
Setelah kepergian Soffin, Thoriq dan Tsamara beradu pandang lalu terkikik geli. Karena menyadari hal absturd yang baru saja mereka lakukan.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, kak. Aku kan memang sudah halal untukmu. Lakukan saja sekarang."
"Itu." Thoriq menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka.
"Aku takut tiba-tiba Soffin datang lagi. Kita makan dulu saja. Siapa tahu kita butuh asupan gizi yang banyak sebelum mulai proses produksi."
Tsamara menundukkan wajahnya yang kembali bersemu merah karena malu. Lalu perlahan menganggukkan kepalanya.
Pasangan suami-istri itu merapikan perlengkapannya. Setelah itu berjalan bersama menuju ruang makan.
Namun wajah keduanya kembali menghangat, ketika mendengar Soffin tengah mengadukan hal yang baru saja keduanya lakukan pada papa dan Farah.
Farah yang menyadari kedatangan kakaknya, sengaja berdehem agar Soffin berhenti membicarakan pasangan pengantin baru.
"Eh, aku mau sambal goreng ati dong. Soffin, itu bantuin ambil." Farah menunjuk sayur yang berada di dekat adiknya. Soffin berhenti berkata dan segera mendekatkan sambal goreng ati pada Farah.
Karena Tsamara dan Thoriq sudah berada di ruang makan, dan Farah juga sudah mengetahui kehadirannya, maka mau tidak mau keduanya akhirnya mendekati keluarganya untuk menikmati makan malam bersama.
Tsamara duduk di dekat Farah, sedangkan Thoriq duduk di dekat papa mertuanya dan berhadapan juga dengan istrinya.
"Tsamara, ambilkan makanan untuk suamimu." Titah pak Abas.
Tsamara sejenak beradu pandang dengan suaminya. Lalu mengambil piring di hadapannya dan mengambilkan nasi. Tak lupa ia menawarkan beberapa sayur dan lauk padanya.
"Ambil yang banyak. Untuk tenaga bertarung nanti."
"Papa!" Ucap Tsamara dan Farah kompak. Sedangkan Thoriq tampak meringis.
__ADS_1
"Bertarung apa?" Soffin yang tak tahu apa-apa, bertanya dengan polosnya.
"Em-maksud papa, kakak akan melihat pertandingan tarung di televisi." Pak Abas garuk-garuk kepala.
Ia sengaja berbohong dengan memberi alasan lain pada anak bungsunya. Untung saja Soffin tidak banyak bertanya lagi, dan menikmati makanannya.
Mereka berlima menikmati hidangan makan malam sambil sesekali bertukar cerita. Hingga tak terasa waktu mulai beranjak malam, dan makanan mereka pun sudah masuk ke perut sejak tadi.
Mereka kembali ke kamar masing-masing. Sedangkan Tsamara berniat membantu Farah membersihkan piring. Namun gadis itu menolaknya.
"Tidak usah saja, kak. Buruan ke kamar sana, pasti sudah ditunggu sama kak Thoriq." Goda Farah.
"Ish, kamu apaan sih. Awas ya kalau nanti kamu menikah, bakal kakak godain yang lebih." Tsamara memercikkan air ke arah adiknya dan segera berlalu pergi.
"Itu masih lama. Farah ingin kuliah dulu."
"Hati-hati, ucapan adalah doa. Kalau lama beneran bagaimana?"
"It's Okay. Yang penting dapat suami baik hati seperti, kak Thoriq." Farah terkekeh geli.
Saat sudah berada di depan kamar, Tsamara membuka pelan pintunya dan melihat Thoriq sedang duduk di tepi ranjang.
"Kenapa pelan-pelan buka pintunya?" Tanya Thoriq, sambil menatap ke arah Tsamara.
"Em, aku pikir kakak sudah tidur." Tsamara tersenyum tipis.
"Belum lah. Aku sengaja nungguin kamu."
"Nungguin aku?" Tsamara menunjuk batang hidungnya sendiri, sambil menyunggingkan senyum sumringah.
"Iya, kita sembahyang dulu. Habis itu tidur."
__ADS_1
"Tidur?" Ulang Tsamara dengan raut wajah penuh tanda tanya. Tapi meskipun begitu, ia menurut juga. Akhirnya ia berpamitan ke kamar mandi untuk mensucikan diri.
Setelah selesai sembahyang, keduanya pindah ke tempat tidur. Tsamara berniat memasukkan tubuhnya ke selimut, karena ia masih malu jika mengingat kejadian tadi.
Namun tiba-tiba saja Thoriq memeluknya dari belakang, sehingga membuat Tsamara terkejut. Sesaat gadis itu menahan nafas, karena merasa speechless.
"Sekarang, inilah saat yang pas bagi kita untuk mencetak generasi penerus bangsa." Bisik Thoriq tepat di telinga Tsamara. Membuat gadis itu merasakan gelenyar aneh dan dadanya seketika berdebar kencang.
Memang benar Tsamara ingin segera menikah. Memiliki suami dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, seperti pasangan yang lainnya.
Bahkan sejak jauh-jauh hari, ia sudah berjanji akan membaktikan seluruh jiwa dan raganya pada suaminya. Ia akan melayani apapun keinginan suaminya dengan baik. Termasuk soal ranjang.
Walaupun kata banyak orang, malam pertama itu akan terasa sangat menyakitkan, tapi Tsamara siap. Tadi ia juga sudah siap untuk menjalankan kewajibannya.
Tapi pada kenyataannya, kini setelah Thoriq mendatanginya, justru rasa takut karena sakit mulai menyerang dirinya.
Apalagi sekarang tangan Thoriq yang masih melingkar di perutnya, justru mulai membelainya dengan lembut. Tsamara memejamkan matanya, karena semakin nervous apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kapan kamu ingin memiliki anak?" Bisik Thoriq.
"Em, kenapa kakak bertanya seperti itu?" Lirih Tsamara sambil membuka matanya, tapi belum berani menatap suaminya.
"Aku akan menunaikan kewajiban ku, saat kamu benar-benar siap memiliki anak."
"Jika aku ingin setahun atau dua tahun lagi untuk memiliki anak. Apa kakak akan menuruti ku?" Tsamara membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya lekat.
"Tentu saja. Kenyamanan mu lebih penting. Janin yang tumbuh di dalam perut seorang ibu yang baik dan bahagia, pasti juga akan bahagia."
"Masa sih, kakak bisa menahan selama itu?"
"Bisa, tapi kita tidurnya terpisah." Kekeh Thoriq.
__ADS_1
"Menurutku sedikasihnya saja kak. Lebih cepat atau sedikit lambat, juga tidak apa-apa."
Thoriq mengulas senyum, lalu mengucapkan terima kasih.