


"Olive tidak menderita, pa. Karena ini memang murni keinginan kami untuk berubah."


Setelah pertemuan yang mengharu biru antara anak dengan kedua orang tuanya, kini pandangan pak Sanusi dan istrinya beralih dalam box bayi. Mama mengambil bayi itu dan menggendongnya dengan hati-hati.


Anggara dan kedua orang tuanya terus memperhatikan besannya. Mereka memang masih menjaga gengsi masing-masing, sampai akhirnya mamanya Anggara buk suara.


"Setelah pulang dari rumah sakit, aku ingin membawa mereka pulang ke rumah ku. Karena aku tidak tega melihatnya mengurus anak seorang diri."


"Aku juga ingin membawa mereka pulang ke rumahku. Mana mungkin sebagai ibu, aku tega melihat anakku tinggal di rumah kontrakan yang kecil dan panas seperti itu" balas mamanya Olive, sambil menatap besannya.


"Jangan ribut, biarkan Olive sendiri yang memilih." Pak Sanusi menengahi.


"Aku?" Olive menunjuk batang hidungnya sendiri.


"Iya, kamu." Pak Sanusi membenarkan.


Olive menatap Anggara, seolah-olah minta persetujuan padanya.


"Kami ingin tinggal di rumah kontrakan saja. Meskipun kecil, rumah itu sangat memberi banyak pelajaran bagi kami. Dari sana kami belajar lebih dewasa, sabar, tekun berusaha dan banyak hal lainnya."


"Liv." Ucap kedua orang tuanya dan mertuanya bersamaan.


"Itu sudah keputusan, Olive."


"Baiklah, sayang. Mama akan ikut ke rumahmu, untuk membantu segala keperluanmu.


"Jika papa dan mama ingin kesana, silahkan. Pintu rumah kami terbuka lebar."


**


Sementara keluarga Olive tengah berkumpul di lantai atas untuk menikmati kebahagiaannya, dengan kehadiran bayi di tengah-tengahnya, Tsamara dan Thoriq berada di lantai bawah, sedang melihat layar monitor dengan didampingi seorang dokter. Karena mereka sedang melakukan USG.


"Syukurlah, keadaan bayinya sehat, aktif bergerak, air ketubannya juga bagus, berat badannya normal. Di trisemester akhir, disarankan untuk lebih banyak bergerak, demi memperlancar proses kelahiran nanti."


"Apakah benar dok, kalau kami boleh melakukan hubungan suami-istri saat hamil?" Lirih Thoriq.


"Kak." Tsamara menoleh pada suaminya yang tampak meringis melihatnya.


"Boleh, sangat boleh. Apalagi di trimester akhir, hal itu sangat dianjurkan. Agar membantu bayinya menemukan jalan lahirnya, dan semakin memperlancar proses persalinan. Sedangkan saat trimester awal, hal itu memang cukup riskan untuk dilakukan. Karena khawatir menyebabkan keguguran atau mengganggu Tumbu kembang sang bayi."


"Oh, baiklah, dok. Terima kasih."


Setelah selesai melakukan USG, tak dokter untuk memberikan resep vitamin yang harus di konsumsi oleh Tsamara.


Tsamara memang tidak pernah melewatkan untuk meminum vitamin dan susu hamil, serta penunjang lainnya, agar ia dan bayinya senantiasa sehat.


Setelah selesai medical check up, keduanya menemui Olive di ruang perawatan. Awalnya kedua orang tua Olive dan kedua orang tua Anggara terkejut dengan kehadiran keduanya.

__ADS_1


Tapi sapaan yang sopan dari keduanya membuat mereka mulai menerima kehadiran mereka. Apalagi ketika Anggara memberitahu soal ban mobilnya yang bocor, dan mereka lah yang menolongnya, membuat kedua orang tua Olive mengucapkan terima kasih pada Thoriq dan Tsamara.


Jika tanpa pertolongan keduanya, bisa jadi Olive dan bayinya kelamaan mendapatkan pertolongan, dan mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi padanya.


__ADS_2