Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
126. Keluarga Ajaib


__ADS_3

Tak lama kemudian setelah menu main course selesai di hidangkan, kini tiba menu penutup yang dihidangkan.


Es krim dengan taburan aneka buah yang melimpah di tambah taburan meses warna warni, dan di bungkus roti yang paling lembut berbentuk mangkuk.


Sangat sayang untuk di makan, tapi jika di makan akan membuat banyak orang ketagihan. Karena menghasilkan cita rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


'Lumayanlah makan yang adem-adem, di saat hati ini begitu kepanasan karena melihat mereka berdua berfoto.' batin Olive dan Anggara dalam waktu yang bersamaan. Lalu keduanya minta tambah es krim lagi.


Meskipun keduanya tengah menjadi sorotan beberapa orang tamu undangan di sekitarnya, tetap saja keduanya tidak memperhatikan.


Kini satu persatu acara telah di lewati. Hingga akhirnya tibalah di penghujung acara. Para tamu undangan bangkit berdiri dan menyalami keluarga pengantin.


"Ayo, kita bersalaman dengan mereka." Ajak Anggara pada Olive, yang masih duduk santai sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


"Malas ah. Kamu saja."


"Hei, kenapa kamu malas-malasan seperti itu sih. Aku sebagai pihak yang di tinggal menikah saja tidak malas. Nah kamu, bukan apa-apanya sudah malas seperti itu. Apa kamu cemburu?"


"Ah, bicara denganmu membuatku semakin pusing kepala. Ya sudah, kalau gitu kita tunggu dulu sampai antrian habis. Aku tidak mau capek-capek untuk mengantri."


Anggara menoleh pada antrian panjang yang sedang menyalami keluarga pengantin. Lalu menganggukkan kepalanya ke arah Olive.


"Okay, aku turuti ucapan mu."


"Katanya malas datang, tahunya datang juga. Malah nambah makan pula."


Anggara dan Olive menoleh bersamaan, dan terkejut ketika melihat kedua orang tuanya, sudah ada di belakang mereka sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Padahal pak Anwar dan istrinya tadi juga sempat minta tambah jatah makan. Tapi bisa-bisanya keduanya berbicara seperti itu pada anak dan menantunya.


"Mama, papa." Ucap Olive dan Anggara bersamaan.


"Kok tahu sih, kalau kami duduk di sini?" Tanya Anggara.

__ADS_1


"Sangat mudah mengendus di mana keberadaan kalian." Balas pak Anwar jumawa.


"Tidak usah menanggapi papa dan mama mu. Ayo buruan pulang. Tuh, sudah lumayan sepi antriannya." Olive menunjuk antrian tamu yang tinggal beberapa saja, sedang menyalami keluarga Tsamara.


Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Anggara menurut saja dengan perkataan Olive. Keduanya berjalan menuju pasangan pengantin baru yang masih sibuk menyalami tamu.


Namun saat berjalan mendekat, Olive tiba-tiba berhenti.


"Mas, mungkin karena kekenyangan perutku jadi sakit. Aku duluan ya. Titip salam saja buat mereka." Olive pura-pura memegang perutnya sambil meringis.


"Ya sudah, pergi sana. Malu-maluin saja." Anggara geleng-geleng kepala, melihat Olive kentut beberapa kali.


Tapi ia juga merasa tidak enak jika bersalaman dengan keluarga pengantin sendirian. Akhirnya ia menunggu kedua orang tuanya agar bisa bersamaan dengan mereka.


"Kemana dia?" Tanya pak Anwar, sambil menatap Olive yang berlalu pergi.


"Kebanyakan makan, jadinya ya seperti itu." Balas Anggara jutek.


"Ayo, papa duluan yang bersalaman."


"Karena papa kepala keluarga." Sahut Anggara dan mama bersamaan.


Mau tak mau akhirnya pak Anwar berjalan duluan. Dengan sombongnya ia mengulurkan tangannya pada pak Abas tanpa menatapnya.


"Sebagai kawan yang baik, aku terpaksa datang memenuhi undangan dari mu. Ini aku juga ada sedikit angpao untukmu, buat tambah-tambah bayar biaya pernikahan ini." Pak Anwar menyelipkan amplop tipis pada pak Abas. Namun papa dari Tsamara itu, tetap menerimanya dengan senyuman.


"Terima kasih atas kedatangan kalian sekeluarga. Aku sangat senang sekali, kalian bisa menjadi saksi hari bahagia anakku. Kenapa masih repot memberi amplop kepada kami."


"Tahu saja aku repot, tapi tidak apa-apa lah. Ya sudah, aku pulang dulu."


Setelah bersalaman dengan dengan pak Abas, pak Anwar bersalaman dengan kedua mempelai.


"Siap-siap bangkrut setelah ini." Bisiknya ketika bersalaman dengan Thoriq. Namun pemuda itu justru malah mengulas senyum.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang bangkrut, pak. Karena seluruh biaya pesta pernikahan ini saya yang menanggungnya dengan sukarela. Kebetulan omset penjualan perusahaan saya meningkat pesat beberapa bulan ini."


Pak Anwar tidak bisa berkata lagi, selain hanya mencibirkan bibirnya dan segera berlalu pergi.


Lalu Bu Ani juga bersalaman dengan keluarga pak Abas. Seperti halnya suaminya, ia bersalaman dengan angkuhnya, tanpa mengucapkan doa yang terbaik untuk kedua mempelai.


Kini tiba giliran Anggara yang bersalaman. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Meskipun sudah pernah menorehkan luka, tetap saja ia bersikap angkuh saat bersalaman.


"Selamat ya, om. Akhirnya anak om laku juga."


"Tentu saja anak om, laku. Dia memang seperti barang limited edition, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membelinya dengan harga tinggi."


Niat hati ingin menjatuhkan, Anggara justru skak mate mendengar balasan papa Tsamara. Pria itu pun segera beralih bersalaman dengan Tsamara.


"Tidak banyak kata yang ingin aku ucapkan, selain selamat menempuh hidup baru. Jika suamimu tidak bisa mencintaimu dengan sepenuh hati, larilah ke rumahku."


"Ogah, capek tahu lari ke rumahmu. Orang jarak rumah kita cukup jauh." Balas Tsamara dengan nada manja, keluarganya yang mendengarnya terkekeh geli.


"Kalau kamu capek, bisa lah aku jemput." Tawar Anggara lagi tanpa malu.


"Tidak usah banyak menggombal, urusin saja istrimu. Di mana dia, kenapa tidak ikut?"


Tsamara pura-pura celingukan mencari Olive, padahal ia tahu jika tadi istri Anggara itu kabur duluan.


Setelah bersalaman dengan Tsamara, kini tibalah Anggara bersalaman dengan Thoriq.


"Aku siap menggantikan mu, jika sewaktu-waktu kamu berubah pikiran."


"Tenang saja. Aku bukan tipe laki-laki yang plin-plan seperti dirimu. Kalau sudah punya satu ya sudah cukup, tidak akan lirik sana sini lagi."


"Aku kan hanya menawarkan, kalau tidak mau ya sudah." Anggara berlalu pergi.


Keluarga Tsamara memandang kepergian keluarga Anggara dengan gelengan kepala dan kekehan kecil. Mereka tidak habis pikir, bisa bertemu dan berkawan dengan keluarga yang ajaib seperti mereka.

__ADS_1


Namun di balik itu semua, mereka tetap mengucapkan syukur. Karena dengan jalan itu Tsamara akhirnya bisa menemukan laki-laki yang baik hati seperti Thoriq.


__ADS_2