
Keesokan harinya, Thoriq benar-benar menepati janjinya. Ia menjemput Tsamara dan Soffin di rumah kontrakannya.
Entah kenapa, mereka justru malah nyaman tinggal di rumah kontrakan yang hanya sepetak itu.
"Selamat pagi, om." Seperti biasanya, Thoriq akan menyapa orang lain dengan ramah.
"Nak Thoriq." Gumam pak Abas.
Ia cukup terkejut ketika melihat kehadiran calon menantunya itu di pagi hari.
Thoriq mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan dengan pria dihadapannya.
Pak Abas pun segera mengelap tangannya dengan kain yang ia bawa. Karena sedang membersihkan mobilnya, sebelum dipakai berangkat ke kantor.
"Ada apa ya, nak. Pagi-pagi kok sudah kesini?" Tanya pak Abas, setelah keduanya saling berjabat tangan.
"Memang kemarin Tsamara tidak bilang sama om? Kalau saya pagi ini mau mengantar Soffin sekolah, sekalian mengajak Tsamara mencari perlengkapan pernikahan."
Pak Abas menyunggingkan senyum tipis, setelah mendengar penjelasan calon menantunya.
"Mungkin mereka lupa. Ya sudah, ayo masuk dulu. Kita nikmati sarapan pagi bersama."
"Baik, om." Thoriq berjalan beriringan dengan calon mertuanya.
Walaupun sebenarnya ia sudah sarapan pagi di rumahnya, tidak ada salahnya menerima ajakan calon keluarganya untuk makan bersama.
"Tsamara, Soffin!" Seru papa, sambil memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Iya, pa." Balas Tsamara yang tengah menyiapkan sarapan pagi, di karpet depan televisi.
Ia tampak terkejut, ketika melihat papanya berjalan beriringan dengan Thoriq, masuk ke rumah. Seketika ia teringat, jika dirinya belum mengatakan ajakan Thoriq kemarin sore.
"Ayo, duduk disini."
Pak Abas mengajak Thoriq duduk bersila menghadap ke arah makanan yang sudah tersaji. Pria itupun mengikuti ajakan calon mertuanya. Dengan duduk disampingnya.
"Tsa, panggil adik-adik dulu ya." Pamit calon istri Thoriq sambil beranjak berdiri.
"Soffin, ayo lekas sarapan." Ucap Tsamara, sambil mengetuk pintu kamar adiknya. Setelah itu, ia beralih pada kamar Farah.
Tak lama kemudian, kedua adik Tsamara itu keluar kamar. Mereka bertiga ikut bergabung dengan papa dan Thoriq yang tengah menghadap menu sarapan sambil bercakap-cakap.
"Lhoh, kak Thoriq pagi-pagi sudah kesini saja sih?" Ucap Farah yang cukup terkejut, melihat kedatangan calon kakak iparnya itu.
"Semoga kak Thoriq tulus mencintai dan menyayangi kal Tsamara ya. Semoga kejadian yang dulu tidak terulang lagi. Ini akan menjadi pernikahan yang pertama sekaligus yang terakhir untuk kalian berdua."
Tsamara sangat tersentuh dengan harapan dan doa dari adik perempuannya. Keduanya memang selalu mencurahkan isi hati masing-masing.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Thoriq. Ia bisa melihat kerukunan dan keharmonisan, yang tercipta dalam rumah tangga calon istrinya.
"Kakak tidak bisa menjanjikan apa-apa pada kakakmu, Farah. Tapi kak Thoriq akan berusaha dengan sungguh-sungguh, untuk bisa membahagiakannya." Di akhir kalimat, Thoriq menatap Tsamara.
Gadis itu terlihat juga sedang menatapnya. Lalu menundukkan kepalanya, untuk menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.
"Beneran lho, kak. Farah akan ingat-ingat ucapan kakak ini." Ucap Farah, terlihat serius. Thoriq pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tsamara tidak tahu harus berkata apa. Pagi-pagi sudah disiram dengan embun cinta dari setiap ucapan calon suaminya. Padahal ungkapan perasaan cinta yang kemarin sore saja, masih teringat jelas dalam pikirannya.
"Ah, kalian ini bisanya meracuni otakku saja. Lihat, Soffin ini kan masih kecil. Keburu siang nih. Ayo, kita sarapan dulu." Ucap Soffin, sambil menuang satu centong nasi merah ke piringnya.
Celetukan Soffin itu membuat mereka terkekeh. Tapi sekaligus menyadarkan mereka para orang dewasa, bahwa apa yang diucapkannya memang benar.
"Ayo, buruan ambil makanan. Tidak usah malu-malu." Pak Abas mendekatkan wadah nasi itu ke Thoriq.
Pria itu pun segera menyendok satu centong nasi dan menuang ke piringnya. Lalu mengambil sayur tumis brokoli, udang asam manis, dan kerupuk udang.
Dua kali ia makan di rumah Tsamara. Saat acara lamaran dan pagi ini. Semua cita rasa masakannya, begitu membuatnya kecanduan. Karena sangat lezat.
**
Setelah menghabiskan sarapannya, Tsamara dibantu Farah membersihkan sisa makanan.
"Kak, kamu segera bersiap-siap saja. Biar aku yang mencuci piringnya." Ucap Farah, saat keduanya ada di dapur.
"Kamu kan juga ada kuliah pagi."
"Cuma cuci piring, tidak akan membuatku telat sampai di kampus. Kasian sama Soffin, dia kan ingin menjadi siswa teladan." Kekeh Farah.
"Benar juga apa katamu, Farah." Tsamara juga ikut terkekeh.
"Iya, lagian aku juga tidak enak dengan kak Thoriq. Kalau terlalu lama menunggu kakak. Bisa dilihat dari perilakunya selama ini, dia itu tipe pria yang baik, idaman wanita. Kakak beruntung mendapatkannya. Begitu pula kak Thoriq yang pasti merasa beruntung bisa mendapatkan kak Tsamara."
"Terima kasih ya, Farah. Kamu memang adik yang te ope be ge te." Tsamara memperlihatkan kedua ibu jarinya pada Farah, yang artinya top banget, kemudian berlalu ke kamarnya.
__ADS_1